FTSE Tunda Review, IHSG Kok Malah Pesta Pora?
- IHSG tembus resistensi kuat di sesi I, seolah kebal sentimen negatif. Waspada potensi volatilitas jangka pendek di balik lonjakan harga.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tampil perkasa menutup sesi pertama perdagangan hari ini dengan kenaikan signifikan sebesar 100,87 poin atau 1,26% ke level 8.132,75. Lonjakan ini terjadi pada Selasa, 10 Februari 2026, tepat di tengah sentimen penundaan tinjauan pasar oleh FTSE Russell yang baru saja diumumkan.
Data perdagangan mencatat aktivitas yang sangat ramai dengan nilai transaksi menembus Rp11,92 triliun dari 26,93 miliar lembar saham yang diperdagangkan. Frekuensi perdagangan mencapai 1,52 juta kali, menunjukkan dominasi minat beli yang masif dari pelaku pasar di berbagai sektor saham utama.
Penguatan pasar bersifat menyeluruh, di mana tercatat sebanyak 572 saham mengalami kenaikan harga, jauh mengungguli 126 saham yang bergerak melemah. Sementara itu, 118 saham lainnya stagnan, dengan saham unggulan berkapitalisasi besar dalam indeks LQ45 turut terkerek naik 0,89%.
Sektoral Hijau dan Rotasi LQ45
Seluruh sektor saham kompak menghijau dipimpin oleh sektor perindustrian yang melonjak tajam 2,92% pada penutupan siang ini. Kenaikan sektoral ini diikuti oleh sektor barang baku sebesar 2,48%, barang konsumsi non-primer 2,41%, serta sektor energi dan properti yang masing-masing naik di atas 2%.
Di jajaran saham unggulan LQ45, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) memimpin top gainers dengan kenaikan 7,8%, disusul PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) yang melesat 7%, dan PT Merdeka Battery Minerals Tbk (MBMA) naik 6,11%.
Sebaliknya, tekanan jual menimpa PT Barito Pacific Tbk (BREN) yang turun 1,24%, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) turun 1,09%, dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) terkoreksi 0,94%.
Meskipun terjadi rotasi di saham blue chip, IHSG berhasil menembus level 8.100 yang sebelumnya dinilai cukup berat. "Sementara itu, area 8.100 menjadi resistance psikologis yang cukup kuat. Selain sebagai angka bulat yang sensitif secara psikologis, level ini juga merupakan area distribusi sebelumnya," ujar Hendra Wardana, Founder Republik Investor kepada TrenAsia.Id.
Sinyal Waspada FTSE
Di balik dominasi warna hijau pada layar perdagangan siang ini, Hendra menilai keputusan FTSE menunda review indeks sebenarnya membawa pesan kehati-hatian yang patut dicermati oleh investor institusi. "Keputusan FTSE Russell untuk menunda review indeks Indonesia pada Maret 2026 menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar, khususnya investor institusi global," ungkap Hendra.
Penundaan ini dinilai lebih berkaitan dengan proses transisi regulasi pasar modal yang belum tuntas, bukan karena memburuknya kualitas ekonomi makro domestik. "Penundaan ini bukan mencerminkan penurunan kualitas fundamental pasar modal Indonesia, melainkan lebih menegaskan adanya ketidakpastian teknis dalam proses reformasi pasar," jelasnya.
Absennya katalis perubahan indeks global ini dikhawatirkan dapat memicu aksi menahan diri lanjutan setelah euforia sesaat ini mereda di pasar. "Tekanan psikologis dari penundaan review FTSE, meskipun sifatnya teknis, tetap dapat mendorong pelaku pasar untuk mengambil sikap wait and see," tambah Hendra.
Volatilitas Jangka Pendek
Risiko volatilitas harga saham tetap mengintai dalam jangka pendek pasca lonjakan signifikan hari ini, mengingat pasar masih minim sentimen positif dari global. "Dalam jangka pendek, kondisi ini dapat meningkatkan sikap defensif pelaku pasar dan mendorong volatilitas berbasis sentimen, bukan fundamental," kata Hendra mengingatkan potensi perubahan arah angin.
Namun, investor diminta untuk tidak panik berlebihan mengenai status pasar modal Indonesia di mata internasional karena keputusan ini murni masalah administratif. "Risiko penurunan status negara tidak melekat pada keputusan penundaan review indeks ini, sehingga sentimen negatif seharusnya lebih bersifat teknis dan sementara," tegasnya.
Ke depan, kunci utama untuk memulihkan kepercayaan investor asing terletak pada kepastian aturan main dari regulator pasar modal. "Bagi penyedia indeks global, kepastian regulasi dan stabilitas struktur pasar merupakan prasyarat utama sebelum melakukan penyesuaian komposisi indeks," pungkas Hendra.

Alvin Bagaskara
Editor
