Banyak Negara Buktikan Energi Bersih Ciptakan Lebih Banyak Pekerjaan
JAKARTA – Sejumlah negara telah membuktikan keampuhan energi baru terbarukan (EBT), tak hanya dalam konteks lingkungan dan energi, tetapi juga ekonomi, khususnya penciptaan lapangan pekerjaan. Sebut saja China, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. Mereka lebih dulu membuktikan ekonomi berbasis lingkungan ternyata dapat mengatasi krisis. China terpantau memberikan insentif bagi pengembangan transportasi umum. […]

Ananda Astri Dianka
Author


Suasana sejumlah pekerja melintas saat jam pulang kerja di kawasan Dukuh Atas, Sudirman, Jakarta, Rabu, 4 November 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
(Istimewa)JAKARTA – Sejumlah negara telah membuktikan keampuhan energi baru terbarukan (EBT), tak hanya dalam konteks lingkungan dan energi, tetapi juga ekonomi, khususnya penciptaan lapangan pekerjaan.
Sebut saja China, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. Mereka lebih dulu membuktikan ekonomi berbasis lingkungan ternyata dapat mengatasi krisis. China terpantau memberikan insentif bagi pengembangan transportasi umum.
“Dengan begitu, waktu tempuh lebih efisien, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) juga lebih irit,” kata Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa dalam Indonesia Energy Transition Dialogue 2020 secara virtual, Selasa, 8 November 2020.
- 11 Bank Biayai Proyek Tol Serang-Panimbang Rp6 Triliun
- PTPP Hingga Mei 2021 Raih Kontrak Baru Rp6,7 Triliun
- Rilis Rapid Fire, MNC Studios Milik Hary Tanoe Gandeng Pengembang Game Korea
Upaya pemerintah China ini patut dicontoh, pasalnya, negara Tirai Bambu ini dikenal sebagai salah satu negara pengimpor BBM terbesar di dunia.
Tak hanya itu, riset The International Renewable Energy Agency (IRENA) pada 2017, mencatat kenaikan 1,5 kali pada industri EBT menjadi 10,3 juta pekerjaan dibandingkan dengan posisi 2012. Pada 2019, lapangan kerja dari sektor energi terbarukan kembali meningkat jadi 11,5 juta.
Tenaga Surya Paling Potensial Serap Tenaga Kerja
Dari semua sektor EBT, tenaga surya masih jadi yang paling banyak menyerap tenaga kerja yakni berkisar 3,8 juta. Pada 2050 diprediksi ada potensi 100 bidang lapangan kerja baru yang bisa tercipta di sektor EBT.
Dengan dikembangkannya industri EBT, perekonomian akan tetap berjalan baik dengan tanpa mengorbankan lingkungan hidup.
Fabby menambahkan bahwa penambahan satu gigawatt (GW) pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) bisa menciptakan lapangan kerja sampai dengan 30.000 orang. Jika pembangunan PLTS semakin massif, efek domino yang ditimbulkan akan makin besar pula.
Oleh karena itu, Fabby menilai pemberian insentif pada sektor EBT berperan penting untuk mendorong percepatan transisi energi. Belum lagi dengan angka pengangguran yang kian membengkak seiring lamanya pandemi COVID-19 berlangsung.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran periode Agustus 2020 bertambah 2,67 juta orang. Dengan begitu, angkatan kerja di Indonesia yang belum bekerja menjadi sebesar 9,77 juta orang.
Di balik banyaknya pengangguran, ada pandemi COVID-19 yang menjadi salah satu penyebab tingkat pengangguran terbuka di Indonesia mengalami kenaikan dari 5,23% menjadi 7,07%.
