Tren Ekbis

IHSG Ambles, SBN Ritel jadi Alternatif Investasi

  • IHSG ambrol imbas sentimen MSCI. Investor, termasuk anak muda, mulai melirik SBN sebagai alternatif investasi yang lebih aman dan stabil.
Ilustrasi anak muda, lulusan baru magang di perusahaan.
Ilustrasi anak muda, lulusan baru magang di perusahaan. (Freepik/prostooleh)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam pada perdagangan akhir Januari 2026. Pelemahan pasar saham dipicu sentimen global, salah satunya penyesuaian metodologi indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mendorong aksi jual investor asing di pasar saham Indonesia.

Pada Kamis pagi ini, 29 Januari 2026, IHSG anjlok 8% ke level 7.654,66. Sebanyak 694 saham turun, 34 naik, dan 230 tidak bergerak. Akibatnya, kapitalisasi pasar pun merosot menjadi Rp13.820 triliun. 

Kondisi tersebut membuka peluang pergeseran strategi investasi. Pemerintah juga melihat pergeseran yang akan dilakukan oleh investor untuk memindahkan aset merek ke dalam Surat Berharga Negara (SBN). 

SBN merupakan surat utang yang diterbitkan pemerintah untuk membiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Instrumen ini dinilai relatif aman karena pembayaran pokok dan imbal hasilnya dijamin oleh negara. 

Bagi investor ritel, pemerintah menyediakan berbagai jenis SBN, seperti Obligasi Ritel Indonesia (ORI), Saving Bond Ritel (SBR), Sukuk Ritel (SR), dan Sukuk Tabungan (ST). Menariknya, minat generasi muda terhadap SBN terus meningkat.

Plt. Direktur Surat Utang Negara (SUN) Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan RI, Novi Puspita Wardani, menyampaikan sejak penerapan SID, jumlah investor di pasar SBN ritel menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.

Sepanjang 2025, partisipasi investor individu dalam SBN ritel tercatat meningkat, seiring dengan penguatan literasi dan inklusi keuangan masyarakat. 

"Sejak penerapan dari SID di tahun 2018, SID ini kalau di sistem ISBN atau sistem yang memang kami siapkan untuk pembelian SBN secara online itu sudah mulai menerapkan SID di tahun 2018, kita lihat di sini jumlah investor,” ujar Novi dalam Media Briefing Pembukaan Masa Penawaran ORI029T3 & ORI029T6, dikutip Kamis, 29 Januari 2026.

Berdasarkan komposisi kepemilikan, pembelian SBN ritel lebih banyak didominasi oleh investor perempuan dengan porsi sekitar 58% ementara investor laki-laki berada di kisaran 42%. Jika dilihat dari kelompok usia, peran investor muda terlihat paling signifikan.

Investor dari kalangan milenial dan Generasi Z secara kolektif menyumbang sekitar 57% dari total investor SBN ritel pada 2025. Adapun generasi X dan baby boomers masih turut ambil bagian meski dengan porsi yang lebih terbatas, sedangkan generasi tradisional hanya mencatatkan kontribusi sekitar 1%.

Hal ini menegaskan bahwa anak muda diperbolehkan dan didorong berinvestasi di SBN ritel , selama memenuhi persyaratan seperti Single Investor Identification (SID). Sesuai dengan arahan dari pemerintah bahwa pembelian SBN ritel dapat dilakukan secara online atau yang disebut sebagai e-SBN.

Source: DJPPR

Tips Investasi SBN untuk Anak Muda

Di tengah volatilitas pasar saham dan pelemahan IHSG, SBN bisa menjadi alternatif investasi yang relatif aman bagi anak muda. Namun, agar hasilnya optimal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

1. Pertama, tentukan tujuan investasi sejak awal. Jika tujuan Anda adalah tabungan jangka menengah dengan arus kas rutin, SBN seperti ORI atau SR yang memberikan kupon tetap setiap bulan bisa menjadi pilihan. Sementara itu, SBR atau Sukuk Tabungan cocok bagi investor yang ingin menahan dana hingga jatuh tempo tanpa terpengaruh fluktuasi dari harga pasar.

2. Kedua, mulai dari nominal kecil dan bertahap. SBN ritel bisa dibeli mulai dari Rp1 juta melalui platform e-wallet atau melalui aplikasi resmi yang disediakan oleh bank. Bagi investor muda, memulai dari nominal kecil mampu membangun kebiasaan investasi tanpa mengganggu kebutuhan harian.

3. Ketiga, perhatikan jenis kupon dan tenor. Kupon tetap memberikan kepastian imbal hasil, sedangkan kupon mengambang mengikuti suku bunga acuan. Dalam konteks ini, Anda disarankan memilih tenor yang sesuai rencana keuangan agar dana tidak menganggur terlalu lama.

4. Keempat, manfaatkan platform digital resmi. Gunakan aplikasi bank atau mitra distribusi resmi e-SBN agar proses pendaftaran SID, pembelian, hingga penerimaan kupon berjalan aman dan transparan.

Melansir dari BCA, Kamis, 29 Januari 2026, investor dapat mendaftarkan data atau Identifikasi Investor Single Investor (SID) dan memesan produk ini dalam fitur Investasi pada aplikasi myBCA dimulai dari IDR 1 juta. 

Selain aplikasi myBCA, investor juga dapat membeli SBN pada e-wallet DANA. Data dari penerbitan ST014 menunjukkan bahwa lebih dari 60% investor berasal dari daerah-daerah tersebut, khususnya di luar DKI Jakarta. 

“Melalui kolaborasi kami dengan Trimegah Sekuritas, masyarakat dapat membeli e-SBN secara langsung melalui aplikasi DANA. Ini membuktikan bahwa investasi negara bukan hanya untuk para ahli keuangan, tetapi juga hak seluruh warga negara,” kata Vince Iswara, CEO & Co-Founder DANA Indonesia. 

“Dengan Trimegah Sekuritas sebagai mitra pasar modal yang terpercaya, kami memastikan bahwa siapa pun, mulai dari anak muda hingga pekerja informal dan mereka yang berada di daerah terpencil, dapat berpartisipasi dalam pembangunan bangsa dengan aman, mudah, dan sederhana,” tegas Vince.

5. Kelima, jangan taruh semua dana di satu instrumen. Meski relatif aman, SBN tetap sebaiknya menjadi bagian dari portofolio yang terdiversifikasi. Anda dapat mengkombinasikan dengan instrumen lain seperti reksa dana pasar uang atau emas untuk menyeimbangkan risiko.

6. Keenam, pahami pajak dan ketentuan pencairan. Kupon SBN dikenakan pajak final yang umumnya lebih rendah dibandingkan pajak deposito. Untuk SBN non-tradable, pahami juga ketentuan early redemption agar tidak salah strategi.