Bentrok Sentimen Perang dan Mudik: Saham Transportasi Salah Harga?
- Indeks transportasi anjlok imbas sentimen perang, namun analis melihat status 'salah harga'. Intip rekomendasi saham ASSA, SMDR, hingga BIRD jelang mudik Lebaran.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tengah diuji oleh benturan dua sentimen ekstrem pada perdagangan pekan ini. Di satu sisi, eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu kepanikan global. Di sisi lain, ekonomi domestik justru bersiap menyambut perputaran uang raksasa dari momentum mudik Lebaran 2026.
Tekanan sentimen global tersebut menyeret indeks sektor transportasi ke zona merah di level 1.760,6, turun 52,78 poin atau sekitar 3% pada perdagangan awal pekan, Senin, 16 Maret 2026. Secara year-to-date, indeks ini bahkan telah terkoreksi hingga 13,16%.
Namun di mata para analis, kepanikan pasar justru menciptakan anomali valuasi atau mispricing yang berpotensi menjadi peluang bagi investor jeli. Sinyal bahwa fundamental emiten transportasi sebenarnya masih kuat tercermin dari pergerakan saham PT Eka Sari Lorena Transport Tbk (LRNA).
Di saat indeks sektoralnya tertekan, saham LRNA justru melawan arus dengan melonjak 22,92% ke level Rp236 per saham. Kenaikan ini melanjutkan tren bullish perseroan yang dalam setahun terakhir telah melesat sekitar 50,32%. Kondisi ini memunculkan pertanyaan baru di pasar: bagaimana proyeksi saham transportasi lain di tengah lonjakan mobilitas pada arus mudik Lebaran 2026?
JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tengah diuji oleh benturan dua sentimen ekstrem pada perdagangan pekan ini. Di satu sisi, eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu kepanikan global.
Di sisi lain, ekonomi domestik bersiap menyambut perputaran uang raksasa dari momentum mudik Lebaran 2026. Kepanikan global tersebut menekan indeks sektor transportasi ke zona merah di level 1.760,6, merosot 52,78 poin atau sekitar 3% pada perdagangan awal pekan, Senin, 16 Maret 2026. Secara year-to-date, indeks ini telah terkoreksi hingga 13,16%.
Namun di mata para analis, kepanikan pasar justru menciptakan anomali valuasi atau mispricing yang berpotensi menjadi peluang bagi investor jeli. Sinyal bahwa fundamental emiten transportasi sebenarnya masih kuat tercermin dari pergerakan saham PT Eka Sari Lorena Transport Tbk (LRNA).
Di saat indeks sektoralnya tertekan, saham LRNA justru melawan arus dengan melonjak 22,92% ke level Rp236 per saham. Kenaikan ini melanjutkan tren bullish perseroan, yang dalam setahun terakhir telah melesat sekitar 50,32%. Lantas bagaimana proyeksi saham transportasi lain di tengah arus mudik Lebaran 2026.
Valuasi Murah
Menyikapi fenomena ini, Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, memandang aksi jual masif akibat tensi geopolitik Timur Tengah terlalu berlebihan jika dihadapkan pada fundamental emiten transportasi dalam negeri. Kondisi valuasi yang terdiskon saat ini dinilainya sebagai kesempatan emas bagi pelaku pasar.
“Jika melihat kondisi saat ini, peluang rebound cukup tinggi karena masih banyak saham yang diperdagangkan pada level price to earnings ratio(PER) dan price to book value (PBV) yang relatif rendah,” ujar Sukarno, Senin, 16 Maret 2026.
Memanfaatkan momentum buy on weakness di tengah ketakutan pasar ini, Sukarno telah mengantongi deretan saham incaran. Ia merekomendasikan pemodal untuk mulai mengoleksi saham PT Adi Sarana Armada Tbk. (ASSA) dengan target harga wajar di level Rp1.200.
Selain itu, Sukarno juga menyarankan akumulasi pada saham pelayaran logistik PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) dengan target harga terdekat di Rp410, serta raksasa taksi darat PT Blue Bird Tbk (BIRD) yang dibidik pada level Rp1.800 per saham.
Katalis Mudik
Sementara itu, Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji, memiliki sudut pandang optimis yang didasari oleh katalis raksasa di depan mata. Optimisme ini sejalan dengan proyeksi Kementerian Perhubungan yang memperkirakan 143,91 juta orang, atau lebih dari separuh populasi Indonesia, akan melakukan perjalanan mudik Lebaran tahun ini.
Nafan menegaskan bahwa pergerakan ratusan juta manusia ini adalah jaminan mutu bagi arus kas emiten transportasi. Tidak hanya dari sisi mobilitas penumpang, ledakan transaksi e-commerce menjelang hari raya juga dipastikan akan membuat lini bisnis logistik kebanjiran pesanan.
“Indeks transportasi berpotensi menjadi sektor unggulan karena mendapatkan manfaat dari dinamika momentum mudik. Peningkatan arus kendaraan dan trafik perjalanan biasanya menjadi katalis bagi kinerja emiten di sektor ini,” papar Nafan.
Untuk memaksimalkan cuan dari euforia mudik ini, Nafan Aji menaruh perhatian khusus pada emiten yang memiliki eksposur kuat di bisnis transportasi darat sekaligus logistik paket. Ia sangat merekomendasikan saham PT Adi Sarana Armada Tbk. (ASSA) sebagai pilihan utama.
Berbeda dengan target konservatif Kiwoom Sekuritas, Nafan Aji memproyeksikan target harga yang jauh lebih agresif untuk saham ASSA, yakni menembus level Rp1.540 per lembar saham.

Alvin Bagaskara
Editor
