Siapa Penguasa Bisnis Telur Ayam di Indonesia?
- Mentan menyebut dua pengusaha menguasai 70% industri ayam dan telur senilai Rp554 triliun. Siapa saja pemain terbesar bisnis telur ayam di Indonesia?

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Industri telur ayam di Indonesia merupakan salah satu sektor pangan strategis dengan nilai ekonomi ratusan triliun rupiah setiap tahunnya.
Di balik pasokan telur yang dikonsumsi jutaan masyarakat setiap hari, terdapat sejumlah perusahaan besar yang menguasai rantai bisnis mulai dari produksi pakan, pembibitan ayam (day old chick/DOC), peternakan ayam petelur, hingga distribusi.
Bahkan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa dua pengusaha menguasai sekitar 70% perputaran uang industri ayam dan telur nasional yang nilainya mencapai sekitar Rp554 triliun.
“Ini industri ayam dan telur nilainya Rp 554 triliun, 70% ini dipegang dua orang,” jelas Andi Amran dalam diklat Persatuan Wartawan Indonesia di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Pertahanan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dikutip Senin, 27 Juli 2026.
Meski tidak menyebutkan identitas kedua pelaku usaha tersebut, pernyataan itu kembali menyoroti tingginya konsentrasi industri unggas nasional yang selama ini didominasi perusahaan-perusahaan terintegrasi.
Lantas, siapa saja pemain terbesar dalam bisnis telur ayam di Indonesia?
Dua Konglomerat Kuasai 70% Industri Ayam dan Telur
Menurut Menteri Pertanian, dominasi tersebut tidak hanya terjadi pada produksi telur, tetapi juga mencakup seluruh rantai bisnis unggas. Mulai dari industri pakan ternak, pembibitan DOC, peternakan ayam pedaging, ayam petelur, hingga distribusi produk unggas berada dalam kendali kelompok usaha besar yang terintegrasi.
Amran menyebut kondisi tersebut membuat peternak rakyat berada dalam posisi yang sulit karena bergantung pada pasokan bibit, pakan, hingga harga yang ditentukan perusahaan besar. Ia bahkan menyebut struktur industri tersebut sebagai bentuk kapitalisme yang membuat ruang usaha peternak mandiri semakin sempit.
Walaupun pemerintah tidak mengungkap identitas dua pengusaha yang dimaksud, sejumlah emiten unggas yang tercatat di Bursa Efek Indonesia menjadi pemain utama dalam industri tersebut, diantaranya sebagai berikut,
1. Charoen Pokphand Indonesia (CPIN)

PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) merupakan salah satu perusahaan unggas terbesar di Indonesia.
Perusahaan yang berdiri sejak 1972 ini adalah bagian dari grup Charoen Pokphand asal Thailand dan dikenal sebagai produsen pakan ternak terbesar di Indonesia. Bisnis CPIN bersifat terintegrasi dari hulu hingga hilir, meliputi,
- produksi pakan ternak,
- pembibitan ayam (DOC),
- peternakan ayam pedaging,
- peternakan ayam petelur,
- pengolahan makanan,
- distribusi produk unggas.
Model bisnis terintegrasi tersebut membuat CPIN memiliki efisiensi tinggi sekaligus pengaruh besar terhadap rantai pasok industri ayam dan telur nasional.
2. Japfa Comfeed Indonesia (JPFA)

