Tren Pasar

BEI Lobi MSCI: Memahami Akar Masalah Free Float Saham

  • IHSG ambles 5,38% ke 8.497. BEI buka suara, janji diskusi dengan MSCI soal transparansi data free float.
IHSG Ditutup Menguat-4.jpg
Karyawan beraktivitas dengan latar layar monitor pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, 8 September 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG terus tertekan hebat pada perdagangan hari Rabu tanggal 28 Januari ini. Gelombang aksi jual masif tak terbendung menyusul pengumuman mengejutkan dari Morgan Stanley Capital International yang membekukan indeks saham milik Indonesia.

Merespons situasi genting tersebut Bursa Efek Indonesia akhirnya buka suara untuk menenangkan kepanikan pelaku pasar yang terjadi pagi ini. Otoritas bursa menyatakan komitmennya untuk segera berkoordinasi dengan pihak MSCI guna menjawab kekhawatiran terkait transparansi data kepemilikan.

Hingga pukul 10.11 WIB data perdagangan mencatat indeks komposit ambles dalam sebesar 5,38 persen ke level 8.497,33. Tekanan jual terjadi sangat luas di seluruh sektor yang membuat mayoritas saham penghuni bursa berakhir di zona merah membara.

1. Respons Resmi Bursa

Manajemen Bursa Efek Indonesia melalui sekretaris perusahaannya menyatakan bahwa Self Regulatory Organization atau SRO pasar modal tidak tinggal diam. Mereka akan mengambil langkah proaktif untuk meluruskan persepsi negatif global terkait isu transparansi yang menjadi sorotan utama MSCI.

Corporate Secretary BEI Kautsar Primadi menegaskan langkah strategis yang akan diambil oleh regulator pasar modal bersama lembaga terkait lainnya. "Terkait dengan pengumuman dari MSCI pagi ini, OJK, IDX, dan KSEI akan terus melalukan diskusi dengan MSCI," ucapnya pada Rabu, 28 Januari 2026. 

Langkah diplomasi ini sangat krusial untuk mencegah dampak yang lebih fatal seperti penurunan status pasar modal Indonesia ke depannya. Koordinasi lintas lembaga ini diharapkan mampu menghasilkan solusi konkret yang bisa diterima oleh standar investor institusi global.

2. Janji Transparansi

Kautsar mengungkapkan bahwa sebenarnya pihak bursa telah melakukan sejumlah upaya peningkatan keterbukaan informasi sebelum sanksi pembekuan ini dijatuhkan. Salah satunya adalah dengan penyampaian pengumuman data saham beredar atau free float yang lebih rinci di situs web resmi.

Namun otoritas bursa menyadari bahwa langkah tersebut mungkin dinilai belum memadai oleh standar ketat investor global saat ini. "Namun jika dirasakan MSCI belum cukup, kami akan terus melakukan diskusi atas transparansi data sesuai proposal MSCI," kata Kautsar.

Pernyataan ini menyiratkan kesiapan bursa untuk menuruti tuntutan perbaikan data yang lebih komprehensif demi menyelamatkan pasar modal domestik. Kesepakatan baru dengan MSCI menjadi target utama agar pembekuan status saham Indonesia bisa segera dicabut dalam waktu dekat.

3. Data Perdagangan Horor

Statistik perdagangan hingga menjelang siang hari menunjukkan betapa parahnya tingkat kepanikan investor di lantai bursa saham saat ini. Nilai transaksi tercatat melonjak sangat fantastis mencapai Rp18,8 triliun hanya dalam sesi pertama perdagangan akibat aksi jual yang masif.

Berdasarkan data RTI Business tekanan jual terjadi secara luas dan merata di hampir seluruh papan perdagangan bursa efek. Tercatat sebanyak 703 saham melemah drastis dan hanya 61 saham yang mampu menguat serta 36 saham sisanya bergerak stagnan.

Volume perdagangan juga tercatat sangat tinggi mencapai 26,9 miliar lembar saham yang berpindah tangan dalam tempo waktu singkat. Angka ini mencerminkan besarnya likuiditas yang keluar dari pasar saham domestik karena investor memilih mengamankan aset tunai mereka segera.

4. Detail Sanksi MSCI

Melalui pengumuman terbarunya MSCI resmi memberlakukan perlakuan khusus sementara terhadap pasar saham Indonesia mulai hari Selasa kemarin. Kebijakan pembekuan ini dipastikan akan berlaku efektif termasuk pada periode peninjauan indeks atau index review bulan Februari 2026 mendatang.

Sanksi teknis tersebut mencakup pembekuan seluruh kenaikan faktor inklusi asing atau Foreign Inclusion Factor serta jumlah saham atau Number of Shares. Artinya emiten Indonesia tidak bisa menambah bobot mereka dalam indeks global meskipun kinerja fundamentalnya membaik.

Selain itu MSCI juga menghentikan penambahan konstituen baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes selama periode pembekuan ini berlangsung. Pembekuan juga berlaku untuk perpindahan naik antar segmen ukuran indeks termasuk promosi dari Small Cap ke Standard Index.

5. Harapan Pemulihan

Kini bola panas berada di tangan regulator pasar modal Indonesia untuk meyakinkan MSCI sebelum evaluasi besar bulan Mei nanti. Kecepatan dan ketepatan respons dari OJK dan BEI akan sangat menentukan nasib miliaran dolar dana asing di Indonesia.

Jika diskusi yang dijanjikan Kautsar Primadi mampu menghasilkan kesepakatan transparansi baru maka pasar memiliki harapan untuk pulih perlahan. Kepercayaan investor global hanya bisa dikembalikan dengan bukti nyata perbaikan tata kelola data pasar yang transparan dan akuntabel.

Namun jika negosiasi alot dan gagal mencapai titik temu maka bayang bayang penurunan kasta pasar modal masih menghantui. Investor domestik kini menanti langkah konkret selanjutnya dari otoritas bursa untuk meredam volatilitas pasar yang sangat ekstrem hari ini.