Menakar Peluang Indonesia Raup Kue Sukuk ESG Rp1.176 Triliun
- Pasar sukuk ESG global diproyeksi tembus Rp1.176 triliun pada 2026. Mampukah Indonesia memperbesar pangsa pasar 9%?

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Lanskap pasar keuangan berkelanjutan global kini bersiap menyambut sebuah lompatan eksponensial yang sangat luar biasa. Lembaga pemeringkat kredit internasional Fitch Ratings memproyeksikan nilai obligasi syariah atau sukuk ESG beredar akan menembus angka US$70 miliar pada akhir 2026.
Proyeksi bernilai fantastis atau ekuivalen dengan Rp1.176 triliun tersebut utamanya didorong oleh masifnya kebutuhan pembiayaan kembali. Percepatan target emisi nol bersih di berbagai negara berkembang juga menjadi faktor penentu melonjaknya popularitas instrumen investasi syariah ramah lingkungan tersebut saat ini.
Momentum emas ini tentu menjadi peluang besar bagi Republik Indonesia untuk menarik arus modal asing berkualitas. Berbekal rekam jejak yang mumpuni sebagai pionir penerbitan sukuk hijau, otoritas domestik memiliki modal kuat untuk memperbesar pangsa pasar nasional di kancah global.
1. Lanskap Persaingan Pasar
Saat ini lanskap pasar sukuk berbasis lingkungan dan sosial memang masih terpantau sangat terfragmentasi. Ketika penerbitan instrumen ini melonjak lebih dari 60% menjadi US$18,5 miliar pada 2025, dominasi utama masih dipegang erat oleh banyak negara kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan data terbaru, Arab Saudi sukses memimpin persaingan ketat tersebut dengan menguasai pangsa pasar hingga 33%. Posisi kedua disusul secara ketat oleh negara tetangga Malaysia sebesar 28%, sementara Uni Emirat Arab berada tepat di urutan ketiga dengan porsi 19%.
Indonesia sendiri baru mengamankan porsi 9% dari total pangsa pasar global. Namun, industri syariah ini diyakini akan terus membesar seiring membaiknya ekosistem. "Kami memperkirakan sukuk ESG akan mempertahankan momentum yang kuat pada 2026 didukung regulasi baru," ujar Bashar Al Natoor, Global Head of Islamic Finance, Fitch Ratings dalam keterangannya pada Senin, 16 Februari 2026.
2. Amunisi Kuat Domestik
Jika dibedah dari sisi historis dan penerbitan pemerintah, amunisi Indonesia sejatinya jauh dari kata kerdil. Sebagai negara pionir penerbit instrumen hijau berdaulat pertama di dunia pada 2018 lalu, republik ini memiliki rekam jejak yang sangat impresif dan meyakinkan bagi investor.
Data resmi pemerintah menunjukkan akumulasi penerbitan sukuk hijau global Indonesia sejak 2018 hingga pertengahan 2025 telah menyentuh angka US$7,7 miliar. Nilai fantastis yang ekuivalen dengan Rp123 triliun ini menjadi bukti nyata tingginya minat pemodal internasional terhadap pasar domestik kita.
Posisi ini semakin diperkuat oleh manuver strategis pemerintah pada Juli 2025 yang kembali sukses menerbitkan seri hijau. Instrumen investasi dengan tenor 10 tahun senilai US$1,1 miliar tersebut laku keras dan sukses menyerap likuiditas jumbo dari berbagai investor di belahan dunia.
3. Gairah Investor Domestik
Tidak hanya berprestasi di panggung global, selera investor di pasar domestik rupanya tak kalah agresif. Akumulasi penerbitan instrumen hijau lokal melalui jalur ritel seperti ST013 maupun grosir seri PBSG kini telah menembus angka memukau sebesar Rp66,93 triliun.
Ketertarikan yang tinggi juga menjalar kuat ke sektor swasta atau korporasi. Berdasarkan data terbaru otoritas terkait, nilai efek bersifat utang dan sukuk berwawasan lingkungan yang masih beredar saat ini terpantau stabil berada di kisaran angka nasional Rp54,94 triliun.
Deretan angka fantastis ini secara meyakinkan mengonfirmasi sangat kuatnya minat pasar terhadap instrumen syariah berkelanjutan asal tanah air. Likuiditas melimpah ini menjadi modal berharga korporasi lokal guna melakukan ekspansi bisnis hijau tanpa harus selalu bergantung ke luar negeri.
4. Katalis Suku Bunga Global
Katalis utama yang diyakini akan segera mengakselerasi pasar sukuk ramah lingkungan bersumber dari siklus pelonggaran moneter global. Penurunan suku bunga acuan dunia dipastikan bakal menekan biaya dana penerbitan utang sehingga instrumen ini menjadi jauh lebih atraktif bagi para emiten.
Para analis memproyeksikan tingkat suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat akan merosot ke level 3,25% pada 2026 dan 3% pada 2027. Kondisi makroekonomi ini membuka ruang lebar bagi korporasi dan negara untuk melakukan diversifikasi pembiayaan proyek infrastruktur hijau.
Di mata investor institusional, profil risiko instrumen berbasis syariah ini juga terbukti tangguh menghadapi ketidakpastian ekonomi makro. Berbagai tantangan global sejauh ini belum mampu meruntuhkan fundamental industri. "Risiko greenwashing tetap menjadi tantangan utama, profil kreditnya tetap kuat," tambah Bashar Natoor.
5. Tantangan Regulasi Ganda
Meskipun prospeknya sangat menjanjikan, jalan Indonesia untuk memperlebar pangsa pasar membutuhkan strategi navigasi yang sangat presisi. Kompleksitas mematuhi prinsip syariah sekaligus penyelarasan dengan standar internasional menjadi sebuah arena kontestasi berat tersendiri bagi kesiapan para emiten lokal di bursa.
Ditambah lagi, risiko klaim palsu ramah lingkungan atau greenwashing kini menjadi pertaruhan reputasi yang sangat diawasi ketat oleh pemodal global. Oleh karena itu, manuver regulasi yang strategis dan mendukung iklim investasi hijau sangat mendesak untuk segera diimplementasikan pemerintah.
Langkah progresif Malaysia memberikan insentif pembebasan pajak patut dijadikan referensi. Tanpa daya saing regulasi yang kompetitif dan taksonomi disiplin, triliunan rupiah likuiditas hijau ini hanya akan mengalir deras ke bursa negara tetangga dibandingkan masuk ke pasar modal nusantara.

Alvin Bagaskara
Editor
