Bagaimana K-Pop Ubah Cerita Fiksi Menjadi Sistem Produksi?
- Dalam K-pop, idol bisa menjelma menjadi pahlawan super, vampir, hingga bajak laut. Semuanya hadir dalam dunia fiksi yang kaya cerita dan latar belakang.

Distika Safara Setianda
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Dalam K-pop, idol bisa menjelma menjadi pahlawan super, manusia serigala, vampir, hingga bajak laut, semuanya hadir dalam dunia fiksi yang rumit dan kaya akan cerita dan latar belakangnya sendiri.
Semesta yang mereka ciptakan sendiri ini menampilkan daya imajinasi genre tersebut, di mana setiap comeback dibingkai sebagai bagian dari narasi yang lebih besar dan berkelanjutan melalui video musik, lirik, serta konsep visual.
Album tidak lagi terasa sebagai rilisan yang berdiri sendiri, melainkan seperti bab dalam sebuah kisah panjang. Film teaser yang penuh teka-teki dan petunjuk tersembunyi menjadikan pembangunan dunia (world-building) sebagai salah satu eksplorasi kreatif paling menyenangkan dalam K-pop.
Namun, seiring waktu, lore tersebut berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar daripada sekadar alat bercerita.
Apa yang awalnya hanya merupakan lapisan naratif yang menyenangkan kemudian berkembang menjadi kerangka produksi yang menghubungkan musik dengan webtoon, gim, dan strategi branding yang lebih luas. Ketika agensi mulai memposisikan grup idol sebagai kekayaan intelektual (IP) jangka panjang, pembangunan dunia menjadi semakin terstruktur dan sistematis.
Di saat yang sama, gelombang artis baru justru mulai menjauh dari alur cerita yang terlalu eksplisit demi menempatkan musik sebagai pusat perhatian, mencerminkan evolusi K-pop sebagai bentuk seni yang semakin komprehensif.
Kelahiran Legenda
Akar dari semesta fiksi dalam K-pop dapat ditelusuri kembali dari grup generasi ketiga, ketika sejumlah grup mulai bereksperimen dengan penceritaan berkelanjutan alih-alih sekadar menghadirkan konsep comeback yang terpisah-pisah.
Salah satu yang paling berpengaruh adalah EXO dari SM Entertainment. Pada masa debutnya, mereka memperkenalkan mitologi yang menggambarkan grup beranggotakan 12 orang tersebut sebagai makhluk luar angkasa dengan kekuatan super yang terhubung melalui narasi “Tree of Life,” sebuah upaya berskala besar yang tergolong awal dalam menempatkan sebuah grup di dalam dunia fiksi yang terstruktur.
Alam semesta terungkap melalui serangkaian teaser sinematik pra-debut yang luar biasa panjang, yang masing-masing membingkai kemampuan anggota dalam mitologi kosmik yang lebih besar.
Narasi itu menjadi lebih jelas dengan rilis awal seperti “MAMA” (2012), yang prolog dramatisnya menjabarkan kisah asal usul grup, dan kemudian film teaser untuk “Call Me Baby” (2015), yang menghidupkan kembali alur kekuatan super dalam latar global.
Meskipun EXO secara bertahap menjauh dari penceritaan supernatural secara terang-terangan, mereka mempersiapkan penggemar K-pop untuk gagasan bahwa identitas sebuah grup dapat membentang di berbagai era dan menjadi bahasa naratif yang kohesif.
Eksperimen EXO membantu menunjukkan bahwa cerita rakyat dapat berfungsi tidak hanya sebagai fantasi, tetapi juga sebagai branding jangka panjang, sebuah strategi yang akan memengaruhi banyak grup K-pop lainnya di masa mendatang.
Evolusi

