Tren Pasar

Data IHSG 2025: Saham LQ45 Cuma Naik 2 Persen

  • IHSG 2025 cetak rekor ATH 24 kali, namun saham LQ45 hanya naik 2,41%. Kenaikan pasar ditopang saham lapis dua (Second Liner) yang melonjak 57%.
Aktifitas Bursa Saham - Panji 4.jpg
Pekerja berjalan di depan layar yang menampilkan pergerakan saham di Mail Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta 17 Oktober 2023. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Pasar saham Indonesia mencatatkan kinerja yang sangat kinclong sepanjang tahun perdagangan 2025 yang penuh dinamika. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses ditutup menguat sebesar 22,13% ke level 8.646,94 pada perdagangan terakhir tahun ini. Prestasi ini diwarnai dengan pencatatan rekor tertinggi sepanjang masa sebanyak 24 kali dalam setahun.

Rekor tertinggi atau All Time High (ATH) teranyar IHSG tercapai pada tanggal 8 Desember 2025 di level 8.711. Kinerja impresif ini menempatkan bursa domestik sebagai salah satu pasar dengan pertumbuhan paling atraktif di kawasan regional. Namun di balik angka indeks yang hijau terdapat divergensi kinerja yang sangat tajam.

Kenaikan indeks ternyata tidak ditopang oleh saham-saham unggulan atau blue chips yang biasanya menjadi penggerak utama pasar. Justru lonjakan pasar tahun ini banyak didorong oleh saham lapis kedua dan ketiga yang bergerak sangat agresif. Fenomena ini menciptakan ketimpangan struktural dalam komposisi penyumbang kenaikan indeks bursa.

1. Kesenjangan Indeks Ekstrem

Data bursa menunjukkan bahwa indeks LQ45 yang berisi saham paling likuid hanya mampu naik tipis sebesar 2,41% sepanjang tahun. Bahkan indeks IDX High Dividend 20 yang berisi saham royal dividen justru mencatatkan penurunan kinerja sebesar 0,41%. Saham-saham papan atas terlihat kehilangan tenaga untuk melaju kencang tahun ini.

Sebaliknya indeks IDX SMC Composite yang merepresentasikan saham lapis kedua dan ketiga tercatat melonjak fantastis sebesar 57,28% secara tahunan. Indeks SMC Liquid juga mencatatkan pertumbuhan solid sebesar 18,29% mengalahkan kinerja indeks saham unggulan lainnya. Perbedaan kinerja ini menunjukkan rotasi minat investor yang signifikan ke saham menengah.

Ketimpangan serupa juga terlihat jelas dari sisi papan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia saat ini. Saham di papan utama hanya naik 12,10% sementara papan pengembangan melesat 111,48% dan papan akselerasi meroket 168,81%. "Lonjakan pasar banyak didorong oleh saham lapis kedua dan ketiga," tulis data BEI.

2. Tekanan Eksternal Big Caps

Analis BRI Danareksa Sekuritas Chory Agung Ramdhani menjelaskan dinamika pasar 2025 sebagai reli tanpa napas bagi saham-saham jumbo. Saham berkapitalisasi besar mengalami tekanan berat dari faktor eksternal akibat masifnya arus keluar modal investor asing. Ketidakpastian global menjadi pemicu utama aksi jual bersih pada saham unggulan.

Sentimen negatif datang dari eskalasi perang tarif dagang antara Amerika Serikat dengan negara mitra dagangnya khususnya China. Selain itu kebijakan tingkat suku bunga The Fed dan ketegangan politik di Timur Tengah turut memperburuk situasi pasar. Faktor makroekonomi global ini membuat investor asing menahan diri masuk aset berisiko.

Absennya dana asing membuat saham blue chip kehilangan tenaga utama untuk menopang laju indeks harga saham gabungan. Likuiditas pasar beralih ke saham-saham yang lebih lincah dan digerakkan oleh investor domestik yang agresif. "Saham-saham big caps mengalami tekanan dari faktor eksternal," kata Chory pada Selasa, 30 Desember 2025.

3. Peran Ritel dan Konglomerasi

Partisipasi investor lokal terutama ritel tercatat tetap kuat dalam menopang pergerakan pasar saham sepanjang tahun 2025. Investor ritel cenderung lebih lincah masuk ke saham-saham kapitalisasi menengah yang memiliki tingkat volatilitas harga tinggi. Strategi ini mendorong kinerja indeks SMC melesat jauh melampaui indeks saham berkapitalisasi besar.

Selain itu banyak penggerak indeks tahun ini berasal dari emiten grup konglomerasi yang sedang melakukan ekspansi masif. Sektor hilirisasi hingga energi terbarukan menjadi tema utama yang menarik minat beli para pelaku pasar domestik. Karakteristik emiten ini seringkali belum masuk kriteria indeks likuiditas historis seperti LQ45.

Akibatnya penguatan harga saham-saham ekspansif tersebut tercecer di luar radar indeks blue chip konvensional bursa efek. Hal ini menjelaskan mengapa indeks utama bisa rekor sementara saham unggulan justru bergerak lambat atau stagnan. "Investor ritel cenderung lebih lincah masuk ke saham-saham mid-caps," ujar Chory.

4. Peluang Mean Reversion 2026

Memasuki tahun 2026 terdapat peluang besar bagi berbaliknya kondisi pasar atau mean reversion yang menguntungkan saham unggulan. Penguatan saham LQ45 dan IDX30 diprediksi akan didorong oleh estimasi pembagian dividen yang menarik minat investor. Pasar akan beralih fokus ke pengumuman laba tahun penuh 2025 awal tahun depan.

Emiten perbankan besar dan sektor konsumer diproyeksi mampu mencetak pertumbuhan laba yang solid di tengah tantangan ekonomi. Ekspektasi dividen jumbo akan menjadi magnet kuat bagi fenomena January Effect dan masuknya kembali dana asing. "Ekspektasi dividen akan menjadi magnet bagi January Effect," tambah Chory dalam risetnya.

Secara valuasi harga saham-saham blue chip saat ini dinilai sudah relatif murah karena tertinggal jauh. Beberapa sektor perbankan bahkan memiliki rasio harga terhadap laba di bawah rata-rata lima tahun terakhir mereka. Celah performa antara indeks SMC dan LQ45 biasanya akan mengalami normalisasi historis.

5. Risiko dan Tantangan

Meski berpotensi bangkit namun pembalikan kondisi penguatan saham blue chip tetap menghadapi sejumlah tantangan makroekonomi global. Risiko utama datang dari likuiditas global jika terjadi kejutan tak terduga dari sisi data inflasi Amerika Serikat. Kenaikan inflasi dapat menahan laju penurunan suku bunga acuan bank sentral.

Jika skenario buruk tersebut terjadi investor asing kemungkinan besar akan menunda masuk ke pasar negara berkembang. Hal ini secara langsung akan menghambat momentum rebound saham-saham berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia. Sentimen makro global masih memegang peranan kunci dalam menentukan arah pergerakan dana asing.

Selain itu emiten blue chip di sektor energi juga dibayangi risiko normalisasi harga komoditas global. Penurunan harga komoditas berpotensi menekan pertumbuhan laba perusahaan energi pada tahun 2026 mendatang yang akan datang. "Risiko normalisasi harga komoditas global yang bisa menekan pertumbuhan labanya," tutup Chory.