Tren Ekbis

Jebakan Senyap Utang Digital Bayangi Finansial Gen Z

  • Punya paylater di banyak aplikasi tapi merasa tak berutang? Simak bagaimana paylater dan pinjol diam-diam membebani keuangan Gen Z.
Ilustrasi Gen Z merasa stres akibat keuangan.
Ilustrasi Gen Z merasa stres akibat keuangan. (ft.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID — Banyak anak muda merasa aman karena tidak pernah mengunduh aplikasi pinjaman online (pinjol). Mereka berpikir selama tidak memakai aplikasi dengan label “pinjol”, berarti tidak punya utang digital. 

Hari ini, utang digital hadir dalam bentuk yang jauh lebih halus dan terasa normal. Hal itu seperti layanan Buy Now Pay Later (BNPL), paylater e-commerce, cicilan instan, hingga limit kredit di aplikasi transportasi dan travel. 

Fenomena ini terjadi di tengah melonjaknya industri pinjaman daring di Indonesia. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan outstanding pembiayaan pinjol per April 2026 mencapai Rp102 triliun, naik signifikan dibanding beberapa tahun sebelumnya. 

Yang menarik, mayoritas pengguna berasal dari kelompok usia muda, terutama Gen Z dan milenial awal. Masalahnya, sebagian pengguna muda tidak merasa sedang berutang. 

Mereka mungkin punya Shopee SPayLater, limit GoPay GoPay Pinjam, cicilan di Tokopedia, dan Traveloka PayLater sekaligus—namun karena cicilan tiap platform kecil, total kewajiban sering luput dari perhatian. Padahal, akumulasinya bisa mengejutkan.

Ketika Cicilan Kecil jadi Bom Utang

TrenAsia mencoba mensimulasikan seorang pekerja Gen Z berpenghasilan Rp6 juta per bulan dengan kewajiban berikut:

  • SPayLater: Rp450 ribu/bulan
  • GoPay Pinjam: Rp300 ribu/bulan
  • Cicilan gadget Tokopedia: Rp550 ribu/bulan
  • Traveloka PayLater: Rp400 ribu/bulan
  • Kartu kredit digital: Rp500 ribu/bulan

Secara psikologis, masing-masing cicilan terlihat kecil—“cuma Rp300 ribu”, “cuma Rp500 ribu”. Namun jika dijumlahkan, total kewajiban bulanannya mencapai Rp2,2 juta. Artinya, 36% dari penghasilan bulanan sudah habis untuk membayar utang konsumtif, bahkan sebelum membayar kos, makan, transportasi, dan kebutuhan harian lainnya.

Inilah yang oleh banyak pengamat disebut sebagai fragmented debt trap, jebakan utang yang tersebar di banyak platform sehingga tidak terasa berat secara individual, tetapi menekan arus kas secara agregat.

Perencana keuangan Prita Ghozie pernah menekankan bahwa utang paling berbahaya adalah utang yang “tidak terasa seperti utang.” “Masalahnya bukan hanya besar cicilan, tetapi ketika seseorang tidak sadar total kewajiban bulanannya,” ujar Prita dalam edukasi literasi keuangannya.

BNPL Kini Masuk Radar OJK

Fenomena ini juga mulai mendapat perhatian regulator. OJK baru menerbitkan PADK Nomor 2 Tahun 2026 tentang penyelenggaraan Buy Now Pay Later (BNPL) bagi perusahaan pembiayaan dan pembiayaan syariah. Aturan ini menjadi turunan dari POJK Nomor 32 Tahun 2025.

Artinya, BNPL kini secara resmi masuk ke ekosistem pengawasan yang setara dengan pinjol dan pembiayaan digital lainnya. Regulasi ini lahir karena model BNPL berkembang pesat, terutama di kalangan muda yang terbiasa dengan transaksi instan.

Berbeda dengan pinjol konvensional yang identik dengan kebutuhan mendesak, BNPL justru sering dipakai untuk kebutuhan konsumtif: fashion, gadget, makanan, tiket konser, hingga liburan.

Menurut riset Kredivo, pengguna paylater di Indonesia didominasi kelompok usia 18–35 tahun, dengan motivasi terbesar berupa kemudahan checkout dan fleksibilitas pembayaran, bukan kebutuhan darurat. Utang kini bukan lagi sekadar alat bertahan hidup, tetapi bagian dari gaya hidup digital.

Kenapa Gen Z Paling Rentan?

Psikolog keuangan menyebut ada tiga alasan utama Gen Z rentan terhadap jebakan paylater.

Pertama, frictionless spending.
Berbelanja kini cukup satu klik. Tidak ada rasa “kehilangan uang” secara fisik.

Kedua, anchoring bias.
Otak fokus pada cicilan bulanan kecil, bukan harga total barang.

Contoh:
Harga gadget Rp6 juta terasa mahal.
Tapi ketika diubah menjadi “Rp499 ribu/bulan”, keputusan membeli menjadi jauh lebih mudah.

Ketiga, fear of missing out (FOMO).
Promo tanggal kembar, flash sale, konser, atau liburan menciptakan urgensi emosional.

Ekonom perilaku dari University of Chicago, Richard Thaler, menjelaskan bahwa manusia cenderung mengambil keputusan finansial buruk ketika reward instan lebih besar daripada rasa sakit di masa depan. Paylater dirancang sangat cocok dengan bias ini.

Tidak Ada Dashboard Utang

Salah satu problem terbesar ekosistem utang digital Indonesia adalah absennya dashboard tunggal yang menunjukkan seluruh kewajiban seseorang. Seseorang bisa punya utang di 5–7 aplikasi sekaligus tanpa pernah melihat total outstanding-nya dalam satu layar.

Akibatnya, banyak orang merasa:

  • “Aku cuma punya cicilan kecil kok.”
  • “Aku enggak pakai pinjol.”
  • “Masih aman.”

Padahal total debt service ratio mereka mungkin sudah melewati batas sehat. Dalam praktik perencanaan keuangan, cicilan ideal maksimal 30–35% dari pendapatan bulanan. Lebih dari itu, risiko gagal bayar meningkat tajam.

Tiga Pertanyaan Sebelum Klik Paylater

Sebelum menekan tombol PayLater, coba tanyakan tiga hal ini:

  1. Kalau diskonnya hilang, apakah saya tetap beli?
  2. Apakah ini kebutuhan atau dorongan impulsif?
  3. Berapa total cicilan saya di semua aplikasi?

Jika pertanyaan ketiga sulit dijawab, itu justru sinyal bahaya. Karena di era digital, jebakan utang tidak lagi datang dalam bentuk debt collector yang menakutkan. Ia datang dalam bentuk yang jauh lebih ramah seperti promo cashback, limit naik otomatis, dan tombol checkout yang sangat mudah ditekan.