Tren Pasar

Garuda (GIAA) Akhiri Krisis Neraca: Ekuitas Positif Berkat Danantara

  • Garuda Indonesia (GIAA) mencatat ekuitas positif US$91,91 juta pada 2025 usai suntikan modal Danantara. Pendapatan usaha tercatat sebesar US$3,21 miliar.
Garuda Indonesia Buka Rute Penerbangan Kargo Denpasar-Narita Jepang.jpg
Maskapai penerbangan nasional, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) pada Rabu (2/2) secara resmi mulai melayani penerbangan khusus kargo Denpasar-Narita, Jepang, mulai Februari 2022. (Garuda Indonesia)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Emiten maskapai pelat merah, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), merilis laporan keuangan konsolidasian tahun buku 2025. Perseroan mencatat pencapaian bersejarah dengan membalikkan neraca dari defisit menjadi ekuitas positif, menandai momentum turnaround yang didorong intervensi modal strategis.

Keberhasilan ini tercapai melalui suntikan modal private placement oleh PT Danantara Asset Management (Persero). Per 31 Desember 2025, Garuda Indonesia membukukan ekuitas positif sebesar US$91,91 juta, melonjak dibanding akhir 2024 ketika defisit ekuitas mencapai US$1,35 miliar, menegaskan perbaikan struktur keuangan secara fundamental.

Suntikan modal Danantara masuk melalui PMTHMETD pada 5 Desember 2025, berupa Rp17,02 triliun tunai dan konversi pinjaman pemegang saham Rp6,65 triliun. Total transaksi Rp23,67 triliun dengan penerbitan 315,61 miliar saham Seri D pada harga Rp75 per saham, menegaskan komitmen pemegang saham terhadap stabilitas GIAA.

Alhasil, aksi korporasi itu membuat neraca GIAA kembali sehat. Total aset perseroan juga meningkat menjadi US$7,43 miliar, melebihi liabilitas yang turun menjadi US$7,33 miliar dari US$7,97 miliar di 2024. Kas dan setara kas melonjak menjadi US$943,40 juta, memperkuat posisi likuiditas. Laporan auditor independen 2025 pun tidak lagi mencantumkan status going concern.

Tantangan Operasional

Meski neraca sehat, kinerja operasional Garuda masih tertekan. Total pendapatan usaha 2025 tercatat US$3,21 miliar, turun 5,8% dari US$3,41 miliar di 2024, terutama karena pendapatan penerbangan berjadwal turun dari US$2,74 miliarmenjadi US$2,51 miliar. 

Sementara itu, segmen penerbangan tidak berjadwal dan pendapatan lain-lain justru tumbuh, menyeimbangkan tekanan pasar. Pendapatan penerbangan tidak berjadwal naik menjadi US$340,87 juta dari US$333,75 juta pada 2024, sementara pendapatan lain-lain meningkat menjadi US$361,05 juta, dibanding US$340,36 juta sebelumnya.

Dari sisi efisiensi, total beban usaha GIAA mampu ditekan menjadi US$3,10 miliar, lebih rendah dari pendapatan. Namun, beban non-operasional, khususnya beban keuangan, meningkat dari US$479,89 juta menjadi US$525,79 juta, menekan profitabilitas secara signifikan.

Akibatnya, Garuda Indonesia membukukan rugi tahun berjalan US$319,39 juta, dengan rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai US$322,48 juta, melonjak dari US$69,77 juta di 2024. Bottom line masih menjadi fokus utama manajemen untuk pemulihan ke depan.

Masuknya Danantara memang mengakhiri krisis neraca, tetapi pekerjaan rumah GIAA adalah memacu pemanfaatan kas. Perseroan harus memperbaiki layanan, mendorong pertumbuhan pendapatan, dan menekan kerugian operasional agar kinerja jangka menengah dan panjang kembali positif secara berkelanjutan.