Minyak Melonjak dan Rupiah Melemah Picu Tekanan Pengeluaran
- Lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah menekan rupiah hingga Rp17.000 dan IHSG hampir 5%. Analis memperingatkan dampaknya pada APBN dan daya beli masyarakat.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai memberi tekanan pada pasar keuangan Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan sempat merosot hingga mendekati 5%, sementara nilai tukar rupiah tertekan hingga menyentuh kisaran Rp17.000 per dolar AS.
Lonjakan harga energi global menjadi pemicu utama tekanan tersebut. Kekhawatiran pasar meningkat setelah muncul ancaman gangguan distribusi minyak di kawasan Teluk, terutama Selat Hormuz yang selama ini menjadi salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia.
Bagi generasi muda, dinamika ini tidak sekadar mencerminkan gejolak pasar keuangan. Lonjakan harga energi berpotensi memicu kenaikan harga barang, melemahkan daya beli, serta menekan peluang kerja di tengah meningkatnya biaya operasional perusahaan.
Ancaman Pasokan Minyak dan Selat Hormuz
Gejolak politik di Iran memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global. Ketegangan tersebut berisiko memengaruhi distribusi minyak dari kawasan Teluk, termasuk Uni Emirat Arab dan Arab Saudi yang selama ini menjadi produsen utama energi dunia.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuabi menilai lonjakan harga energi global tidak terlepas dari potensi penurunan produksi dan gangguan distribusi minyak yang dipicu oleh eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
"Nah mengurangi produksi inilah yang membuat apa? Membuat harga minyak mentah dunia, baik yang crude oil maupun grain, ini pun juga melonjak tinggi. Bahkan saat ini di 117 antara crude oil dan grain crude oil," jelasnya dalam keteranganya pada Senin, 9 Maret 2025.
Jika eskalasi militer terus berlanjut, harga energi berpotensi meningkat lebih tinggi. Sebab, sejumlah analis telah memperingatkan bahwa harga minyak dapat menembus level US$200 per barel apabila jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz benar-benar mengalami gangguan operasional.
Dilema APBN dan Anggaran Sosial
Lonjakan harga minyak yang menembus kisaran US$117 per barel juga dinilai berpotensi memberikan tekanan terhadap stabilitas fiskal Indonesia. Harga tersebut jauh melampaui asumsi harga minyak dalam anggaran negara yang selama ini menjadi dasar perhitungan kebijakan fiskal pemerintah.
Ibrahim bilang kondisi tersebut dapat mendorong pelebaran defisit anggaran apabila harga energi global terus bertahan di level tinggi dalam jangka waktu yang lebih panjang. "Tetapi kita melihat bahwa hari ini harga crude oil dan brand crude oil itu di atas 100-117. Artinya apa? Bahwa kemungkinan besar pemerintah akan mengalami deficit anggaran itu 3,6 persen."
Tekanan terhadap anggaran negara berpotensi memengaruhi alokasi belanja pemerintah, termasuk berbagai program kesejahteraan masyarakat yang telah direncanakan sebelumnya. "Artinya apa? Ini yang kemungkinan besar pemerintah akan mengurangi anggaran untuk MBG. Anggaran untuk MBG [Makan Bergizi Gratis]."
Dampak ke Dompet Generasi Muda
Pelemahan nilai tukar rupiah hingga mendekati Rp17.000 per dolar AS berpotensi meningkatkan harga barang impor dan berbagai layanan digital yang bergantung pada mata uang asing. Kondisi ini dapat menambah tekanan terhadap pengeluaran bulanan masyarakat, terutama pekerja muda di perkotaan.
Di sisi lain, pelemahan pasar saham juga dapat menjadi indikator meningkatnya tekanan terhadap dunia usaha. Ketika biaya energi dan bahan baku meningkat, perusahaan cenderung menahan ekspansi maupun perekrutan tenaga kerja baru.
"Kemudian harga-harga semua mengalami pelemahan termasuk rupiah ke Rp17.000. Kemudian indeks harga saham gabungan ini pun juga melemah ya tadinya hampir 5 persen."

Alvin Bagaskara
Editor
