BNI Telah Salurkan Pembiayaan Kepada 1,61 Juta Pelaku UMKM per September 2023
- Porsi pembiayaan segmen UMKM yang diberikan oleh BNI telah mencapai Rp118,3 triliun per September 2023.

Alvin Bagaskara
Author


Nasabah melakukan transaksi melalui mesin ATM di gerai BNI Digital Branch Gandaria City, Jakarta, Kamis, 4 Maret 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
(Istimewa)JAKARTA – Lebih dari 1,61 juta pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) berhasil memperoleh fasilitas pembiayaan dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) per September 2023. Porsi pembiayaan segmen UMKM yang diberikan oleh bank dengan kode emiten BBNI itu telah mencapai Rp118,3 triliun.
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menyatakan perseroan terus berusaha untuk merangsang pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat menjelang akhir tahun. Upaya ini diimplementasikan melalui penguatan dan pengembangan sektor UMKM yang merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia.
“Memanfaatkan momentum akhir tahun ini, BNI terus mendorong penguatan segmen UMKM dengan menyediakan berbagai produk dan layanan yang dirancang khusus, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR),” ujar Okki dalam keterangan tertulis di Jakarta pada Senin, 04 Desember 2023.
- Profil Bayu Krisnamurthi, Wamendag Era SBY yang Jadi Dirut Bulog
- Inilah Strategi Dekarbonisasi Pertamina Shipping
- Piutang Pembiayaan Leasing Tembus Rp463,12 Triliun, Awal Tahun Depan OJK Siapkan Aturan Ini
Okki menyebut perseroan terus berkomitmen untuk secara berkelanjutan memberikan kontribusi positif dalam usaha membangun negara salah satunya melaluo percepatan pertumbuhan UMKM.
Selain berkomitmen menambah porsi kredit, BNI juga konsisten memberikan berbagai pelatihan dan bimbingan untuk membantu para pelaku UMKM supaya usaha yang dikelolannya bertumbuh lebih efisien dan makin berdaya saing dalam melihat peluang.
Bukan hanya menawarkan pelatihan, kata Okki, perseroan saat ini tengah membantu para pelaku UMKM supaya mampu berkembang dan berekspansi baik secara nasional maupun global melalui program Xpora BNI.
Melalui Xpora, kata Okki, para pelaku UMKM tidak hanya didorong meningkatkan kapasitas melainkan juga diberikan pendampingan proses ekspor-impor, termasuk berbagai ragam produk trade finance dengan tujuan mempersiapkan menghadapi tantangan pasar global (business matching).
"BNI juga melakukan sejumlah inovasi dan transformasi untuk mendukung UMKM menembus pasar global. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan kekuatannya pada kantor cabang luar negeri yang dimiliki di pusat-pusat perdagangan dunia," katanya.
Di samping itu, Okki menambahkan di era modern dengan teknologi yang berkembang sangat masif ini digitalisasi adalah salah satu elemen kunci dalam pengembangan UMKM. “BNI telah mengembangkan berbagai layanan perbankan digital, termasuk aplikasi perbankan mobile dan internet banking, untuk memudahkan UMKM dalam mengelola keuangan mereka,” tuturnya.
Perbankan Gemar Investasi
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia di Jakarta, pada Rabu, 29 November 2023, mengatakan pentingnya peran perbankan dalam pemberian kredit khususnya terhadap sektor UMKM.
Menurut Jokowi belakangan ini banyak perbankan yang lebih fokus memperkuat portofolionya ke dalam instrumen seperti surat berharga negara (SBN) atau sertifikat Bank Indonesia (SBI).
“Saya ajak perbankan. Memang harus prudent, hati-hati. Tapi tolong lebih didorong lagi kreditnya, terutama bagi UMKM. Jangan semuanya ramai-ramai membeli ke BI atau SBN," ujar Jokowi.
Jokowi mengakui bahwa perbankan memang secara sah diperbolehkan untuk berinvestasi dalam SBN dan SBI. Sebab, langkah demikian merupakan bagian daripada portofolio yang bertujuan untuk menjaga likuiditas bank tersebut.
Akan tetapi, jika banyak perbankan mulai mengarahkan ke sektor tersebut, imbasnya terjadi penurunan terhadap sektor rill. Alhasil, para pelaku UMKM akan terkena dampaknya. "Terlalu banyak dibeli SBN dan SBI. Jadi ke sektor riil berkurang," ujarnya.
Pria asal Solo itu menyebut, berdasarkan keluh-kesah para pengusaha, saat ini ada perasaan kekurangan uang di peredaran. Di samping itu, dari segi fiskal, realisasi belanja pemerintah daerah dan pusat juga dinilai belum optimal.
Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, portofolio bank dalam SBN pada akhir Oktober 2023 mencapai Rp1.610,94 triliun. Apabila diuraikan, kepemilikan perbankan sendiri terhadap SBN juga telah mencapai 29,18% dari total nilai SBN keseluruhan hingga 31 Oktober 2023.
Sementara itu jika merujuk laporan Analisis Uang Beredar yang dirilis Bank Indonesia (BI), kredit yang telah disalurkan oleh perbankan mencapai Rp6.863 triliun pada Oktober 2023. Angka tersebut tumbuh positif 8,7% secara tahunan, bahkan, BI menargetkan penyaluran kredit hingga akhir 2023 mencapai target 9%-11%.
Mengiyakan data tersebut, Gubernur BI Perey Warjiyo bahkan mengatakan pihaknya tetap optimis pertumbuhan kredit pada 2024 akan moncer di tengah tahun politik atau Pemilu. "Pertumbuhan kredit 10-12% pada 2024," katanya.

Rizky C. Septania
Editor
