Cuan di Tengah Konsolidasi, Cek Saham BBRI dan OASA
- Pergerakan IHSG diprediksi konsolidasi usai tembus rekor baru. Saham BBRI dan OASA menjadi pilihan menarik di tengah sentimen tarif global dan kebijakan MSCI.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan memasuki fase konsolidasi sehat di rentang 8.950 hingga 9.150 setelah sukses mencetak rekor kapitalisasi pasar Rp16.500 triliun. Investor pada perdangangan pekan19-23 Januari 2026, disarankan mencermati peluang pada dua saham pilihan utama, yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA).
Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, menilai bahwa meskipun euforia pasar masih kental, pergerakan indeks kini mulai dihadapkan pada volatilitas jangka pendek akibat sentimen geopolitik Amerika Serikat. Area support di level 8.950 hingga 9.000 menjadi zona krusial sebagai penahan koreksi sekaligus area akumulasi bagi pelaku pasar.
Potensi aksi ambil untung atau profit taking rawan terjadi pada area resistance 9.100 sampai 9.150 seiring dengan kekhawatiran pasar global terhadap rencana tarif dagang AS. Namun, fundamental pasar modal domestik dinilai masih sangat tangguh berkat kebijakan MSCI yang berfungsi sebagai faktor stabilisasi indeks hingga pertengahan tahun ini.
1. Fase Konsolidasi di Level Psikologis
IHSG diperkirakan tidak lagi bergerak searah melainkan akan menguji kekuatan fondasi barunya di level psikologis sembilan ribu sepekan ke depan. Hendra Wardana memproyeksikan rentang gerak indeks yang lebih terbatas sebagai bentuk konsolidasi sehat bagi pasar setelah reli panjang yang menguras tenaga.
Selama IHSG mampu bertahan di atas level support 8.950, tren jangka menengah bursa Indonesia masih dikategorikan positif dan jauh dari sinyal pembalikan arah. Investor diharapkan tetap tenang namun disiplin dalam memantau setiap pergerakan volume transaksi yang terjadi di pasar reguler untuk mengantisipasi volatilitas.
Hendra bilang area 9.150 menjadi batas atas yang menantang untuk ditembus dalam jangka pendek tanpa adanya sentimen positif baru yang signifikan dari dalam negeri. Hendra memaparkan, “Secara teknikal, area 8.950 hingga 9.000 berpotensi menjadi zona penahan koreksi sekaligus area akumulasi yang menarik bagi para investor,” kepada TrenAsia.id pada Senin, 19 Januari 2025.
2. Bayang-bayang Kebijakan Tarif Global
Rencana Amerika Serikat, kata Hendra, memberlakukan tarif dagang 25 persen terkait agenda Greenland menjadi sentimen eksternal utama yang dapat memicu fragmentasi perdagangan dunia. Isu ini diprediksi akan memengaruhi aliran dana asing (capital flow) di bursa domestik, terutama pada saham-saham yang sensitif terhadap kebijakan ekspor-impor.
Meskipun dampak fundamental langsung ke emiten Indonesia relatif minim, sentimen negatif ini sering kali dimanfaatkan investor institusi untuk melakukan realisasi keuntungan di level tinggi. Volatilitas yang tercipta akan menjadi ujian bagi ketahanan mental investor ritel dalam menghadapi fluktuasi harga saham harian.
Kekhawatiran terhadap inflasi global dan perubahan ekspektasi suku bunga menjadi faktor pendamping yang memperumit arah pasar pekan ini. Hendra menjelaskan, “Dampaknya ke IHSG mungkin lebih bersifat sentimen dan aliran dana, namun hal ini tetap valid untuk memicu aksi ambil untung jangka pendek,” jelasnya.
3. Penyeimbang dari Kebijakan MSCI
Hendra menjelaskan faktor stabilisasi pasar datang dari kebijakan sementara MSCI yang mengunci bobot saham dan menggunakan metode free float yang lebih konservatif hingga Mei 2026. Hal ini meminimalisir risiko guncangan besar akibat proses rebalancing indeks global yang biasanya memicu volatilitas tinggi pada saham-saham blue chip.
Kondisi tersebut memberikan ruang bagi investor untuk lebih fokus mengamati fundamental masing-masing emiten tanpa harus terlalu khawatir akan tekanan jual teknis. Kebijakan ini menjadi jaring pengaman agar pergerakan indeks tetap terkendali meski dihantam sentimen geopolitik dari eksternal yang dinamis.
Stabilitas yang ditawarkan oleh mekanisme indeks internasional ini membantu menjaga minat investasi jangka panjang tetap terjaga di pasar modal Indonesia. Hendra menambahkan, “Potensi guncangan akibat rebalancing besar relatif minim, sehingga volatilitas indeks cenderung lebih terkendali dan memberikan ruang bagi fokus fundamental.”
4. Dua Saham Pilihan: BBRI dan OASA
Menghadapi posisi indeks yang tinggi, Hendra menyarankan strategi taktis pada saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dengan rekomendasi Trading Buy menuju target harga Rp4.000. Bank pelat merah ini dinilai memiliki peran vital sebagai penopang utama kapitalisasi pasar IHSG yang sangat dominan.
Selanjutnya, saham PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) menarik dicermati dengan strategi Buy on Weakness pada area beli Rp378 dengan target harga Rp420. Emiten yang bergerak di sektor energi terbarukan ini menawarkan potensi keuntungan menarik bagi investor yang jeli memanfaatkan momentum koreksi teknikal.
Pendekatan disiplin dalam manajemen risiko menjadi kunci utama agar tidak terjebak dalam euforia rekor tertinggi bursa yang rawan koreksi sehat. Hendra berpesan, “Pendekatan disiplin, selektif dalam memilih saham, serta manajemen risiko yang ketat menjadi kunci utama untuk menyikapi pergerakan IHSG saat ini.”

Alvin Bagaskara
Editor
