Tren Ekbis

Kenapa Chip Semikonduktor Jadi Ajang Perang Teknologi?

  • Chip semikonduktor menjadi pusat konflik karena perannya yang krusial dalam ekonomi digital, kecerdasan buatan, hingga sistem pertahanan modern.
Ilustrasi Chip
Ilustrasi Chip (Freepik.com/xb100)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Persaingan Amerika Serikat dan China di sektor semikonduktor telah melampaui perang dagang konvensional dan berubah menjadi pertarungan strategis jangka panjang. 

Chip semikonduktor menjadi pusat konflik karena perannya yang krusial dalam ekonomi digital, kecerdasan buatan, hingga sistem pertahanan modern.

Menurut laporan Reuters, Rabu, 31 Desember 2025, Babak terbaru konflik ini ditandai dengan langkah Beijing yang mewajibkan produsen semikonduktor domestik menggunakan minimal 50% peralatan produksi buatan dalam negeri untuk setiap pembangunan atau penambahan kapasitas pabrik baru. 

Meski belum diumumkan secara resmi, kebijakan tersebut dikonfirmasi oleh tiga sumber yang mengetahui langsung mekanisme aturannya dan dinilai sebagai eskalasi signifikan dalam perang chip global.

Selama puluhan tahun, industri semikonduktor global dibangun di atas rantai pasok lintas negara yang sangat terfragmentasi. 

Amerika Serikat mendominasi desain chip dan perangkat lunak, Eropa dan Jepang menguasai mesin manufaktur presisi, sementara Taiwan dan Korea Selatan menjadi pusat fabrikasi chip paling canggih. 

China selama ini berperan sebagai basis perakitan sekaligus pasar terbesar dunia. Struktur ini mulai terguncang sejak Amerika Serikat menerapkan pembatasan ekspor teknologi secara agresif sejak 2023, termasuk larangan penjualan chip AI berperforma tinggi, mesin litografi, dan peralatan manufaktur tertentu ke China. 

Bagi Beijing, kebijakan tersebut menjadi alarm keras bahwa ketergantungan pada teknologi asing merupakan kerentanan strategis yang dapat menghambat masa depan ekonomi dan keamanan nasional.

Chip sebagai Infrastruktur Kekuasaan

Semikonduktor kini diperlakukan sebagai infrastruktur kekuasaan, bukan sekadar komponen elektronik. Chip menjadi tulang punggung kecerdasan buatan, pusat data, jaringan 5G, komputasi awan, kendaraan listrik, hingga sistem persenjataan modern. 

Hampir seluruh transformasi digital global bergantung pada kemampuan memproses dan menyimpan data yang hanya dapat dilakukan oleh chip. 

Krisis chip global pada periode 2020–2022 menjadi bukti nyata betapa vitalnya peran semikonduktor, ketika kelangkaan pasokan menyebabkan pabrik mobil berhenti beroperasi, harga elektronik melonjak, dan pertumbuhan ekonomi dunia melambat. 

Dalam konteks ini, chip sering disamakan dengan minyak pada abad ke-20 sumber daya strategis yang menentukan posisi sebuah negara dalam tatanan global.

Kewajiban penggunaan 50% peralatan lokal menandai perubahan pendekatan kebijakan industri China yang semakin tegas dan koersif. 

Jika sebelumnya Beijing mengandalkan subsidi, insentif pajak, dan dukungan pembiayaan, kini pemerintah secara langsung memaksa industri untuk menyerap teknologi dalam negeri. 

Produsen chip yang ingin membangun atau memperluas pabrik harus membuktikan melalui proses tender bahwa setidaknya separuh mesin dan peralatan produksinya berasal dari pemasok domestik. 

Kebijakan ini dipandang sebagai langkah paling radikal China sejauh ini untuk mempercepat kemandirian semikonduktor, meski di sisi lain berpotensi menurunkan efisiensi dan meningkatkan biaya produksi dalam jangka pendek.

Efek Domino ke Industri Global

Kebijakan tersebut berpotensi memicu efek domino ke seluruh industri semikonduktor global. Perusahaan pembuat peralatan manufaktur chip dari Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa terancam kehilangan sebagian akses ke pasar China yang selama ini menjadi salah satu sumber pendapatan terbesar mereka. 

Sebaliknya, produsen peralatan lokal China diperkirakan akan mengalami lonjakan permintaan, meskipun masih menghadapi tantangan besar dalam mengejar teknologi presisi tinggi seperti mesin litografi tercanggih. 

Sejumlah analis menilai langkah Beijing dapat mempercepat fragmentasi rantai pasok global, membentuk dua ekosistem teknologi yang terpisah antara blok Barat dan China, dengan standar dan teknologi yang semakin berbeda.

Dengan biaya pembangunan pabrik chip yang bisa menembus lebih dari US$20 miliar per fasilitas, perang chip bukan konflik jangka pendek. 

Perang teknologi ini merupakan perlombaan strategis yang akan berlangsung selama puluhan tahun, dengan taruhan berupa kepemimpinan kecerdasan buatan, dominasi ekonomi digital, dan keseimbangan kekuatan militer global. 

Kebijakan kewajiban 50% peralatan lokal menegaskan bahwa perang chip AS–China telah memasuki fase struktural dan sistemik. Konflik ini bukan lagi soal perdagangan atau ekspor-impor, melainkan pertarungan atas kendali teknologi paling fundamental di dunia modern. 

Dalam era kecerdasan buatan dan digitalisasi total, siapa yang menguasai semikonduktor akan memiliki pengaruh besar atas arah ekonomi dan geopolitik global. China, melalui kebijakan ini, mengirim sinyal jelas bahwa mereka tidak bersedia menyerahkan masa depan teknologinya kepada negara lain.