Konglomerat Lain Boncos, Harta Prajogo Kok Malah Terbang?
- Prajogo Pangestu jadi orang terkaya RI dengan US$33,3 miliar, satu-satunya yang asetnya naik. Simak update harta Low Tuck Kwong dan Hartono per Januari 2026.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Harta kekayaan konglomerat Indonesia kembali mengalami pergerakan yang sangat volatil pada perdagangan awal pekan ini. Mayoritas dari lima orang terkaya di tanah air harus rela melihat pundi kekayaan mereka menyusut seiring dengan dinamika pasar saham yang terjadi.
Di tengah tren penurunan tersebut hanya Prajogo Pangestu yang berhasil mencatatkan kinerja positif dalam portofolio investasi miliknya. Taipan petrokimia dan energi terbarukan ini sukses mempertahankan posisi puncak sebagai orang paling tajir di Indonesia dengan kenaikan harta yang cukup signifikan.
Sementara itu nama besar lain seperti Low Tuck Kwong dan Duo Hartono justru mengalami koreksi nilai kekayaan. Pergerakan harga saham perusahaan yang mereka miliki menjadi faktor penentu utama naik turunnya peringkat dalam daftar elit miliarder dunia versi Forbes.
1. Dominasi Prajogo Pangestu
Mengutip data real time Forbes per hari Selasa tanggal 27 Januari 2026 peringkat pertama kini ditempati oleh Prajogo Pangestu. Konglomerat senior ini tercatat memiliki total kekayaan bersih yang sangat fantastis mencapai angka US$33,3 miliar dalam daftar tersebut.
Kinerja kekayaan Prajogo menjadi satu satunya yang menghijau di antara lima orang terkaya Indonesia lainnya pada periode perdagangan kali ini. Hartanya tercatat mengalami kenaikan sebesar 1,61% dalam semalam seiring dengan sentimen positif pada saham perusahaan miliknya.
Kenaikan ini semakin mengukuhkan posisi dominan Prajogo di puncak daftar orang terkaya tanah air meninggalkan para pesaing terdekatnya. Diversifikasi bisnis ke sektor energi terbarukan tampaknya menjadi kunci utama ketahanan nilai asetnya di tengah fluktuasi pasar global saat ini.
2. Koreksi Low Tuck Kwong
Sementara itu pemilik perusahaan energi PT Bayan Resources Tbk yaitu Low Tuck Kwong harus puas menempati posisi kedua daftar ini. Taipan batubara ini mencatatkan total harta kekayaan sebesar US$23,2 miliar setelah mengalami tekanan pasar yang cukup berat.
Harta kekayaannya tercatat telah terdepresiasi sebesar 2,21% dibandingkan posisi hari sebelumnya akibat koreksi harga saham perusahaan tambang yang dimilikinya. Volatilitas ini memang menjadi risiko inheren bagi Low Tuck Kwong yang portofolionya sangat terkonsentrasi di satu sektor saja.
Kekayaan raja batubara ini sangat didikte oleh pergerakan saham BYAN karena sumber dananya nyaris secara eksklusif berasal dari sana. Kurangnya diversifikasi membuat nilai asetnya sangat sensitif terhadap perubahan harga komoditas energi di pasar internasional yang sedang bergejolak.
3. Stabilitas Duo Hartono
Pada posisi ketiga dan keempat terdapat nama R Budi Hartono dan saudaranya Michael yang kekayaannya terdaftar secara terpisah. Mereka secara konsisten menjadi orang terkaya kedua dan ketiga di Indonesia berkat kepemilikan saham mayoritas di Bank Central Asia.
R Budi Hartono tercatat memiliki harta kekayaan sebesar US$20,5 miliar sementara sang kakak Michael Bambang Hartono memiliki kekayaan senilai US$19,7 miliar. Kedua bersaudara ini mendapatkan sebagian besar pundi kekayaan mereka dari investasi jangka panjang di sektor perbankan swasta.
Selain perbankan keluarga ini pertama kali menjadi kaya raya dari industri tembakau yang telah mereka geluti sejak puluhan tahun silam. Hingga kini Grup Djarum masih tercatat sebagai salah satu produsen rokok kretek terbesar dan terkuat di Indonesia.
4. Posisi Tahir dan Keluarga
Di urutan kelima terdapat nama Tahir beserta keluarga yang merupakan konglomerat sukses dari industri tekstil perbankan dan kesehatan. Bos Mayapada Group ini tercatat berhasil mengumpulkan total harta kekayaan sebesar US$10,7 miliar dalam daftar elit miliarder Forbes tersebut.
Namun nasib kurang beruntung juga dialami oleh Tahir di mana nilai kekayaannya mengalami kontraksi sebesar 0,46% secara harian. Penurunan ini sejalan dengan tren pelemahan yang dialami oleh mayoritas taipan besar lainnya di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global.
Meskipun mengalami penurunan posisi Tahir dalam jajaran lima besar orang terkaya di Indonesia masih relatif aman dari kejaran pesaing lainnya. Kinerja bisnisnya yang merambah berbagai sektor vital memberikan bantalan yang cukup kuat meski pasar saham sedang terkoreksi.

Alvin Bagaskara
Editor
