Tren Pasar

Ekspor Batu Bara Via DSI, Cek Risiko BYAN, HRUM, hingga AADI

  • Pemerintah mulai menerapkan ekspor batu bara melalui DSI. Simak emiten yang paling berisiko dan saham yang dinilai lebih tahan menghadapi aturan baru.
2016_10_27-22_21_45_c7d2a20b4faf4d5605c48b5f96ddbad5_960x640_thumb.jpg
Harum Energy (HRUM) (Dok/Ist)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Pemerintah resmi memberlakukan kebijakan ekspor satu pintu batu bara melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) mulai 1 Juni 2026. 

"Sudah terlalu lama harga berbagai kekayaan alam kita ditentukan oleh pihak lain, ditentukan di negara lain. Sudah terlalu lama sebagian keuntungan dari sumber daya alam mengalir ke luar negeri dan tidak tinggal di Ibu Pertiwi. Karena itu, pemerintah menentukan ekspor sumber daya alam satu pintu," ungkap Presiden Prabowo dalam upacara Hari Lahir Pancasila dilansir YouTube Sekretariat Presiden, Selasa, 2 Juni 2026

Meski implementasi penuh baru akan berlaku pada 1 Januari 2027, pasar saham langsung merespons negatif karena kebijakan ini berpotensi mengubah struktur perdagangan batu bara Indonesia secara fundamental.

Dalam skema baru tersebut, seluruh pelaporan ekspor batu bara harus terintegrasi melalui DSI. Mulai 2027, BUMN tersebut direncanakan menjadi satu-satunya pihak yang berwenang menjalin kontrak langsung dengan pembeli internasional.

Pertanyaan yang kini menjadi perhatian investor adalah, emiten batu bara mana yang paling rentan terhadap kebijakan ini, dan siapa yang memiliki daya tahan lebih kuat?

Mengapa Emiten Batu Bara Terkena Imbas?

Ada tiga risiko utama yang menjadi perhatian pasar. Pertama, potensi penurunan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) karena perusahaan tambang tidak lagi memiliki keleluasaan bernegosiasi langsung dengan pembeli premium di pasar internasional.

Kedua, risiko nilai tukar apabila transaksi dilakukan melalui mekanisme yang berbeda dari praktik perdagangan saat ini yang mayoritas menggunakan dolar Amerika Serikat.

Ketiga, munculnya biaya tambahan berupa fee atau margin perdagangan yang dapat mengurangi keuntungan perusahaan.

Dalam skenario paling moderat, DSI hanya bertindak sebagai perantara melalui kontrak back-to-back sehingga perusahaan tambang tetap memperoleh harga pasar dan DSI hanya mengambil biaya jasa tertentu. Namun jika pemerintah menerapkan model cost-plus atau harga tetap, dampaknya terhadap profitabilitas dapat jauh lebih besar.

Baca juga : Cuan MINE Tumbuh 18 Persen di Tengah Dinamika Industri Tambang

Saham BYAN dan HRUM Paling Rentan

Jika melihat struktur pendapatan, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dan PT Harum Energy Tbk (HRUM) menjadi dua emiten yang paling sensitif terhadap perubahan kebijakan ekspor.

Keduanya memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasar ekspor dengan porsi penjualan luar negeri mencapai lebih dari 80% dari total pendapatan batu bara.

Risiko BYAN bahkan lebih kompleks karena perusahaan juga menghadapi penurunan volume produksi akibat pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.

Produksi BYAN diperkirakan turun dari sekitar 80 juta ton menjadi hanya 38 juta ton atau merosot sekitar 53 persen. Kombinasi antara penurunan volume dan potensi tekanan margin menjadikan BYAN salah satu saham yang paling diperhatikan investor saat ini.

Sementara itu, HRUM menghadapi tantangan serupa namun dengan skala usaha yang lebih kecil sehingga ruang manuvernya dalam menjaga profitabilitas relatif lebih terbatas.

AADI Berpotensi AlamiTekanan Valuasi Terbesar

Jika BYAN dan HRUM menghadapi risiko operasional, maka PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) menghadapi ancaman dari sisi valuasi.

Apabila skema DSI menggunakan pendekatan cost-plus dengan margin EBITDA sekitar 13–15%, maka valuasi AADI berpotensi terkoreksi hingga 28% dibandingkan kondisi sebelum kebijakan diumumkan.

