Bedah KEEN: Emiten EBT Profitable dengan Valuasi Menarik
- Profil KEEN, emiten EBT mitra TEPCO yang ekspansi lewat PLTM Ordi Hulu dan kontrak PLTS Tobelo. Fundamental perusahaan tetap kokoh dengan valuasi terdiskon.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) semakin mengukuhkan posisinya sebagai emiten energi hijau terkemuka di Indonesia. Langkah strategis terbaru perseroan ditandai dengan penandatanganan kontrak Perjanjian Jual Beli Listrik dengan PLN untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Tobelo.
Proyek strategis yang berlokasi di Halmahera Utara ini memiliki spesifikasi teknis yang sangat modern dan efisien. Pembangkit berkapasitas 10 MW ini dilengkapi dengan teknologi penyimpanan energi baterai sebesar 8.4 MWh, sebuah nilai tambah krusial untuk mengatasi isu intermitensi pasokan.
Manajemen memproyeksikan konstruksi akan dimulai pada 2026 dengan target operasi komersial penuh pada kuartal pertama 2027. Proyek ini diestimasi menyumbang pendapatan konstruksi US$1,8 juta serta pendapatan berulang sekitar US$1,6 juta per tahun selama masa kontrak 20 tahun.
- Baca Juga: Mengapa Academy Awards Disebut Oscar?
Jejak Langkah dan Portofolio Aset
Sejak melantai di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2019, KEEN konsisten membangun rekam jejak solid di sektor energi terbarukan. Melalui entitas anak langsung PT Energy Sakti Sentosa dan PT Bangun Tirta Lestari, perseroan memasok energi bersih yang andal.
Saat ini perseroan telah mengoperasikan enam pembangkit listrik dengan total kapasitas mencapai 65 MW yang tersebar luas. Aset utama meliputi PLTA Pakkat di Sumatera Utara, PLTA Air Putih di Bengkulu, serta PLTM Ma’dong yang berlokasi di wilayah Toraja Utara.
Diversifikasi sumber energi terus dilakukan dengan pengoperasian PLTBm Tempilang berkapasitas 5 MW di Bangka Belitung. Selain itu, perseroan juga didukung oleh entitas anak tidak langsung seperti PT Nagata Dinamika Hidro Madong dan PT Biomassa Energi Jaya dalam operasionalnya.
Model bisnis perseroan berfokus pada perjanjian jangka panjang atau Power Purchase Agreement (PPA) dengan PLN. Kesepakatan ini menjadi fondasi bisnis yang kuat karena menjamin penyerapan produksi listrik dan memberikan arus kas yang stabil bagi keberlangsungan usaha jangka panjang.
Ambisi Masa Depan dan Pipeline Proyek
Perseroan memiliki target ambisius untuk meningkatkan total kapasitas terpasang hingga 100 MW pada tahun 2026 ini. Rencana ini sejalan dengan target bauran energi nasional pemerintah serta pengembangan proyek strategis masa depan seperti PLTMH Ordi Hulu di Sumatera Utara.
Selain itu, KEEN juga tengah menyiapkan pengembangan PLTA Kalaena berkapasitas 75 MW dan PLTA Salu Uro 90 MW. Kedua proyek raksasa di Sulawesi Selatan ini diharapkan menjadi mesin pertumbuhan jangka panjang yang signifikan bagi portofolio aset pembangkit perseroan.
Ekspansi juga merambah ke sektor tenaga surya melalui PT Kencana Energi Matahari dengan proyek PLTS Tempilang. Strategi diversifikasi teknologi dari hidro, biomassa, hingga surya ini menempatkan KEEN sebagai pemain yang paling adaptif dalam peta jalan transisi energi nasional.
Struktur Kepemilikan Saham
Struktur kepemilikan saham perseroan saat ini mencerminkan kepercayaan investor strategis global dan lokal yang sangat kuat. PT Paramata Indah Lestari tercatat sebagai pemegang saham mayoritas dengan porsi kepemilikan mencapai 30,3%, menjadi pengendali utama arah kebijakan strategis perusahaan.
TEPCO Renewable Power Incorporated hadir sebagai mitra strategis global dengan menggenggam 25% saham perseroan yang solid. Masuknya raksasa energi asal Jepang ini memberikan validasi internasional terhadap standar operasional dan tata kelola yang dijalankan oleh manajemen Kencana Energi.
Sementara itu, Keluarga Maknawi tetap memegang peran sentral dalam struktur pengendalian perusahaan yang berkelanjutan. Henry Maknawi tercatat memiliki porsi kepemilikan sebesar 11,02%, sedangkan Jeanny Maknawi Joe memegang porsi 5% saham, memastikan visi pendiri tetap terjaga dengan baik.
Pemegang saham individu lainnya dari keluarga pendiri juga turut memperkuat basis permodalan perusahaan saat ini. Johan Maknawi tercatat memiliki 4,28% saham, Eddy Maknawi menggenggam 3% saham, dan Ratna Maknawi memiliki 2,05% saham dalam struktur kepemilikan perseroan.
Sementara itu, partisipasi publik di saham KEEN juga terlihat cukup likuid dengan kepemilikan masyarakat non-warkat tercatat sebesar 16,98% dari total saham. Struktur ini menciptakan keseimbangan yang sehat antara stabilitas pengendalian oleh pendiri, dukungan mitra global, dan likuiditas perdagangan saham di pasar sekunder.
Kinerja Keuangan dan Valuasi Pasar
Menilik kinerja keuangan hingga kuartal III-2025, KEEN mencatatkan pendapatan usaha sebesar US$25.857.691. Angka ini mengalami penurunan sekitar 16,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dipengaruhi oleh berbagai faktor musiman dan tantangan operasional lapangan yang bersifat sementara.
Penurunan pendapatan tersebut turut menekan perolehan laba bersih perusahaan yang tercatat sebesar US$11.597.588pada periode ini. Capaian tersebut terkoreksi sekitar 20,8% secara tahunan jika dibandingkan dengan laba bersih tahun lalu yang mencapai angka US$14.633.497 pada periode yang sama.
Meski demikian, posisi neraca perseroan tetap solid dengan total aset yang meningkat menjadi US$358.955.246 per September 2025. Kenaikan aset ini mencerminkan investasi berkelanjutan yang dilakukan manajemen untuk mendukung proyek-proyek baru yang sedang dalam tahap konstruksi maupun perencanaan.
Di sisi lain, valuasi pasar KEEN dinilai masih sangat menarik dibandingkan kompetitor sejenis seperti ARKO. Riset Phintraco Sekuritas menyoroti bahwa KEEN diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba 17 kali, jauh di bawah rata-rata industri yang mencapai 47 kali.
Anomali valuasi ini menjadi sorotan karena profitabilitas KEEN secara nominal jauh lebih besar dibanding kompetitornya. Data TrenAsia menunjukkan laba bersih KEEN mencapai Rp165,8 miliar, atau sekitar 3,5 kali lipat lebih tinggi dari laba bersih ARKO pada periode yang sama.
Pada perdagangan Jumat, 23 Januari 2026), saham KEEN ditutup di level Rp1.125 per lembar setelah mengalami koreksi harian. Namun demikian, kinerja saham perseroan dalam satu tahun terakhir masih mencatatkan kenaikan impresif sebesar 72,52%, mencerminkan optimisme pasar terhadap prospeknya.

Alvin Bagaskara
Editor
