Pohon Bisnis Oesman Sapta Odang, dari Properti Hingga Tambang
- Oesman Sapta Odang membangun OSO Group dengan bisnis lintas sektor, mulai properti, energi, tambang, jasa keuangan hingga rumah sakit. Ini daftar perusahaannya.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Nama Oesman Sapta Odang atau yang lebih dikenal dengan singkatan OSO selama ini lebih sering muncul dalam pemberitaan politik.
Pengusaha kelahiran Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, 18 Agustus 1950 itu pernah menjabat sebagai Ketua DPD RI periode 2017–2019, Wakil Ketua MPR RI, serta Ketua Umum Partai Hanura.
Di luar aktivitas politiknya, OSO merupakan salah satu pengusaha nasional yang telah membangun kerajaan bisnis lintas sektor selama puluhan tahun. Perjalanan bisnis Oesman Sapta Odang dimulai jauh sebelum terjun ke dunia politik.
Berbekal pengalaman sebagai pengusaha di Kalimantan, ia perlahan mengembangkan jaringan usaha yang kemudian bernaung di bawah OSO Group. Konglomerasi tersebut resmi dikonsolidasikan pada tahun 2000 melalui pendirian PT Citra Putra Mandiri sebagai perusahaan induk.
Ekspansi bisnis OSO tidak hanya terkonsentrasi pada satu industri. Grup ini memiliki portofolio di sektor properti, jasa keuangan, transportasi penerbangan, pertambangan, energi, perkebunan kelapa sawit, perikanan, manufaktur percetakan keamanan, kesehatan, hingga bisnis pendukung seperti SPBU, hotel, pusat olahraga, dan air minum dalam kemasan.
Majalah Globe Asia pada 2016 bahkan memperkirakan kekayaan Oesman Sapta Odang mencapai US$350 juta, menempatkannya sebagai salah satu dari 150 orang terkaya di Indonesia pada saat itu.
Pohon Bisnis Oesman Sapto Odang
Pilar utama bisnis properti
Salah satu perusahaan publik dalam jaringan bisnis Oesman Sapta Odang (OSO) adalah PT Citra Putra Realty Tbk (CLAY). Perseroan bergerak di bidang pengembangan properti, perhotelan, dan penyewaan properti.
Berdasarkan keterbukaan informasi perusahaan, Oesman Sapta Odang tercatat sebagai Ultimate Beneficial Owner (UBO) atau pemilik manfaat akhir.
PT Citra Putra Realty didirikan pada 2009 dan resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2019 melalui penawaran umum perdana saham (IPO). Perseroan menawarkan saham perdana dengan harga Rp180 per saham dan menghimpun dana sekitar US$6,7 juta.
Dalam portofolionya, CLAY memiliki sejumlah aset properti dan perhotelan, di antaranya The Stones Entertainment Center, The Stones Hotel Legian Bali, serta Clay Hotel Thamrin Jakarta.
Berdasarkan laporan keuangan, pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp19,39 miliar pada 2021. Nilai tersebut meningkat menjadi Rp126,23 miliar pada 2022, kemudian naik menjadi Rp224,56 miliar pada 2023 dan Rp230,63 miliar pada 2024.
Sepanjang 2025, pendapatan tercatat sebesar Rp142,03 miliar, sedangkan pada periode trailing twelve months (TTM) hingga Maret 2026 mencapai Rp151,17 miliar.
Baca juga : Pohon Bisnis Keluarga Riady: Dari Bank, RS Sampai Properti
Dari sisi profitabilitas, perseroan membukukan rugi bersih sebesar Rp74,80 miliar pada 2021 dan rugi Rp40,93 miliar pada 2022. CLAY kembali mencatatkan laba bersih sebesar Rp6,69 miliar pada 2023 dan meningkat menjadi Rp7,05 miliar pada 2024.
Sepanjang 2025, laba bersih tercatat sebesar Rp4,86 miliar, sedangkan pada TTM hingga Maret 2026 mencapai Rp12,88 miliar.
Laba kotor perseroan tercatat sebesar Rp57,15 miliar pada 2025 dan meningkat menjadi Rp66,74 miliar pada TTM Maret 2026. Sementara itu, laba operasi naik dari Rp9,57 miliar pada 2025 menjadi Rp17,83 miliar pada TTM hingga Maret 2026.
Terlibat di sektor energi melalui perusahaan publik
Selain properti, OSO juga memiliki eksposur pada sektor energi melalui perusahaan publik PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Berdasarkan laporan keuangan 2025, ENRG membukukan pendapatan sebesar US$498,13 juta, naik sekitar 6,6% dibanding tahun sebelumnya yang sebesar US$467,43 juta.
Laba operasi meningkat menjadi US$154,76 juta, dibanding US$124,11 juta pada 2024. Sementara laba bersih tumbuh sekitar 21,4% menjadi US$91,53 juta, dibanding US$75,40 juta pada tahun sebelumnya.
Kinerja neraca juga mengalami pertumbuhan. Total aset meningkat dari US$1,58 miliar pada 2024 menjadi US$1,82 miliar pada 2025. Total liabilitas naik dari US$926,12 juta menjadi hampir US$1 miliar, sementara ekuitas meningkat menjadi US$822,74 juta.
