Industri

Dorong Pengembangan EBT, 26 PLTU Selesai Uji Coba Co-Firing

  • JAKARTA – Uji  coba co-firing telah dilakukan di 26 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Indonesia. Executive Vice President Corporate Communications & CSR PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN Agung Murdifi mengatakan, langkah ini adalah strategi untuk mencapai target peningkatan kapasitas Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 16 Giga Watt (GW) pada 2024. “Jumlah ini […]

<p>Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) / Dok. Kementerian ESDM</p>

Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) / Dok. Kementerian ESDM

(Istimewa)

JAKARTA – Uji  coba co-firing telah dilakukan di 26 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Indonesia.

Executive Vice President Corporate Communications & CSR PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN Agung Murdifi mengatakan, langkah ini adalah strategi untuk mencapai target peningkatan kapasitas Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 16 Giga Watt (GW) pada 2024.

“Jumlah ini akan terus bertambah sesuai target kami, yaitu sebanyak 52 pemasangan pada 2021,” katanya dalam keterangan resmi yang diterima TrenAsia.com, Sabtu, 27 Februari 2021.

Agung bilang, saat ini ada tujuh yang sudah beroperasi secara komersial, yakni PLTU Paiton, Ciranjang, Ketapang, Sanggau, Pacitan, Suralaya dan Anggrek.

Kemudian, pengujian co-firing di PLTU Asam Asam, telah dilaksanakan pada unit 2 dengan kapasitas terpasang sebesar 65 Mega Watt (MW). PLTU ini dikenal sebagai penyuplai listrik terbesar di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Sementara untuk bahan bakar biomassa yang digunakan berupa serbuk gergaji (sawdust). Serbuk ini diperoleh dari beberapa industri pengrajin kayu di wilayah Asam Asam.

Agung mengeklaim, pengujian co-firing yang dilakukan dengan komposisi campuran sawdust 3% dan 5% menunjukkan hasil yang cukup memuaskan. Parameter operasional peralatan, ungkapnya, tetap aman selama masa uji coba.

“Emisi yang dihasilkan masih di bawah Baku Mutu Emis sesuai Permen KLHK Nomor 15 Tahun 2019,” tambahnya.

Sebagai informasi, co-firing sendiri merupakan proses penambahan biomassa sebagai bahan bakar pengganti parsial atau bahan campuran batu bara di  PLTU. Dalam hal pembangkit EBT, energi listrik yang dihasilkan diklaim bersifat ramah lingkungan.

Sebab, gas rumah kaca (GRK) dan polutan, seperti SO2, NOx, particulate matter, serta merkuri yang dihasilkan EBT lebih kecil dibandingkan dengan energi fosil.

Dalam pemanasan global dan perubahan iklim, GRK berpengaruh besar karena polutan dari hasil pembakaran bahan bakar fosil memiliki dampak negatif bagi kesehatan. Maka, pembangkit EBT dianggap sebagai solusi untuk mengurangi permasalahan tersebut.

“PLN berkomitmen untuk mendukung penuh penggunaan energi yang ramah lingkungan guna membantu menciptakan lingkungan yang berkelanjutan,” tutur Agung.