Tren Pasar

IHSG Pesta Semu, Sektor Riil Masih Mati Suri

  • Waspada fatamorgana rekor IHSG. Ekonom sebut kenaikan indeks komposit tanpa topangan sektor riil dan penguatan Rupiah rentan picu aliran modal keluar.
plant-production-industry-manufactures-preview.jpg
Ilustrasi industri manufaktur. (Hippopx)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi pertama Kamis, 15 Januari 2026, berhasil parkir di level 9.049 atau naik 0,16%. Posisi ini merupakan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) baru, setelah sehari sebelumnya menyentuh angka 9.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Sayangnya, rekor IHSG tersebut berbanding terbalik dengan kondisi nilai tukar. Meskipun pasar saham mencerminkan ekspektasi ekonomi, mata uang Garuda sepanjang Januari ini justru tertekan hingga mendekati level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Kondisi ini pun menimbulkan pertanyaan serius; karena secara teoretis jika nilai tukar Rupiah mengalami pelemahan akan mempengaruhi gerak IHSG. Sebagaimana diketahui untuk indeks pasar saham negara berkembang seperti Indonesia masih disetir oleh investor asing yang tidak abai terhadap stabilitas kurs. 

Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti, turut menyoroti fenomena ini. Ia menilai kenaikan IHSG yang tidak berkorelasi dengan mata uang Garuda merupakan suatu kelemahan. 

Asing Tinggalkan Big Banks, Buru Tambang

Kelemahan tersebut tercermin dalam data aliran modal asing (foreign flow) selama periode 13-14 Januari 2026, tepat sebelum dan sesudah IHSG menembus ATH. Pantauan TrenAsia.id melalui Stockbit menunjukkan asing cenderung menyasar saham-saham sektor komoditas tambang dan meninggalkan perbankan (non-big banks).

Saham-saham yang menjadi sasaran akumulasi beli bersih (net buy) asing antara lain PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) dengan net buy Rp376 miliar, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sebesar Rp212 miliar, dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) senilai Rp187 miliar.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan saham perbankan raksasa (big 4 banks) yang selama satu dekade terakhir menjadi motor utama penggerak IHSG. Sektor ini justru menderita tekanan jual (net sell) asing yang masif di tengah rekor indeks.

Tercatat, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami net sell paling besar mencapai Rp323 miliar, disusul PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp107 miliar, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan net sell Rp85 miliar. 

PDB Stagnan dan Risiko Capital Outflow

Terkait fenomena tersebut, Esther menilai pasar saham Indonesia saat ini mengalami divergensi (pemisahan tren) dengan kondisi sektor riil. Ketergantungan indeks pada saham-saham khususnya Big 4 Banks membuat pergerakan pasar tidak sepenuhnya mencerminkan kesehatan ekonomi nasional.

"Menurut saya ini adalah sebuah kelemahan. Seperti diketahui, pasar kita sangat bergantung pada saham-saham Big 4 Banks. Sementara di sisi lain, Produk Domesti Bruto (PDB) negara belum naik signifikan," ujar Esther kepada TrenAsia.id, Kamis, 15 Januari 2026.

Sebagai catatan, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia memang cenderung stagnan. Pada Kuartal III-2025, ekonomi RI hanya tumbuh 5,04% (yoy), melambat dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 5,12%. Angka ini dinilai belum cukup kuat untuk menopang valuasi pasar yang terus mencetak rekor tanpa dukungan arus modal asing yang deras.

Esther pun memperingatkan, masuknya investor asing ke saham-saham konglomerasi atau komoditas saat ini bisa jadi bersifat rapuh. Jika fundamental ekonomi domestik dinilai lemah sementara valuasi saham sudah terlalu tinggi, risiko terjadinya arus modal keluar (capital outflow) secara tiba-tiba menjadi sangat besar.

Urgensi Investasi Riil dan Pasokan Devisa

Untuk memitigasi risiko tersebut dan menstabilkan Rupiah yang kian mendekati Rp17.000, Esther menyoroti pentingnya menjaga ketersediaan pasokan Dolar AS di dalam negeri serta mendorong investasi sektor riil.

Secara statistik, posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia memang diproyeksikan Kementerian Keuangan meningkat pada Desember 2025 menjadi sekitar US$152,1 miliar, atau naik US$2 miliar dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar US$150,1 miliar.

Kendati demikian, Esther menilai pasokan efektif di pasar masih cenderung ketat. Hal ini karena permintaan dolar terus melonjak untuk kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri khususnya di tahun 2026-2027. 

"Jika bicara stabilitas, kuncinya adalah pasokan dolar harus mencukupi untuk memenuhi permintaan. Jika permintaan naik namun pasokan terbatas, maka nilai Rupiah pasti terdepresiasi. Itu hukum pasar yang tidak bisa dihindari," paparnya.

Sebagai solusi konkret, ia mendorong pemerintah untuk lebih agresif menggenjot sumber-sumber devisa melalui ekspor jasa dan investasi riil, bukan hanya mengandalkan dana panas (hot money) di pasar saham.

"Ekspor jasa ini krusial. Semakin banyak tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri dan menghasilkan devisa, itu akan menambah pasokan dolar. Selain itu, harus ada investasi riil, contohnya proyek transisi energi padat karya. Jika investasi tertanam di proyek fisik, arus modal tidak akan mudah keluar-masuk," pungkasnya.