Tren Leisure

Apakah Benar Konsumsi Daging Berpeluang Hidup Hingga Usia 100 Tahun?

  • Para ilmuwan kini menyebut bahwa menghindari konsumsi daging justru dapat menurunkan peluang seseorang untuk mencapai usia 100 tahun.
Ilustrasi wanita sedang mengonsumsi daging sapi.
Ilustrasi wanita sedang mengonsumsi daging sapi. (freepik.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Pola makan vegan dan vegetarian kerap dianggap sebagai pilihan yang lebih sehat. Namun, para ilmuwan kini menyebut bahwa menghindari konsumsi daging justru dapat menurunkan peluang seseorang untuk mencapai usia 100 tahun.

Berdasarkan sebuah studi besar di China, orang yang mengonsumsi daging ternyata memiliki kemungkinan lebih besar untuk mencapai usia lanjut dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan makanan nabati.

Bahkan setelah memperhitungkan faktor lain seperti berolahraga dan merokok, orang yang menghilangkan daging dari menu makanannya tercatat memiliki peluang 19% lebih rendah untuk mencapai usia 100 tahun dibandingkan dengan orang yang mengonsumsi segala jenis makanan.

Tren ini paling terlihat pada kelompok vegan, yang peluangnya untuk mencapai usia 100 tahun tercatat 29% lebih rendah.

Sementara itu, para vegetarian yang masih mengonsumsi telur dan produk susu hanya memiliki kemungkinan sedikit lebih baik, meski peluang mereka tetap 14% lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi daging.

Bahkan pola makan pescetarian yang tengah populer, yang mencakup ikan, dikaitkan dengan penurunan peluang untuk mencapai usia 100 tahun. Para peneliti menilai perbedaan mencolok ini kemungkinan disebabkan oleh kebutuhan nutrisi lansia yang lebih tinggi, yang belum tentu dapat sepenuhnya dipenuhi oleh pola makan vegetarian.

Penulis utama penelitian, Dr Xiang Gao menjelaskan kebutuhan nutrisi pada usia lanjut berbeda dibandingkan usia produktif.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa pada orang dewasa berusia 80 tahun ke atas, pola makan yang mencakup makanan nabati dan hewani lebih mampu mendukung kelangsungan hidup hingga usia 100 tahun dibandingkan pola makan vegetarian yang ketat,” katanya, dikutip dari laman Daily Mail UK.

Penelitian ini melibatkan 5.203 peserta dalam Chinese Longitudinal Healthy Longevity Survey, yang seluruhnya berusia 80 tahun atau lebih saat survei dimulai pada 1998. Dari kelompok tersebut, sebanyak 1.495 orang berhasil mencapai usia 100 tahun, sementara 3.744 lainnya meninggal sebelum usia seratus tahun.

Seorang pria tengah menikmati makanannya yang berupa daging sapi. (freepik.com)

Dengan menggunakan analisis statistik, para peneliti mengkaji data kesehatan para peserta untuk mengetahui sejauh mana pola makan memengaruhi peluang mencapai usia 100 tahun. Secara keseluruhan, peserta yang tetap memasukkan daging dalam pola makan mereka sepanjang periode penelitian memiliki kemungkinan lebih besar untuk mencapai usia 100 tahun.

Meski demikian, temuan ini tidak berarti seseorang dianjurkan beralih ke pola makan karnivora sepenuhnya demi memperpanjang usia. Di antara berbagai kelompok makanan, konsumsi sayuran setiap hari justru memberikan pengaruh paling besar terhadap peluang hidup hingga 100 tahun.

Mereka yang rutin mengonsumsi sayuran setiap hari tercatat memiliki peluang lebih dari 84% lebih tinggi untuk mencapai usia 100 tahun dibandingkan mereka yang tidak melakukannya. Namun, para peneliti juga menemukan pengaruh pola makan terhadap usia harapan hidup tidak sama pada setiap lansia.

Para vegetarian yang memiliki indeks massa tubuh (BMI) sehat sesuai usianya ternyata memiliki peluang yang sama untuk mencapai usia 100 tahun seperti para pemakan daging. Bahkan pada peserta dengan berat badan berlebih, diet tidak memiliki dampak yang signifikan secara statistik terhadap peluang mereka untuk bertahan hidup.

Namun, konsumsi daging setiap hari dikaitkan dengan kemungkinan 44% lebih tinggi untuk mencapai usia 100 tahun bagi mereka yang termasuk dalam kelompok kekurangan berat badan.

Dalam makalah yang dipublikasikan di The American Journal of Clinical Nutrition, Dr. Gao bersama rekan-rekannya menuliskan bahwa pola makan omnivora yang seimbang secara nutrisi, yang mengombinasikan makanan berbasis hewani dan nabati, dinilai lebih mampu mendukung umur panjang pada kelompok lansia sangat tua yang memiliki berat badan di bawah normal.

Meskipun mengurangi konsumsi daging memiliki manfaat kesehatan tersendiri, pada beberapa pasien, manfaat positif ini mungkin lebih kecil dibandingkan risiko pengurangan asupan nutrisi. Penelitian sebelumnya telah mengaitkan pola makan vegetarian dengan kemungkinan lebih tinggi terkena stroke, penyakit batu empedu, dan depresi.

Menurut para peneliti, meskipun diet vegetarian kerap dikaitkan dengan kesehatan jantung yang lebih baik, tingginya prevalensi BMI rendah pada kelompok usia di atas 80 tahun membuat pengurangan konsumsi daging secara berlebihan berpotensi berbahaya.

Mereka menyimpulkan bahwa temuan ini menegaskan pentingnya pola makan seimbang yang mencakup sumber pangan hewani dan nabati untuk mendukung umur panjang yang sehat. Selain itu, diperlukan penelitian lanjutan yang berfokus pada kelompok lansia usia sangat lanjut guna merumuskan panduan gizi yang tepat bagi populasi tertua yang terus bertambah dalam masyarakat menua.