Diversifikasi Pangan Jadi Strategi Ketahanan Pangan Nasional
- Diversifikasi pangan meningkatkan pilihan konsumsi bergizi, memanfaatkan pangan lokal, serta memperkuat ketahanan dan ekonomi masyarakat.

Maharani Dwi Puspita Sari
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Diversifikasi pangan merupakan upaya memperluas pilihan konsumsi pangan yang lebih beragam, bergizi seimbang, dan aman. Upaya ini dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya pangan lokal yang tersedia di setiap wilayah Indonesia.
Menurut Badan Pangan Nasional, diversifikasi pangan bukan sekadar mengganti satu sumber makanan, tetapi meningkatkan pola konsumsi masyarakat dengan berbagai komoditas lokal seperti singkong, ubi, jagung, sagu, dan kacang-kacangan.
Pemerintah telah memasukkan pendekatan ini dalam Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024 sebagai bagian strategi percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis potensi sumber daya lokal. Kini, penerapan tersebut tidak hanya berupa pemberian bantuan makanan, melainkan adalah memberikan edukasi yang membangun kesadaran kolektif akan pentingnya mengonsumsi pangan lokal yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman (B2SA).
Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi mengatakan bahwa diversifikasi pangan menjadi komponen penting dalam menjaga ketahanan pangan. "Jadi selain intensifikasi dan ekstensifikasi yang saat ini dilakukan, diversifikasi pangan juga menjadi unsur penting yang perlu terus kita dorong bersama dalam kerangka membangun ketahanan pangan yang kokoh." kata Arief, dikutip Jumat, 9 Januari 2026.
Tujuan Diversifikasi Pangan
Diversifikasi pangan memiliki beberapa tujuan utama, antara lain:
- Meningkatkan gizi masyarakat, melalui konsumsi makanan yang lebih beragam sehingga kebutuhan zat gizi terpenuhi dari berbagai sumber pangan.
- Mengurangi ketergantungan pada satu komoditas pokok, seperti beras, yang konsumsi dominannya masih tinggi di Indonesia.
- Memperkuat ketahanan pangan nasional, dengan memanfaatkan beragam pangan lokal yang lebih tahan terhadap fluktuasi produksi dan perubahan iklim.
- Memberdayakan ekonomi lokal, karena pengolahan dan distribusi produk pangan lokal membuka peluang usaha di tingkat desa dan daerah.
Selain itu, lembaga riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat bahwa diversifikasi pangan juga bermanfaat untuk kesehatan masyarakat. Pendekatan ini mampu menurunkan risiko masalah kesehatan seperti diabetes dan hipertensi, sekaligus memperbaiki pola konsumsi gizi di berbagai kelompok usia jika diintegrasikan dalam kebijakan nasional.
Penerapan dan Peluang Pangan Lokal
Peneliti Pusat Riset Agroindustri, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Sri Widowati menegaskan bahwa implementasi diversifikasi pangan mencakup dua pendekatan utama, yaitu:
1. Diversifikasi horizontal

Mengalihkan pola konsumsi dari satu sumber karbohidrat utama ke bahan lain yang sama-sama dapat menjadi sumber energi, seperti jagung, ubi kayu, talas, dan sorgum.
2. Diversifikasi vertikal

Mengembangkan berbagai produk olahan berbasis satu bahan pangan, misalnya mengolah ubi menjadi tepung, mi, atau snack bernilai tambah.
Pendekatan ini membuka peluang ekonomi baru, terutama di sektor UMKM, industri pengolahan pangan, dan agribisnis lokal. Jika diolah secara inovatif, bahan pangan ini dapat meningkatkan pendapatan petani, memperluas pasar produk lokal, serta menciptakan lapangan kerja di daerah.
Dengan dukungan kebijakan yang kuat, kolaborasi lintas sektor, dan edukasi konsumsi gizi, diversifikasi pangan mampu menjawab tantangan ketahanan pangan serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia dalam jangka panjang.

Maharani Dwi Puspita Sari
Editor