Pendekatan tersebut mencapai titik balik bersama BTS, yang mengubah konsep lore dari sekadar latar konseptual menjadi sistem penceritaan lintas media.
Alih-alih bergantung pada mitologi fantasi, grup ini membangun narasinya di atas emosi, merangkai tema tentang masa muda, kehilangan, dan pilihan dalam seri album “The Most Beautiful Moment in Life” yang dimulai pada 2015, lalu berlanjut ke “WINGS” (2016) serta trilogi “Love Yourself” (2017-2018).
BTS juga menjadi salah satu pelopor dalam memperluas dunia fiksinya melampaui musik, dengan menghadirkannya ke format berseri seperti webtoon “SAVE ME” dan proyek berikutnya “7FATES: CHAKHO.”
Langkah ini mengubah narasi dari sekadar cerita promosi menjadi kekayaan intelektual yang dapat dikembangkan, menetapkan blueprint yang kemudian akan digunakan oleh grup-grup lain sebagai model produksi yang dapat diulang.
Pada awal 2020-an, pendekatan tersebut menjadi semakin terstruktur dan sistematis.
Grup lain di bawah HYBE Labels, yakni ENHYPEN, menyelaraskan rilisan seperti “BORDER : CARNIVAL” (2021) dan “DIMENSION : DILEMMA” (2021) dengan webtoon serta serial anime bertema vampir, “Dark Moon: The Blood Altar,” sehingga alur cerita terintegrasi langsung ke dalam siklus album mereka.
Rekan satu labelnya di Jepang, &TEAM, mengadopsi kerangka serupa yang dibangun di atas simbolisme serigala dan transformasi musiman melalui proyek “First Howling : WE” (2023), menunjukkan bagaimana narasi bersama dapat disesuaikan untuk pasar yang berbeda.
Sementara itu, SM Entertainment menempuh jalur berbeda lewat girl group aespa, dengan memasukkan avatar digital bernama “æ,” figur virtual “nævis,” serta ruang fiksi “KWANGYA” ke dalam identitas grup, mulai dari single debut “Black Mamba” (2020) hingga album seperti “Savage” (2021) dan “Girls” (2022).
Jika semesta fiksi sebelumnya lebih menitikberatkan pada fantasi berbasis karakter, konsep aespa hadir seiring meningkatnya ketertarikan industri pada kecerdasan buatan dan wacana awal tentang metaverse.
Pendekatan berbasis teknologi ini juga membentuk kembali cara kerja cerita dalam praktiknya, istilah seperti KWANGYA dan nævis tak lagi terbatas pada alur cerita, melainkan masuk ke dalam bahasa promosi SM dan komunikasi dengan penggemar di bawah kerangka besar SM Culture Universe, menandakan bagaimana pembangunan dunia mulai menyatu dengan strategi branding agensi.
Kembali ke Dasar
Terlepas dari kreativitasnya, tidak setiap eksperimen berjalan mulus.
Grup idola wanita JYP Entertainment, NMIXX, mendekati cerita dari sudut pandang yang berbeda, memadukan narasi dengan eksperimen suara melalui dunia fiksi bernama “MIXXTOPIA” dan apa yang mereka sebut “mixxpop,” sebuah gaya produksi yang dibangun di atas pergeseran genre yang tiba-tiba dan struktur lagu yang kontras dalam satu lagu.
Rilisan awal mereka seperti “O.O” dan “DICE” mencerminkan filosofi tersebut, menggabungkan alur cerita lintas dimensi dengan pergantian tempo dan suasana hati yang tiba-tiba. Sebagian pendengar memuji keberanian dan ambisinya, tetapi tak sedikit pula yang menilai istilah yang kurang familiar serta struktur musik yang menantang justru menyulitkan pendengar kasual untuk menikmati.
Ketika eksperimen semacam ini memecah opini publik, posisi lore sebagai tren utama yang mendefinisikan K-pop pun mulai meredup.
Pergeseran tersebut menjadi paling terlihat dengan debut girl group NewJeans pada Agustus 2022.
Kemunculan mereka lewat pop easy listening, yang nyaris tanpa world-building dan lebih berfokus pada tema remaja, keceriaan, dan nuansa nostalgia, menandai adanya penyesuaian arah yang lebih luas di industri.
Seiring K-pop memasuki era pascapandemi dan audiens secara bertahap kembali ke interaksi offline, label semakin condong ke lagu-lagu yang berfokus pada melodi yang dirancang untuk tantangan menari dan percakapan sehari-hari daripada narasi fiksi yang luas.
Dalam konteks saat ini, cerita rakyat itu sendiri belum hilang. Sebaliknya, perannya telah berubah.
Apa yang dulunya berfungsi sebagai mitologi telah berevolusi menjadi alat produksi yang lebih fleksibel, sesuatu yang dapat ditingkatkan atau dikurangi oleh perusahaan tergantung pada respons audiens.
Seiring kebiasaan mendengarkan terus bergeser ke arah kecepatan dan konsumsi berbasis platform, pertanyaan yang dihadapi K-pop bukan lagi apakah cerita latar pantas ada dalam genre ini, tetapi seberapa menonjol cerita latar tersebut perlu ditonjolkan dalam lanskap industri yang terus berubah.

Distika Safara Setianda
Editor