Meski mencatat pertumbuhan laba yang cukup konsisten, perusahaan masih menghadapi tantangan likuiditas. Auditor mencatat adanya risiko terkait keberlangsungan usaha (going concern) akibat kondisi aset lancar yang lebih rendah dibanding kewajiban jangka pendek.
Bisnis jasa keuangan
Di sektor jasa keuangan, OSO Group pernah memiliki PT OSO Sekuritas Indonesia, yang kini berganti nama menjadi PT Sukadana Prima Sekuritas.
Perusahaan ini awalnya berdiri pada 1988 dengan nama PT Kapita Sekurindo dan bergerak sebagai penjamin emisi efek serta perantara pedagang efek. Pada masa operasionalnya, perusahaan memiliki jaringan sekitar 24 kantor cabang yang tersebar di Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, hingga Sulawesi.
Namun, perjalanan perusahaan mengalami perubahan signifikan setelah Bursa Efek Indonesia mencabut izin keanggotaan perusahaan pada 5 Februari 2021.
Selain itu terdapat PT OSO Manajemen Investasi, perusahaan yang berdiri pada 2004 dan bergerak di bidang pengelolaan investasi termasuk produk reksa dana. Karena merupakan perusahaan tertutup, laporan keuangannya tidak dipublikasikan secara terbuka.
Baca juga : Siapa Penguasa Bisnis Telur Ayam di Indonesia?
Bisnis penerbangan
OSO Group juga masuk ke industri penerbangan melalui Enggang Air Service, perusahaan penyewaan pesawat yang beroperasi di kawasan Lanud Halim Perdanakusuma.
Grup ini juga memiliki PT Enggang Angkasa Sarana (EAS) yang berdiri pada 2008. Perusahaan bergerak di bidang ground handling di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. Klien perusahaan mencakup maskapai Lion Air, Batik Air, Wings Air, Malindo Air hingga layanan penanganan pesawat jet pribadi.
Tambang dan proyek energi bernilai miliaran dolar
Di sektor pertambangan, OSO Group memiliki PT Energy Persada Nusantara yang mengelola konsesi tambang seluas 4.973 hektare di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Grup ini juga pernah mengembangkan proyek besar pembangunan kilang minyak di Batam bersama perusahaan energi asal Azerbaijan, SOCAR. Nilai investasi proyek tersebut diperkirakan mencapai US$4,8 miliar dengan kapasitas produksi sekitar 600 ribu barel minyak per hari.
Proyek tersebut menjadi salah satu rencana investasi energi terbesar yang pernah dikaitkan dengan jaringan usaha OSO.
Baca juga : Melemah Lagi, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini 28 Juli 2026?
Bisnis sawit dan perikanan
Pada sektor agribisnis, OSO Group mengembangkan usaha perkebunan kelapa sawit melalui PT Aria Hijau Alam Lestari yang beroperasi di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
Di sektor perikanan, grup ini memiliki PT Industri Perikanan Sukadana yang mengelola produksi ikan, udang, serta berbagai produk olahan hasil laut di kawasan Pelabuhan Perikanan Teluk Batang, Kabupaten Kayong Utara.
Percetakan dokumen keamanan
Bisnis lain yang jarang terekspos publik adalah PT Citra Media Grafika, perusahaan yang berada di bawah PT BYOC Utama Grafika Sekuriti.
Perusahaan ini diketahui menjadi mitra Badan Intelijen Negara (BIN) dalam pencetakan berbagai dokumen keamanan dengan spesifikasi khusus.
Rumah sakit hingga bisnis pendukung
OSO Group juga merambah sektor layanan kesehatan melalui OSO Hospital Pontianak yang menjadi bagian dari kawasan superblok milik grup di Pontianak. Selain itu, perusahaan juga memiliki rencana pengembangan Rumah Sakit Royal Sukadana sebagai bagian dari ekspansi bisnis kesehatan.
Di luar sektor-sektor utama tersebut, grup juga mengoperasikan sejumlah SPBU, bisnis air minum dalam kemasan, serta OSO Sport Center, kompleks olahraga seluas sekitar satu hektare yang dilengkapi kolam renang, lapangan tenis, hotel berbintang tiga, dan berbagai fasilitas olahraga lainnya.
Sebagian besar perusahaan masih tertutup
Meski memiliki portofolio bisnis yang sangat beragam, sebagian besar perusahaan dalam OSO Group berstatus perusahaan tertutup sehingga tidak diwajibkan mempublikasikan laporan keuangan kepada masyarakat.
Akibatnya, data finansial yang dapat diakses publik relatif terbatas dan sebagian besar hanya tersedia untuk perusahaan yang telah tercatat di Bursa Efek Indonesia seperti PT Citra Putra Realty Tbk (CLAY) serta perusahaan publik sektor energi yang terkait dengan jaringan bisnisnya.
Di sisi lain, berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) terakhir yang disampaikan saat masih menjabat sebagai penyelenggara negara pada 2019, Oesman Sapta Odang melaporkan total kekayaan sebesar Rp472,68 miliar.
Dengan jejak usaha yang membentang dari properti, energi, jasa keuangan, penerbangan, pertambangan, perkebunan, perikanan, manufaktur hingga kesehatan, OSO Group menjadi salah satu konglomerasi nasional dengan diversifikasi bisnis paling luas, meski sebagian besar aktivitas usahanya masih dijalankan melalui perusahaan tertutup yang minim keterbukaan kepada publik.

Chrisna Chanis Cara
Editor
