Tren Global

Kerja Dulu Atau Langsung S2 Setelah S1? Ini Kata Pakar

  • Kerja dulu atau langsung S2 setelah lulus S1? Pakar pendidikan dan praktisi SDM mengungkap plus-minus tiap pilihan serta dampaknya ke karier.
Tips Mengatur Keuangan untuk Anda yang Baru Saja Lulus Kuliah
Tips Mengatur Keuangan untuk Anda yang Baru Saja Lulus Kuliah (Pexels.com/Pixabay)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Perdebatan mengenai pilihan melanjutkan pendidikan S2 langsung setelah lulus S1 atau bekerja terlebih dahulu masih menjadi dilema besar bagi banyak lulusan perguruan tinggi di Indonesia. 

Berdasarkan pandangan pakar pendidikan, praktisi sumber daya manusia, serta pengalaman profesional, kecenderungan rekomendasi saat ini lebih mengarah pada bekerja terlebih dahulu sebelum melanjutkan studi magister.

Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, menilai bahwa pendidikan S2 idealnya ditempuh oleh individu yang sudah memiliki pengalaman kerja. 

Menurutnya, pengalaman di dunia kerja memberikan konteks nyata sehingga ilmu yang diperoleh di bangku kuliah dapat langsung diaplikasikan untuk menyelesaikan persoalan riil. 

“S2 dulu atau kerja dulu? Kalau buat saya, sebaiknya kalian kerja dulu, karena S2 itu pada dasarnya adalah ilmunya sama dengan S1. Hanya bedanya, pesertanya sebagian besar harusnya orang-orang yang pernah bekerja, pernah menghadapi masalah, dan membutuhkan ilmu untuk problem solving,” ungkap Rhenald lewat akun Instagram pribadinya @rhenlad.kasali.

Rhenald Kasali menyarankan lulusan S1 untuk bekerja selama 2–3 tahun terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke jenjang magister.

Baca juga : Cuan Ramadan Menanti! Cek Saham ICBP, MYOR hingga UNVR

Pandangan serupa disampaikan oleh Steve Icampo, Manajer Kepegawaian Global di Amphenol Corporation. Ia menilaI, kombinasi antara pengalaman kerja dan pendidikan lanjutan akan menghasilkan keahlian yang lebih matang dan relevan dengan kebutuhan industri. 

Menurutnya, gelar akademik tanpa pengalaman praktis sering kali kurang memberikan nilai tambah di pasar tenaga kerja global.

Dari sisi praktisi, seorang profesional dengan pengalaman kerja selama 14 tahun menyampaikan pandangan yang lebih kritis. Ia menilai bahwa keputusan untuk langsung melanjutkan dari S1 ke S2 dapat menjadi bentuk “menunda kenyataan” (postponing reality). 

Tanpa pengalaman kerja, lulusan S2 justru berisiko menghadapi peluang kerja yang lebih sempit karena dianggap tidak memiliki pemahaman praktis tentang dunia profesional.

Langsung Lanjut S2 Juga Tak Salah

Meski demikian, melanjutkan S2 secara langsung tetap memiliki keunggulan tersendiri, terutama bagi mereka yang memiliki tujuan karier yang sangat spesifik.

Jalur ini dinilai cocok bagi lulusan yang bercita-cita menjadi dosen, peneliti, atau profesional di bidang tertentu yang memang mensyaratkan gelar magister sejak awal. 

“Akan berbeda tentunya dengan mereka yang ingin menjadi dosen. Sebab, ingin menjadi dosen sebaiknya harus S3. Jadi dia ambil metodologi, scientific, dan kemudian dia pakai untuk melakukan research. Ini akan berbeda sama sekali,” tambah Rhenald.

Selain itu, jalur akademik murni juga memberikan keuntungan berupa pendalaman spesialisasi ilmu, akses ke jaringan akademis, serta peluang masuk ke posisi yang secara formal membutuhkan kualifikasi S2.

Namun, jalur ini juga memiliki tantangan. Biaya pendidikan yang relatif tinggi, potensi “gap” pengalaman kerja dalam curriculum vitae, serta keterbatasan konteks praktis dalam memahami teori menjadi risiko yang perlu dipertimbangkan secara matang oleh calon mahasiswa S2.

Sebaliknya, pilihan untuk bekerja terlebih dahulu lalu melanjutkan S2 dinilai memberikan manfaat yang lebih luas dalam jangka panjang. 

Pengalaman kerja nyata menjadi modal penting yang sangat dihargai oleh perekrut. Selain itu, kemandirian finansial memungkinkan seseorang membiayai pendidikan lanjut secara mandiri, sekaligus membangun jaringan profesional yang lebih luas. 

Baca juga : Mengapa Negara Besar Berebut Kutub Utara yang Mencair?

Dengan pengalaman tersebut, ketika kembali ke bangku kuliah, mahasiswa S2 cenderung memiliki perspektif yang lebih matang, sehingga proses belajar menjadi lebih terarah dan berbasis pemecahan masalah nyata.

Meski demikian, jalur ini juga tidak lepas dari tantangan. Waktu tempuh pendidikan secara keseluruhan menjadi lebih panjang, dan bagi mereka yang mengambil S2 sambil bekerja, dibutuhkan disiplin tinggi dalam mengatur waktu dan energi agar keduanya dapat berjalan seimbang.

Para pakar menekankan keputusan ini sangat bersifat personal dan tidak ada satu pilihan yang benar untuk semua orang. Faktor seperti tujuan karier jangka panjang, tingkat keyakinan terhadap bidang studi, serta kesiapan finansial menjadi penentu utama. 

Calon mahasiswa juga disarankan untuk bertanya pada diri sendiri apakah S2 dibutuhkan sebagai alat untuk memecahkan masalah di dunia nyata, atau sekadar sebagai tambahan gelar akademik.

Dengan demikian, baik melanjutkan S2 langsung maupun bekerja terlebih dahulu memiliki kelebihan dan risikonya masing-masing. Kunci utama terletak pada keselarasan pilihan dengan rencana hidup, kebutuhan karier, dan kesiapan pribadi, agar pendidikan yang ditempuh benar-benar memberikan nilai tambah, bukan sekadar formalitas.