Pemain besar lainnya adalah PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA). Perusahaan ini juga memiliki model bisnis yang terintegrasi mulai dari produksi pakan, pembibitan ayam, peternakan, hingga produk pangan olahan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Japfa memperkuat bisnis ayam petelur sebagai salah satu sumber pertumbuhan baru. Salah satu langkah ekspansinya adalah pembangunan kompleks peternakan ayam petelur di Kabupaten Bintan dengan lahan hampir 10 hektare untuk meningkatkan kapasitas produksi telur nasional.
Sebagai salah satu produsen unggas terbesar di Indonesia, JPFA juga menjadi pemasok penting kebutuhan telur komersial maupun industri makanan.
3. Widodo Makmur Unggas (WMU)
Selain dua pemain terbesar tersebut, PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMU) juga terus memperluas bisnis ayam petelur. Perusahaan ini mengembangkan usaha yang mencakup:
- pembibitan,
- penetasan telur,
- produksi DOC,
- peternakan broiler,
- peternakan layer,
- pengolahan hasil unggas.
WMU bahkan menargetkan menjadi produsen telur cage-free terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas sekitar 500.000 ekor ayam petelur pada 2027. Strategi tersebut dilakukan untuk menjawab meningkatnya permintaan telur dari pasar modern dan industri makanan yang mulai menerapkan standar kesejahteraan hewan.
4. Janu Putra Sejahtera (AYAM)
Pemain lain yang terus memperbesar bisnis telur adalah PT Janu Putra Sejahtera Tbk (AYAM). Perusahaan ini menjalankan bisnis peternakan unggas terintegrasi, termasuk produksi telur komersial.
Pada 2026, AYAM mengalokasikan belanja modal sekitar Rp130 miliar untuk memperluas kapasitas ayam petelur sekaligus memperkuat lini pembibitan. Ekspansi tersebut dilakukan guna meningkatkan produksi sekaligus memperkuat posisi perusahaan di industri unggas nasional.
Mengapa Industri Telur Didominasi Perusahaan Besar?
Berbeda dengan peternakan tradisional, industri telur modern membutuhkan investasi yang sangat besar, karena perusahaan harus memiliki beberapa rantai pasok berikut, meliputi:
- pabrik pakan,
- fasilitas pembibitan DOC,
- kandang ayam petelur berskala besar,
- pabrik vaksin,
- rumah potong unggas,
- jaringan distribusi nasional.

Model bisnis yang terintegrasi tersebut memungkinkan biaya produksi menjadi lebih efisien dibandingkan peternak rakyat. Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga menciptakan konsentrasi pasar yang tinggi sehingga peternak kecil sering bergantung pada perusahaan besar untuk memperoleh bibit maupun pakan.
Pemerintah Siapkan Investasi Rp20 Triliun
Untuk mengurangi ketergantungan peternak rakyat terhadap perusahaan besar, pemerintah menyiapkan investasi sekitar Rp20 triliun melalui BPI Danantara. Investasi tersebut akan digunakan membangun ekosistem peternakan milik BUMN yang mencakup,
Tahap pertama
- 12 pabrik DOC,
- pabrik vaksin,
- pabrik pakan ternak.
Tahap kedua
- pembangunan hingga 30 fasilitas tambahan dengan fungsi serupa.
Pemerintah berharap keberadaan industri BUMN dapat menciptakan alternatif pasokan bibit dan pakan sehingga harga lebih stabil dan peternak kecil memiliki daya tawar yang lebih baik.
Dominasi perusahaan besar terjadi di tengah besarnya industri telur nasional. Indonesia saat ini tercatat sebagai produsen telur terbesar ketiga di dunia, berada di bawah Tiongkok dan Jepang.
Produksi telur nasional mencapai sekitar 6,52 juta ton per tahun, atau sekitar 104,17 miliar butir telur setiap tahun. Sentra produksi terbesar berada di Provinsi Jawa Timur, yang memiliki sekitar 136,91 juta ekor ayam petelur atau sekitar 32,2% dari populasi ayam petelur nasional.
Sementara itu, Kabupaten Blitar dikenal sebagai pusat peternakan ayam layer terbesar di Indonesia dan menjadi salah satu penyangga utama pasokan telur nasional.
Meski pemerintah belum mengungkap identitas dua pengusaha yang disebut menguasai 70% perputaran uang industri ayam dan telur nasional, struktur industri menunjukkan bahwa pasar didominasi oleh perusahaan-perusahaan unggas terintegrasi yang memiliki kendali atas seluruh rantai produksi, mulai dari pakan hingga distribusi.
Di antara pemain utama tersebut, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) merupakan dua perusahaan dengan skala usaha terbesar. Sementara PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMU) dan PT Janu Putra Sejahtera Tbk (AYAM) terus memperluas kapasitas di segmen ayam petelur.
Ke depan, langkah pemerintah membangun ekosistem peternakan melalui investasi BUMN senilai Rp20 triliun akan menjadi salah satu faktor yang menentukan apakah struktur industri dapat menjadi lebih kompetitif atau dominasi perusahaan besar tetap berlanjut.

Chrisna Chanis Cara
Editor
