Tren Pasar

IHSG Terguncang Jelang Libur Panjang, Saatnya Investor Lebih Selektif

  • IHSG turun ke level 7.137 di tengah aksi jual asing Rp8,85 triliun. Investor diminta waspada jelang libur panjang Lebaran dan mulai mempertimbangkan akumulasi bertahap.
IHSG Ditutup Menguat-3.jpg
Karyawan berkatifitas dengan latar layar monitor pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, 8 September 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam pada akhir perdagangan pekan lalu, turun ke level 7.137 di tengah derasnya aksi jual bersih investor asing. Tekanan tersebut membuat pasar berada dalam kondisi yang rentan, sehingga investor perlu meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi volatilitas menjelang libur panjang Lebaran 2026.

Waktu perdagangan di bursa juga menjadi terbatas karena rangkaian hari libur. Pasar saham akan berhenti sementara pada Rabu, 18 Maret karena Hari Raya Nyepi, kemudian dilanjutkan cuti bersama Idulfitri mulai Jumat, 20 Maret hingga Selasa, 24 Maret. Perdagangan saham baru akan kembali normal pada Rabu, 25 Maret.

Sekretaris Bursa Efek Indonesia, Kautsar Ahmad mengatakan sepanjang pekan lalu, IHSG tercatat turun 5,91% secara mingguan. “Kapitalisasi pasar merosot tajam menyentuh level Rp12.678 triliun,” jelas Kautar dalam keterangannya pada akhir pekan ini. 

Transaksi Bursa Anjlok

Kautsar menjabarkan bahwa perubahan juga terjadi pada rata rata volume transaksi harian BEI pekan ini sebesar 25,49% menjadi 31,55 miliar saham, dari 42,34 miliar saham pada pekan sebelumnya. Selain itu, sebanyak 629 emiten mengalami pelemahan harga, sementara investor asing membukukan jual bersih sebesar Rp8,85 triliun sepanjang tahun berjalan.

Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana mengatakan Bank sentral Amerika Serikat diproyeksikan menahan laju penurunan tingkat suku bunga acuan mereka tahun ini. Dengan begitu, ekspektasi pemangkasan kini merosot tajam dari kisaran 50 basis poin menjadi sekadar 25 basis poin saja seiring munculnya ancaman lonjakan inflasi harga energi global.

Oleh karena itu, anjloknya ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter bank sentral global memberikan efek kejut terhadap pelaku pasar yang memberikan dampak terhadap emerging market. "Ketika pasar mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga, hal tersebut langsung berdampak pada sentimen investor terhadap aset berisiko," ujar Hendra dalam riset seperti dikutip pada Minggu, 15 Maret 2026. 

Peluang Akumulasi Bertahap

Di tengah gelombang aksi jual, pemodal luar negeri justru aktif memborong beberapa emiten secara selektif, yang langkahnya dapat ditiru pemodal lokal. Aliran dana masuk terbesar menyasar saham ITMG senilai Rp377,52 miliar disusul ADRO sebesar Rp308,11 miliar serta emiten AADI menorehkan angka beli bersih Rp254,96 miliar.

Deretan emiten sektor energi beserta tambang lainnya turut menjadi incaran utama menjelang libur panjang. Saham PTBA sukses mencetak beli bersih Rp175,51 miliar kemudian emiten MDKA meraup Rp168,2 miliar lalu saham BRPT membukukan Rp154,52 miliar serta INKP diborong senilai Rp134,89 miliar.

Selain itu, perusahaan alat berat UNTR menyusul mengumpulkan Rp118,18 miliar. Tidak ketinggalan, sektor telekomunikasi melengkapi daftar buruan pemodal luar negeri melalui saham TLKM sebesar Rp94,79 miliar dan ISAT menorehkan beli bersih Rp87,63 miliar. 

Hendra menilai tekanan makroekonomi global masih akan membayangi pergerakan pasar saham domestik. Namun, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap solid sehingga koreksi tajam di pasar dapat menjadi peluang akumulasi bagi investor.

“Fase pascalebaran berpotensi menjadi periode yang lebih menarik untuk mulai melakukan akumulasi, terutama ketika likuiditas pasar kembali meningkat dan investor institusi mulai melakukan reposisi portofolio,” tutup Hendra.