Tren Inspirasi

Raihan, Siswa SMP yang Berhasil Ubah Kulit Bawang Jadi Tinta

  • Raihan menyusuri pasar dan permukiman di Surabaya, menggandeng 25 mitra, dan mengolah 3,12 ton kulit bawang putih.
raihan-jouzu-kupangput-9.jpg
Raihan Jouzu (Tunas Hijau ID)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Persoalan sampah organik masih menjadi tantangan di banyak daerah, terutama limbah dapur yang kerap dianggap tak bernilai. Namun, anggapan itu dipatahkan oleh Raihan Jouzu Syamsudin, siswa SMP Negeri 57 Surabaya, yang berhasil mengolah kulit bawang putih menjadi tinta spidol ramah lingkungan dengan nilai guna dan ekonomi.

Melansir informasi dari akun Instagram @infarm.id, Raihan berhasil mengumpulkan 3 ton kulit bawang di sekitar pasar dan sekolah. Siswa yang lahir pada tahun 2011 ini, berhasil meraih Juara 2 Duta Lingkungan Hidup. Berangkat dari keprihatinan terhadap limbah rumah tangga yang melimpah, Raihan melihat potensi tersembunyi pada kulit bawang putih yang selama ini hanya dibuang atau dijadikan kompos. 

“Rasanya kok eman bila kulit bawang putih dicampur dengan sampah organik lainnya,” kata Raihan. 

Melalui serangkaian percobaan, ia menemukan bahwa kulit bawang putih dapat diolah menjadi pigmen alami berwarna gelap yang cocok digunakan sebagai bahan dasar tinta. Sebelum memulai produksi tinta, Raihan lebih dulu fokus mencari pasokan bahan baku.

Menjelang keikutsertaannya dalam ajang Penganugerahan Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup 2024, ia melakukan penelusuran ke sejumlah pasar tradisional di Surabaya untuk menemukan sumber limbah kulit bawang putih.

Pada empat bulan awal pengerjaan, Raihan sempat mengalami penurunan motivasi karena jumlah kulit bawang putih yang terkumpul baru sekitar 300 kilogram. Jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan minimal 1.000 kilogram yang harus dipenuhi agar proyeknya bisa melaju ke tahap akhir, terlebih bobot kulit bawang putih tergolong sangat ringan sehingga membutuhkan volume yang besar.

Meski begitu, Raihan tetap berupaya melanjutkan pencarian hingga akhirnya menemukan lebih banyak lokasi penghasil limbah tersebut. Ia mengaku keberhasilannya tidak lepas dari sikap pantang menyerah. Seiring berjalannya waktu, Raihan menemukan pasar-pasar lain serta lingkungan permukiman yang rutin menghasilkan kulit bawang putih dalam jumlah besar.

Dari pengembangan jaringan tersebut, ia kini memiliki sekitar 25 mitra penyuplai, termasuk kampung-kampung warga. Melalui kerja sama itu, total kulit bawang putih yang telah berhasil diolah mencapai sekitar 3,12 ton. Dengan jumlah mitra yang cukup banyak, Raihan harus membagi waktu untuk mendatangi mereka hampir setiap hari.

Kondisi di lapangan pun beragam. Ada beberapa mitra yang sudah menyiapkan kulit bawang putih dalam wadah, tetapi tidak sedikit pula yang mengharuskannya mengumpulkan sendiri sisa kulit bawang tersebut satu per satu.

Dari kerja sama tersebut, ia berhasil mengumpulkan sekitar 3,12 ton kulit bawang putih sebagai bahan baku utama. Limbah tersebut kemudian melalui tahapan pengeringan, pemanggangan, dan pengolahan lanjutan hingga menghasilkan pigmen hitam yang stabil.

Pigmen tersebut selanjutnya dicampur dengan bahan pengikat agar memiliki daya lekat yang baik dan dapat digunakan pada media tulis seperti papan tulis putih. Hasilnya adalah tinta spidol yang fungsional, aman, dan lebih ramah lingkungan karena berbasis limbah organik.

Menurut rihan, kulit yang terlalu lembap atau rusak tidak digunakan untuk pigmen, melainkan diolah kembali menjadi produk turunan seperti eco-enzyme dan sabun cair, sehingga hampir tidak ada limbah yang terbuang percuma.

Produk tinta spidol hasil inovasinya diberi nama Kubangput Ink. Inovasi ini tidak hanya menjadi solusi pengelolaan sampah, tetapi juga membuka peluang usaha berbasis lingkungan. Melalui inovasi tersebut, Raihan berharap semakin banyak generasi muda yang terdorong untuk melihat limbah sebagai sumber daya, bukan sekadar masalah. Ia juga berencana mengembangkan produk serupa dengan memanfaatkan jenis limbah organik lain agar manfaat lingkungan dan ekonominya dapat dirasakan lebih luas.