Mengapa Negara Besar Berebut Kutub Utara yang Mencair?
- Pencairan es di Kutub Utara membuka jalur pelayaran baru dan akses sumber daya bernilai tinggi.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA – Pencairan es di Kutub Utara membuka babak baru dalam dinamika geopolitik global. Kawasan Arktik yang selama ini tertutup lapisan es tebal kini semakin terbuka akibat perubahan iklim ekstrem yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir.
Perubahan ini tidak sekadar berdampak pada lingkungan, tetapi juga memicu pergeseran kepentingan politik dan ekonomi dunia. Mencairnya es membuka jalur pelayaran baru yang strategis sekaligus membuka akses terhadap sumber daya alam bernilai tinggi. Kondisi tersebut mendorong persaingan semakin intens di antara negara-negara besar yang memiliki klaim teritorial maupun kepentingan strategis di kawasan Arktik.
Persaingan di wilayah Kutub Utara tidak hanya berorientasi pada ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek keamanan dan kedaulatan. Sejumlah negara memperkuat kehadiran militernya, meningkatkan patroli, serta mempertegas klaim hukum atas wilayah laut dan daratan di sekitar Arktik.
Peta Persaingan di Arktik
Dikutip TrenAsia dari berbagai sumber, Jumat, 16 Januari 2026, Amerika Serikat menempatkan Arktik sebagai bagian penting dari strategi keamanan nasionalnya. Washington menekankan prinsip kebebasan navigasi serta komitmen menjaga jalur pelayaran internasional tetap terbuka.
Keberadaan Pangkalan Pituffik di Greenland menjadi titik kunci proyeksi kekuatan AS di kawasan tersebut. Pangkalan ini didukung patroli rutin angkatan laut dan udara untuk memantau aktivitas negara lain serta menjaga keseimbangan kekuatan di Arktik.
Rusia tampil sebagai aktor paling dominan secara geografis dan militer. Moskow memprioritaskan penguasaan Rute Laut Utara atau Northern Sea Route (NSR) yang membentang di sepanjang pesisir utara Rusia. Jalur ini dinilai krusial bagi kepentingan ekonomi dan logistik nasionalnya.
Untuk mendukung strategi tersebut, Rusia secara agresif membangun dan mengaktifkan kembali pangkalan militer peninggalan era Soviet, serta mengoperasikan armada kapal pemecah es nuklir terbesar di dunia. Kehadiran militer ini sekaligus menopang eksploitasi minyak, gas, dan mineral yang tersimpan di kawasan Arktik.
Kanada memusatkan perhatian pada kedaulatan Jalur Barat Laut atau Northwest Passage (NWP). Pemerintah Kanada menganggap jalur ini sebagai perairan internal, meski sejumlah negara lain memandangnya sebagai jalur pelayaran internasional.
Guna memperkuat klaim tersebut, Ottawa rutin menggelar latihan militer seperti Operasi Nanook dan berinvestasi dalam pengadaan kapal patroli pemecah es yang dirancang khusus untuk kondisi ekstrem Arktik.
Norwegia, sebagai anggota NATO yang berbatasan langsung dengan Rusia di kawasan utara, berfokus pada pertahanan wilayah dan stabilitas regional. Negara ini menjadi tuan rumah markas Pasukan Sekutu Utara NATO dan memiliki pangkalan militer strategis di dekat perbatasan Rusia, menjadikannya salah satu pilar penting dalam arsitektur keamanan Arktik.
Sementara itu, Cina—meski tidak memiliki wilayah di Arktik—menyebut dirinya sebagai “negara dekat Kutub”. Beijing berupaya mendapatkan akses terhadap jalur pelayaran baru dan sumber daya alam melalui investasi infrastruktur, terutama di Rusia.
Selain itu, Cina aktif melakukan penelitian ilmiah di kawasan tersebut serta mengoperasikan kapal pemecah es seperti Xuelong sebagai bagian dari upaya memperkuat kehadirannya di Arktik.
Di luar negara-negara besar tersebut, Uni Eropa, Swedia, Finlandia, serta negara-negara Nordik lainnya juga meningkatkan peran mereka. Fokus utama mereka meliputi stabilitas kawasan, keberlanjutan lingkungan, serta kerja sama penelitian iklim. Kerja sama pertahanan Nordik turut diperkuat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Mengapa Arktik Jadi Rebutan?
Persaingan geopolitik di Arktik tidak dapat dilepaskan dari dampak perubahan iklim yang berlangsung sangat cepat. Kawasan Kutub Utara tercatat mengalami pemanasan dua hingga empat kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.
Berdasarkan data European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) yang mengoperasikan Copernicus Climate Change Service (C3S) pada Februari 2025, suhu di beberapa wilayah Arktik sempat mencapai hingga 20 derajat Celsius di atas normal musiman, bahkan melampaui titik beku. Fenomena ini mempercepat pencairan lapisan es yang telah terbentuk selama ribuan tahun.
Data satelit sepanjang 2025 juga menunjukkan luas es laut Arktik berada di posisi terendah kedua dalam sejarah pengukuran modern. Sejumlah penelitian memperkirakan Samudra Arktik berpotensi kehilangan es lautnya pada musim panas dalam dua dekade mendatang, sebuah perubahan besar yang akan menggeser peta ekonomi dan geopolitik dunia.
Setidaknya terdapat dua faktor utama yang mendorong perebutan pengaruh di Arktik. Pertama, terbukanya jalur perdagangan baru. Rute Laut Utara yang berada di bawah kendali Rusia serta Jalur Barat Laut yang melibatkan Kanada dan Amerika Serikat mampu memangkas jarak pelayaran antara Asia dan Eropa hingga 40 persen dibandingkan Terusan Suez. Efisiensi ini berpotensi menghemat waktu tempuh dan biaya logistik secara signifikan.
Faktor kedua adalah kekayaan sumber daya alam yang tersimpan di bawah lapisan es Arktik. Kawasan ini diperkirakan menyimpan sekitar 13 persen cadangan minyak dunia yang belum ditemukan serta 30 persen cadangan gas alam global. Selain itu, Arktik juga kaya mineral strategis seperti nikel dan unsur tanah jarang (rare earth) yang sangat dibutuhkan dalam pengembangan teknologi modern dan transisi energi.
Ke depan, persaingan di Arktik diproyeksikan akan semakin intens seiring terus mencairnya es. Masa depan kawasan ini akan sangat ditentukan oleh kemampuan negara-negara dunia dalam menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan keamanan nasional dengan tanggung jawab menjaga keberlanjutan lingkungan global.

Ananda Astri Dianka
Editor