Menariknya, dari sisi produksi, data korporasi menunjukan AADI justru termasuk emiten yang relatif aman. Pemerintah tetap menyetujui target produksi sebesar 60 juta ton dalam RKAB 2026.

Artinya, persoalan utama AADI bukan volume produksi, melainkan bagaimana pasar menilai potensi keuntungan perusahaan di bawah skema perdagangan baru.

ITMG Paling Tahan?

Di antara emiten batu bara besar, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dinilai sebagai saham yang paling defensif terhadap perubahan kebijakan ekspor.

Hal ini tercermin dari pergerakan saham pada hari pengumuman kebijakan. Saat mayoritas saham batu bara mengalami koreksi tajam, ITMG justru mampu ditutup menguat.

Berdasarkan laporan kinerja perusahaan dikutip IDX, fundamental perusahaan yang kuat dan kemampuan menghasilkan arus kas yang stabil menjadi bantalan penting menghadapi ketidakpastian regulasi.

Baca juga : Analisis dan Insight Harga Emas Hari Ini 2 Juni 2026

BUMI dan INDY Masih Memiliki Buffer dari Pasar Domestik

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Indika Energy Tbk (INDY) berada dalam posisi yang relatif lebih seimbang. Berbeda dengan BYAN atau HRUM yang sangat bergantung pada ekspor, kedua emiten ini masih memiliki kontribusi penjualan domestik yang cukup besar.

Keberadaan pasar domestik memberikan perlindungan tambahan karena tidak seluruh pendapatan harus melewati mekanisme DSI.

Namun risiko tetap ada. Jika pembeli domestik merupakan pedagang yang kemudian menjual kembali ke pasar ekspor, maka mereka juga berpotensi mengurangi aktivitas pembelian selama masa transisi kebijakan.

Dari sisi produksi, kepastian RKAB menjadi faktor positif. Kideco milik INDY memperoleh persetujuan produksi 30 juta ton, sementara Arutmin dan KPC milik BUMI masing-masing mendapatkan kuota 20 juta ton dan 54 juta ton.

ADRO Masih Menunggu Kejelasan Skema Final

PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) berada di posisi tengah. Koreksi saham ADRO setelah pengumuman kebijakan memang cukup signifikan, tetapi tidak sedalam BYAN maupun HRUM.

Nasib ADRO sangat bergantung pada desain akhir kebijakan DSI. Jika biaya perdagangan yang dikenakan relatif kecil dan perusahaan tetap memperoleh harga pasar, dampaknya kemungkinan dapat dikelola. Sebaliknya, jika margin perusahaan tergerus oleh skema baru, maka tekanan terhadap profitabilitas akan meningkat.

Investor Perlu Perhatikan

Berdasarkan eksposur ekspor, risiko margin, dan posisi fundamental perusahaan, berikut peta risiko sementara,

Paling Rentan

  • BYAN – ekspor tinggi dan produksi turun drastis.
  • HRUM – ekspor tinggi dengan ruang manuver lebih terbatas.
  • AADI – risiko valuasi terbesar dalam skenario cost-plus.

Relatif Tahan

  • ITMG – pasar dinilai sudah lebih dulu mengantisipasi risiko.
  • BUMI – memiliki kontribusi pasar domestik yang signifikan.
  • INDY – memperoleh dukungan dari pasar domestik dan kepastian produksi.

Posisi Tengah

  • ADRO – sangat bergantung pada desain final kebijakan DSI.

Apa yang Harus Diperhatikan Investor Selanjutnya?

Bagi investor, faktor paling penting bukan lagi apakah DSI akan diterapkan atau tidak, melainkan bagaimana mekanisme finalnya.

Selama pemerintah belum mengumumkan struktur perdagangan, besaran fee, mekanisme harga, serta pembagian risiko antara DSI dan perusahaan tambang, seluruh proyeksi dampak masih bersifat asumsi.

Dalam jangka panjang hingga 2030, sejumlah analis masih melihat emiten dengan cadangan besar, neraca kuat, dan umur tambang panjang seperti AADI dan ITMG sebagai kandidat yang menarik ketika harga saham terdiskon akibat sentimen regulasi.

Namun untuk jangka pendek hingga implementasi penuh pada Januari 2027, volatilitas diperkirakan tetap tinggi, terutama pada saham-saham yang sangat bergantung pada ekspor seperti BYAN dan HRUM.

Dengan kata lain, pasar saat ini belum menghitung laba perusahaan batu bara, melainkan sedang menghitung ulang aturan main industri batu bara Indonesia.