Melemah Lagi, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini 28 Juli 2026?
- Rupiah melemah 61 poin ke Rp18.070 per dolar AS. Simak pengaruh transisi kepemimpinan Bank Indonesia, sentimen global, dan dampaknya bagi masyarakat.

Chrisna Chanis Cara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID — Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa, 28 Juli 2026.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 61 poin atau 0,34% ke level Rp18.070 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp18.009 per dolar AS.
Sejalan dengan pelemahan rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga dibuka di zona merah. Kondisi ini menunjukkan pelaku pasar masih memilih bersikap hati-hati di tengah meningkatnya ketidakpastian, baik dari faktor domestik maupun global.
Salah satu perhatian utama investor saat ini adalah proses pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia (BI) setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatan Gubernur BI karena alasan pribadi.
Bank Indonesia telah menunjuk Destry Damayanti sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI melalui hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar pada Minggu, 26 Juli 2026.
Pergantian pucuk pimpinan bank sentral maenjadi perhatian pasar karena Bank Indonesia memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, dan menentukan arah kebijakan moneter.
Investor kini menanti kepastian mengenai proses penunjukan gubernur definitif serta keberlanjutan kebijakan stabilisasi yang selama ini dijalankan. Di sisi eksternal, tekanan terhadap rupiah juga masih dipengaruhi oleh kuatnya dolar AS di pasar global.
Pelaku pasar tetap mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), perkembangan inflasi Amerika Serikat, serta dinamika geopolitik yang dapat memengaruhi arus modal ke negara berkembang.
Apa artinya bagi masyarakat? Kembalinya rupiah ke atas level Rp18.000 per dolar AS berpotensi meningkatkan biaya impor jika pelemahan berlangsung dalam waktu yang lebih lama.
Dampaknya dapat dirasakan pada harga bahan baku industri, produk elektronik, hingga sejumlah komoditas yang masih bergantung pada transaksi menggunakan dolar AS.
Namun, pelemahan nilai tukar tidak serta-merta langsung mendorong kenaikan harga barang. Besarnya dampak akan bergantung pada seberapa lama tekanan terhadap rupiah berlangsung serta respons Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.
Bagi investor, perhatian kini tertuju pada proses transisi kepemimpinan Bank Indonesia, arah kebijakan Federal Reserve, dan perkembangan sentimen global. Ketiga faktor tersebut diperkirakan akan menjadi penentu utama arah rupiah dalam beberapa hari ke depan.

Chrisna Chanis Cara
Editor
