Tren Leisure

Ketika Nilai Hidup Menentukan Pilihan Pasangan

  • Ada pergeseran nilai sosial di anak muda dalam memaknai relasi dan gaya hidup. Relasi kini tak lagi semata dibangun di atas chemistry atau stabilitas ekonomi.
Ilustrasi pasangan anak muda melakukan olahraga lari.
Ilustrasi pasangan anak muda melakukan olahraga lari. (freepik.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID—Pernyataan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang menyebut perokok sebagai “red flag” dalam relasi asmara sempat viral dan memicu perdebatan publik. Sebagian menilainya terlalu jauh masuk ke ranah personal, sementara yang lain menganggapnya cerminan perubahan cara pandang generasi muda. 

Terlepas dari kontroversinya, pernyataan tersebut menjadi penanda menarik atas pergeseran nilai sosial, khususnya di kalangan Generasi Z dan milenial muda, dalam memaknai relasi dan gaya hidup. Dalam beberapa tahun terakhir, relasi tidak lagi semata dibangun di atas chemistry atau stabilitas ekonomi. 

Kesesuaian nilai hidup (value alignment), mulai dari kesehatan, cara mengelola uang, hingga kepedulian terhadap lingkungan, kian menjadi pertimbangan utama. Inilah yang kemudian dikenal sebagai dating value generasi hijau, sebuah standar relasi yang lahir dari kesadaran iklim, gaya hidup sehat, dan pandangan jangka panjang terhadap masa depan.

Berbagai survei global menunjukkan Generasi Z sebagai generasi paling sadar isu lingkungan. Deloitte Gen Z & Millennial Survey mencatat lebih dari separuh Gen Z merasa cemas terhadap perubahan iklim dan percaya dampaknya akan langsung memengaruhi kualitas hidup mereka. Secara rinci, lebih dari 60% Gen Z merasa cemas terhadap perubahan iklim. 

Adapun sekitar 55–65% Gen Z mempertimbangkan dampak lingkungan dalam keputusan sehari-hari, termasuk konsumsi dan gaya hidup. Kekhawatiran ini tidak berhenti pada pilihan politik atau konsumsi, tetapi merembes hingga ke ranah personal, termasuk dalam memilih pasangan.

Bagi generasi yang tumbuh di tengah krisis iklim, pandemi, dan tekanan biaya hidup, hubungan kerap kali dipandang sebagai keputusan jangka panjang. Isu kesehatan, keberlanjutan, dan kualitas hidup tidak lagi dibicarakan belakangan, melainkan sejak awal relasi. 

Dalam konteks inilah, gaya hidup seseorang sering dibaca sebagai indikator nilai, empati, dan kesiapan menghadapi masa depan. Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z lebih terbuka mendefinisikan diri melalui pilihan hidup sehari-hari. 

Riset dari Nielsen dan IBM menunjukkan sekitar 70% Gen Z lebih tertarik pada individu dan brand yang menunjukkan kepedulian terhadap isu keberlanjutan. Prinsip ini tidak hanya berlaku dalam relasi dengan merek, tetapi juga dalam hubungan personal.

Sementara perilaku tidak sehat seperti merokok makin dipersepsikan sebagai “beban sosial”. Studi WHO dan berbagai riset kesehatan publik menunjukkan bahwa merokok kini lebih sering diasosiasikan dengan health risk dan economic burden, bukan simbol maskulinitas atau kedewasaan.

Di kelompok usia muda perkotaan, stigma terhadap perokok meningkat, terutama dalam konteks hubungan jangka panjang (keluarga, anak, kualitas hidup). Riset menyebut perilaku seperti merokok berisiko “dibayar mahal” oleh Gen Z di masa depan. 

Gaya Hidup Sehat sebagai Modal Sosial Baru

Di ruang-ruang urban, hidup sehat dan sadar lingkungan semakin dilihat sebagai modal sosial baru. Aktivitas seperti olahraga rutin, penggunaan transportasi publik, atau kebiasaan konsumsi yang lebih mindful tidak lagi sekadar pilihan personal, tetapi penanda kelas gaya hidup tertentu.

Survei BPS dan Kemenkes juga menunjukkan penurunan prevalensi merokok pada kelompok usia muda perkotaan tertentu, terutama di kalangan Gen Z terdidik di kota besar. 

Ini menjadi angin segar mengingat Indonesia adalah negara dengan jumlah perokok pria tertinggi di dunia. Riskesdas dan WHO mencatat lebih dari 60% pria dewasa Indonesia merokok.

Dosen Pendidikan Jasmani Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Akhmad Azlan Khoirur Rozikin, menyambut positif fenomena gaya hidup sehat di lingkungan masyarakat. 

Dia menyebut pandemi COVID-19 menjadi titik balik masyarakat makin sadar pentingnya menjaga kesehatan. “Pandemi jadi momentum bangkitnya kesadaran untuk berolahraga,” ujarnya, dikutip dari laman resmi UMS, Kamis 15 Januari 2026.

Akhmad pun sumringah melihat warga yang kini berbondong-bondong berolahraga lari maupun jalan kaki di sela kesibukannya. Menurutnya, jogging semakin dikenal sebagai olahraga yang mudah dilakukan karena dapat dilakukan secara individu. “Lari atau jogging jadi olahraga yang mudah dan murah, cocok untuk kaum urban,” ujar lelaki yang juga sprinter tersebut. 

Organisasi kesehatan global mencatat generasi muda semakin mengaitkan perilaku tidak sehat dengan risiko jangka panjang, baik secara fisik maupun ekonomi. Dalam relasi, kebiasaan yang berpotensi menimbulkan beban kesehatan atau biaya di masa depan kerap dipersepsikan sebagai liability, bukan sekadar preferensi pribadi.

Dosen Fakultas Keperawatan (FKP) Universitas Airlangga (Unair), Ika Nur Pratiwi, mengatakan isu kesehatan menjadi tantangan generasi muda ke depan. Dia mengingatkan pentingnya olahraga mengingat angka prediabetes pada dewasa muda berusia 19 hingga 25 tahun di Jawa Timur menyentuh angka 54,8%. 

“Jika tidak ditangani, sekitar 70% individu dengan prediabetes akan berkembang menjadi diabetes tipe 2 dalam beberapa tahun mendatang,” ujarnya dikutip dari laman resmi Unair. 

Baca Juga: Rokok: Red Flag Asmara, Red Flag Lingkungan

Prediabetes adalah kondisi ketika kadar gula darah seseorang lebih tinggi dari normal, tetapi belum cukup tinggi untuk diklasifikasikan sebagai diabetes melitus tipe dua. Menurut American Diabetes Association (ADA), seseorang dinyatakan mengalami prediabetes jika memiliki kadar glukosa darah puasa (fasting blood glucose) antara 100–125 mg/dL.

Ika menyebut ada sejumlah faktor yang memengaruhi peningkatan angka prediabetes pada dewasa muda. Di antaranya, konsumsi makanan tidak sehat seperti junk food, makanan tinggi gula, kurangnya aktivitas fisik, dan stres yang tinggi. 

Selain itu kurangnya edukasi terkait gejala prediabetes menjadikan kondisi ini tidak disadari banyak orang. “Pola makan dan gaya hidup yang sehat perlu diperhatikan untuk mengurangi risiko prediabetes,” ujarnya. 

Hal ini menjelaskan mengapa pernyataan Menkes tentang rokok mendapat resonansi luas di kalangan anak muda. Bukan karena isu merokok itu sendiri, melainkan karena ia menyentuh kekhawatiran yang lebih besar: kualitas hidup bersama di masa depan.