Investasi EBT Berkualitas: Dana Melimpah, Aturan Diperketat
- Dana JETP naik jadi Rp368 triliun, sinyal positif bagi EBT. IESR dukung langkah tegas pemerintah cabut izin pengembang nakal demi standar ESG berkualitas.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Ledakan optimisme mewarnai sektor energi terbarukan Indonesia di awal tahun 2026 ini. Komitmen pendanaan Just Energy Transition Partnership atau JETP dipastikan melonjak tajam menjadi US$21,8 miliar, atau setara dengan angka fantastis Rp368 triliun.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengonfirmasi kenaikan komitmen dari sebelumnya US$21,4 miliar. Hal ini menjadi bukti tingginya kepercayaan mitra internasional, khususnya Jerman, terhadap keseriusan transisi energi Indonesia yang kini dinilai semakin matang dan terarah .
Di tengah derasnya aliran dana jumbo tersebut, pemerintah juga menunjukkan nyali dengan menindak tegas pengembang nakal. Pencabutan izin proyek yang melanggar aturan lingkungan menegaskan bahwa Indonesia kini hanya menerima investasi "naik kelas" dengan standar keberlanjutan atau ESG tertinggi.
1. Banjir Dolar untuk EBT
Pria yang akrab disapa Airlangga itu pun merinci bahwa komitmen pendanaan JETP kini meningkat tajam menjadi US$21,8 miliar. Angka ini memberikan ruang fiskal yang luas bagi akselerasi proyek hijau nasional, di mana realisasi hingga Januari 2026 telah mencapai US$3,4 miliar atau setara Rp57,39 triliun.
Realisasi pencairan dana ini mencerminkan sebuah kemajuan nyata dari kesepakatan yang telah dibangun bersama mitra internasional global. Dukungan finansial ini sangat krusial untuk mempercepat pensiun dini pembangkit listrik tenaga uap serta membangun infrastruktur energi bersih baru di nusantara.
Pemerintah sangat mengapresiasi dukungan berkelanjutan dari pemerintah Jerman dan seluruh mitra IPG yang dipimpin bersama oleh Jepang. Kolaborasi strategis ini diharapkan dapat menjaga momentum transisi energi Indonesia agar tetap sesuai target Net Zero Emission yang telah ditetapkan sebelumnya.
2. Fokus Hijau di Sulawesi
Optimisme ini ditandai dengan peluncuran program unggulan Green Energy Corridor Sulawesi atau GECS yang didukung penuh Jerman. "Kedua program ini merupakan hasil kolaborasi erat antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Jerman," kata Airlangga dalam keterangan resminya, akhir pekan lalu.
Program strategis ini mendapatkan dukungan pembiayaan pinjaman konsesional senilai 300 juta Euro melalui kerja sama PT PLN (Persero). Fokus utamanya adalah penguatan infrastruktur transmisi listrik di wilayah Sulawesi untuk mendukung integrasi energi terbarukan dalam skala yang lebih besar.
Koridor energi hijau ini juga akan menopang ekosistem industri kendaraan listrik yang sedang digenjot pemerintah saat ini. Ketersediaan listrik bersih yang andal menjadi kunci untuk menarik lebih banyak investasi asing masuk ke kawasan industri strategis tersebut nanti.
3. Obligasi Hijau Merekah
Program kedua yang tak kalah penting adalah Green Bond Development Facility atau GBDF untuk memperkuat sektor keuangan hijau. Airlangga menegaskan kerja sama ini, "Mencerminkan kemitraan strategis yang kuat serta kepercayaan bersama dalam mendorong transisi energi yang berkelanjutan."
Program kemitraan berbasis hibah ini bertujuan memperkuat ekosistem pembiayaan hijau melalui pengembangan pasar obligasi berkelanjutan di pasar modal domestik. Airlangga meyakini langkah ini akan meningkatkan kualitas dan kredibilitas penerbitan surat utang berwawasan lingkungan di mata investor global.
Penguatan infrastruktur pasar ini diharapkan mampu memperluas sisi permintaan dan pasokan investasi berkelanjutan di Indonesia ke depannya nanti. Dengan adanya standar yang lebih jelas, minat investor untuk membeli instrumen keuangan hijau Indonesia dipastikan akan semakin meningkat secara signifikan.
4. Seleksi Alam
Institute for Essential Services Reform atau IESR menilai langkah pemerintah mencabut izin usaha PT North Sumatra Hydro Energy justru membawa angin segar. Langkah penertiban terhadap pengembang nakal di Batang Toru ini dianggap penting untuk menjaga integritas proyek energi hijau.
Tindakan tegas terhadap pelanggar aturan lingkungan mengirimkan sinyal positif bahwa Indonesia serius menerapkan standar ESG yang ketat bagi seluruh pengembang. Jika alasannya jelas karena pelanggaran lingkungan, hal ini akan menguntungkan kompetisi bisnis yang sehat di sektor energi terbarukan.
IESR berpendapat bahwa investor bonafide akan merasa lebih terlindungi dengan langkah tegas pemerintah tersebut. Pemerintah dinilai berani menindak oknum pengembang yang bekerja asal-asalan dan merugikan reputasi industri hijau, sehingga pasar hanya diisi oleh pemain yang kredibel dan bertanggung jawab.
5. Masa Depan ESG Cerah
Lembaga think tank energi tersebut menekankan bahwa penegakan hukum konsisten memastikan hanya perusahaan berkualitas tinggi yang beroperasi. Standar Environmental, Social, and Governance atau ESG yang tinggi kini menjadi syarat mutlak, bukan sekadar pelengkap administrasi dalam proyek energi hijau.
IESR mengingatkan transparansi tetap menjadi kunci agar keputusan pencabutan izin tidak disalahartikan sebagai ketidakpastian regulasi. Pemerintah harus membuktikan langkah ini murni penegakan hukum demi keselamatan rakyat, bukan sekadar reaksi sesaat akibat tekanan publik pasca bencana alam di wilayah tersebut.
Masa depan investasi EBT Indonesia dengan seleksi alam yang ketat ini diprediksi akan semakin cerah dan berkelanjutan. Dukungan dana JETP yang besar ditambah pengawasan lingkungan yang ketat adalah kombinasi sempurna untuk mewujudkan transisi energi yang adil dan bertanggung jawab.

Alvin Bagaskara
Editor
