Lonjakan Food Waste Saat Lebaran Picu Ancaman Sampah Nasional
- Tradisi hidangan melimpah saat Lebaran memicu lonjakan food waste. Sisa makanan menyumbang hampir 40% sampah nasional dan berpotensi meningkatkan emisi metana.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Tradisi menyajikan hidangan berlimpah saat Idulfitri menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Lebaran di Indonesia. Namun di balik kemeriahan “meja makan Lebaran”, fenomena ini juga kerap memicu lonjakan sisa makanan (food waste) yang berkontribusi besar terhadap timbulan sampah nasional.
Data dari Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa selama masa mudik dan libur Lebaran 2025, potensi timbulan sampah nasional diperkirakan mencapai 73,24 juta kilogram atau sekitar 73,24 ribu ton. Sampah tersebut berasal dari mobilitas sekitar 146,8 juta pemudik di seluruh Indonesia.
Lonjakan ini tidak hanya berasal dari aktivitas perjalanan, tetapi juga dari konsumsi rumah tangga yang meningkat tajam selama perayaan Idulfitri, terutama dari sisa makanan.
Sampah Organik Melonjak Pasca Lebaran
Para peneliti mencatat bahwa jenis sampah yang mengalami kenaikan paling signifikan setelah Lebaran adalah sampah organik, terutama sisa makanan dari rumah tangga.
Pakar lingkungan dari Universitas Muhammadiyah Malang menyebutkan bahwa volume sampah organik pasca-Lebaran dapat meningkat lebih dari 20% dibandingkan hari normal. Hal ini terjadi karena banyak keluarga menyiapkan makanan dalam jumlah besar untuk menjamu tamu.
Masalah food waste sebenarnya bukan fenomena musiman. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan bahwa sepanjang 2024, sisa makanan menyumbang 39,43% dari total 32,8 juta ton timbulan sampah nasional. Pada 2023, angkanya juga hampir sama yakni 39,37% dari total 33,5 juta ton sampah.
Dengan porsi hampir 40%, sisa makanan menjadi penyumbang terbesar sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Indonesia, melampaui plastik, kayu, maupun kertas.
Baca juga : Bentrok Sentimen Perang dan Mudik: Saham Transportasi Salah Harga?
Ancaman Emisi Metana dari Sampah Makanan
Masalah food waste tidak hanya berkaitan dengan volume sampah, tetapi juga berdampak langsung terhadap lingkungan dan perubahan iklim.
Sampah organik yang membusuk di tempat pembuangan akhir tanpa pengolahan yang memadai akan menghasilkan gas metana (CH₄), salah satu gas rumah kaca paling berbahaya. Metana memiliki kemampuan memerangkap panas sekitar 25 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida (CO₂).
Akumulasi gas ini juga berpotensi memicu kebakaran di tempat pembuangan sampah. Sepanjang 2023, tercatat puluhan TPA di Indonesia mengalami insiden kebakaran yang dipicu oleh gas metana dari timbunan sampah organik.
Selain itu, pembusukan sampah juga menghasilkan lindi, yaitu cairan limbah yang terbentuk ketika air hujan bercampur dengan sampah. Lindi dapat merembes ke tanah dan berpotensi mencemari sumber air bersih di sekitar lokasi TPA.
Lonjakan food waste selama periode Lebaran juga menjadi perhatian dalam kerangka ESG (Environmental, Social, and Governance), terutama bagi industri makanan dan minuman (Food & Beverage/F&B).
Konsumsi yang meningkat drastis selama musim liburan seringkali diikuti oleh peningkatan limbah makanan dan kemasan. Kondisi ini menantang komitmen perusahaan F&B dalam mencapai target keberlanjutan, khususnya terkait Sustainable Development Goals (SDG) 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Beberapa perusahaan di sektor ini mulai mengambil langkah untuk mengurangi dampak lingkungan dari operasional mereka.
Dilansir jurnal terbitan universitas pakuan berjudul "Innovations in Packaging Waste Management through Corporate Social Responsibility" salah satu contoh datang dari PT Indofood Sukses Makmur Tbk yang mengembangkan berbagai program pengelolaan limbah melalui pendekatan ekonomi sirkular.
Program seperti Bank Sampah, Green Warmindo, dan Drop Box berhasil mendaur ulang lebih dari 1.000 ton sampah plastik dalam periode 2021–2023.
Selain itu, kolaborasi dengan asosiasi industri seperti PRAISE dan IPRO dilakukan untuk memperkuat ekosistem pengelolaan limbah di sektor pangan.
Baca juga : Prospek Saham GOTO 2026: Incar EBITDA Rp3,4 T Lewat AI dan Fintech
Langkah serupa juga dilakukan oleh Pizza Hut Indonesia melalui program pengelolaan minyak jelantah. Bekerja sama dengan perusahaan energi terbarukan TUKR, jaringan restoran ini mengumpulkan minyak goreng bekas dari lebih dari 200 gerai Pizza Hut Delivery (PHD).
Dalam periode Juni 2024 hingga Mei 2025, program tersebut berhasil mengumpulkan sekitar 31 ton minyak jelantah yang kemudian diolah menjadi biofuel.
Inisiatif ini disebut mampu mencegah emisi karbon hingga 102.827 kilogram CO₂, menjaga kualitas sekitar 31 miliar liter air bersih, serta mengurangi potensi peredaran minyak goreng bekas yang berbahaya bagi kesehatan masyarakat.
Para pakar menilai bahwa persoalan food waste tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah atau industri. Perubahan perilaku konsumen juga menjadi faktor kunci.
Masyarakat dapat mulai dengan langkah sederhana seperti merencanakan jumlah makanan yang disajikan, mengolah kembali sisa makanan, serta memilah sampah organik di rumah.
Sementara itu, perusahaan di sektor F&B didorong untuk memperluas penerapan prinsip Extended Producer Responsibility (EPR), tidak hanya pada kemasan plastik tetapi juga pada limbah operasional seperti minyak jelantah maupun sisa produksi.

Ananda Astri Dianka
Editor
