Tren Ekbis

BI Tahan Suku Bunga 4,75 Persen, Jaga Momentum Daya Beli Lebaran

  • BI menahan suku bunga 4,75% di tengah tekanan global. Kebijakan ini dinilai sebagai penopang konsumsi Lebaran dan membuka ruang pengendalian inflasi.
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia - Panji 5.jpg
Nampak suasana pembangunan serta gedung-gedung pusat bisnis dan perkantoran di kawasan Jakarta Pusat, Senin 26 Juni 2023. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Bank Indonesia (BI) memilih menjaga stabilitas sekaligus momentum pertumbuhan dengan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur Maret 2026. Keputusan ini sejalan dengan ekspektasi pasar dan menjadi sinyal konsistensi kebijakan di tengah dinamika global.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menegaskan, langkah tersebut diambil dengan mempertimbangkan keseimbangan antara stabilitas eksternal dan keberlanjutan pertumbuhan domestik.

“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia tanggal 16 hingga 17 Maret 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,5%,” ujarnya di Jakarta pada Selasa, 17 Maret 2026. 

Sepanjang 2025, BI telah memangkas suku bunga sebanyak lima kali dengan total 125 basis poin. Jika sebelumnya kebijakan diarahkan untuk mendorong pemulihan, kini fokus bergeser pada menjaga stabilitas tanpa mengganggu laju pertumbuhan yang mulai terbentuk.

Menjaga Kepercayaan di Tengah Tekanan Global

Di tengah ketidakpastian global, langkah menahan suku bunga dinilai sebagai upaya menjaga kepercayaan investor terhadap aset domestik. Kepala Ekonom BCA David Sumual sebelumnya telah memproyeksikan arah kebijakan ini. “Tekanan eksternal masih cukup kuat dan daya tarik aset Rupiah perlu dipertahankan,” ujarnya dalam keterangannya pada Senin, 16 Maret 2026. 

Info saja, data Kementerian Keuangan mencatat arus keluar modal asing mencapai US$657,6 juta pada awal Maret 2026. Kondisi ini mencerminkan tantangan global yang masih berlangsung, terutama di tengah eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak mendekati US$100 per barel.

Senada, Ekonom Permata Bank Faisal Rachman juga mempredikisi hal serupa. Ia menilai arah kebijakan bank sentral global mempengaruhi ruang pelonggaran moneter oleh BI ke depan. “Jika pemangkasan suku bunga The Fed terbatas, maka ruang penurunan suku bunga domestik juga akan lebih selektif,” ujarnya.

Momentum Lebaran dan Kewaspadaan Konsumsi

Di sisi domestik, keputusan BI hadir menjelang Idulfitri, periode dengan lonjakan konsumsi yang signifikan. Stabilnya suku bunga memberi kepastian bagi rumah tangga dan pelaku usaha dalam mengelola pengeluaran, sekaligus menjaga ritme aktivitas ekonomi tetap berjalan.

Namun, di tengah peningkatan aktivitas tersebut, kewaspadaan tetap diperlukan. Center of Economic and Law Studies (CELIOS) mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam membelanjakan tunjangan hari raya (THR), terutama di tengah tekanan inflasi yang masih terasa.

CELIOS mencatat pada Februari 2026, tingkat inflasi telah mencapai 4,76%, sehingga ruang konsumsi tetap perlu dijaga agar tidak berlebihan di tengah momentum Lebaran. “Lebaran kali ini jangan boros-boros THR ya. Perlu spare uang di tabungan untuk hadapi situasi terburuk,” tulis lembaga riset independen itu pada Senin, 16 Maret 2026.

Dengan demikian, keputusan BI untuk menahan suku bunga di tengah fluktuasi harga energi global merupakan langkah yang bijak untuk menjaga daya beli. Di saat yang sama, konsumsi Lebaran 2026 tetap menopang ekonomi domestik, sehingga stabilitas moneter membuka ruang pengendalian inflasi tanpa menekan aktivitas ekonomi.