Ladang Farm: Urban Farming Modern Viral di Jakarta
- Ladang Farm di Jakarta jadi contoh pertanian vertikal modern. Edukasi hidroponik dan agrowisata menarik minat generasi muda ke gaya hidup sehat & produktif.

Maharani Dwi Puspita Sari
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Di tengah dinamika ekonomi urban dan meningkatnya kesadaran akan gaya hidup sehat, model pertanian modern seperti urban farming kini mulai dilirik sebagai peluang bisnis alternatif, terutama oleh generasi muda. Ladang Farm, sebuah pertanian vertikal modern yang berdiri di Cilandak, Jakarta Selatan, berhasil menjadi salah satu contoh gagasan pertanian modern di pusat kota.
Urban farming sendiri mengacu pada praktik bercocok tanam di area perkotaan baik melalui sistem hidroponik, aquaponik, maupun pertanian vertikal yang memaksimalkan efisiensi ruang dan sumber daya. Tempat ini menjadi salah satu agrowisata di Jakarta yang menawarkan pengalaman terbaru dalam berwisata ramah lingkungan.
Untuk berkunjung ke Ladang Farm, pengunjung cukup membar Rp 50.000 per orang ataupun mengikuti kelas edukasi dengn biaya sekitar Rp100.000 - Rp150.000. Dari biaya tersebut, sudah termasuk pengalaman belajar dan boleh memanen sayuran hidroponik untuk dibawa pulang. Pengunjung perlu melakukan reservasi terlebih dahulu melalui link di bio Instagram @ladangfarm.id.
Model Bisnis yang Dikembangkan Ladang Farm
Konsep ini dapat dijadikan referensi bisnis dan menarik minat investor kecil, pelaku usaha mikro, serta komunitas anak muda yang mencari kombinasi antara pendapatan, edukasi, maupun gaya hidup sehat.
Hadirnya Ladang Farm ini, juga menggabungkan beberapa alur bisnis yang saling mendukung, diantaranya adalah:
1. Penjualan Produk Pertanian Lokal

Ladang Farm memproduksi berbagai sayuran hijau dan tanaman herba melalui sistem hidroponik vertikal. Produk ini nantinya dapat dijual kembali kepada konsumen lokal, restoran, kafe, serta toko bahan makanan sehat. Keunggulan sistem ini adalah waktu panen yang relatif cepat,kontrol nutrisi tanaman yang lebih presisi, dan kebutuhan lahan yang minimal dibanding pertanian konvensional.
2. Agrowisata dan Edukasi Berbayar
Agrowisata ini membuka akses bagi publik untuk mengunjungi dan belajar langsung mengenai teknik urban farming. Para pengunjung, akan disuguhkan dengan edukasi yang mencakup dasar hidroponik, perencanaan tanam, pemeliharaan tanaman, hingga panen.
3. Kemitraan dan Kolaborasi Komunitas
Ladang Farm aktif menjalin kerja sama dengan sekolah, komunitas hijau, serta perusahaan yang membutuhkan fasilitas edukasi atau pelatihan karyawan. Model kemitraan ini membuka alur pendapatan baru sekaligus memperluas jangkauan pasar.
4. Penjualan Media Tanam dan Paket Hidroponik

Untuk konsumen yang ingin memulai urban gardening di rumah, Ladang Farm juga dapat menyediakan paket starter hidroponik, bibit tanaman, dan panduan teknis. Cara ini yang menjadi gambaran terkait pertukaran uang di dalam bisnis pertanian modern.
5. Digital Engagement
Kehadiran Ladang Farm tumbuh bersamaan dengan penggunaan media sosial sebagai alat pemasaran. Konten edukatif dan dokumentasi kunjungan para pengunjung, diunggah di platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube untuk menarik perhatian komunitas digital khususnya anak muda.
Ladang Farm menggambarkan bagaimana inovasi pertanian di perkotaan dapat menjadi peluang bisnis yang layak dipertimbangkan generasi muda. Dengan model multi alur pendapatan, fokus pada edukasi, serta dukungan digital engagement, urban farming bukan sekadar tren, tetapi memunculkan kemungkinan usaha yang terpadu antara produksi, pendidikan, dan gaya hidup.

Maharani Dwi Puspita Sari
Editor
