Tren Global

4 Gunung Serentak Erupsi, Kenapa RI Banyak Gunung Berapi?

  • Empat gunung api Indonesia tercatat erupsi bersamaan. Benarkah aktivitasnya saling berkaitan? Ini penjelasan soal sistem magma dan Cincin Api Pasifik.
LWK202401151800.png
Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki (Foto: Magma Kementerian ESDM)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Empat gunung api di Indonesia tercatat mengalami erupsi pada Minggu, 6 September 2026. Keempatnya adalah Gunung Anak Krakatau, Gunung Semeru, Gunung Ili Lewotolok, dan Gunung Ibu.

Erupsi yang terjadi dalam waktu berdekatan memunculkan pertanyaan apakah aktivitas vulkanik di satu gunung dapat memicu erupsi di gunung lainnya.

Namun, tidka ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa keempat gunung saling terhubung atau erupsinya saling memicu. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan tidak terdapat satu jalur magma yang menghubungkan dapur magma keempat gunung tersebut.

Menurut Daryono, erupsi simultan tersebut merupakan bagian dari dinamika tektonik di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire, tempat Indonesia berada. Dengan kata lain, empat gunung dapat mengalami erupsi pada waktu yang hampir bersamaan tanpa harus memiliki satu sumber magma yang sama.

Gunung Anak Krakatau, Semeru, Ili Lewotolok, dan Ibu memiliki sistem vulkanik masing-masing. Aktivitas pada satu gunung tidak secara otomatis meningkatkan tekanan magma pada gunung lain yang berada jauh darinya.

Baca juga : Meneropong Efek Domino Ekonomi Erupsi Anak Krakatau

Daryono menjelaskan tidak ada mekanisme berupa “jalur pipa” magma tunggal yang menghubungkan dapur magma antargunung tersebut. Karena itu, erupsi yang terjadi hampir bersamaan tidak dapat langsung diartikan sebagai satu rangkaian erupsi yang saling memicu.

Fenomena tersebut lebih tepat dipahami sebagai kemunculan beberapa aktivitas vulkanik secara bersamaan di negara yang memang memiliki banyak gunung api aktif.

Setiap gunung memiliki kondisi dan sistem magmanya sendiri. Ketika tekanan magma dan gas di suatu sistem vulkanik mencapai kondisi yang memungkinkan terjadinya erupsi, gunung tersebut dapat mengalami erupsi tanpa bergantung pada aktivitas gunung lain.

Gunung Apa Saja yang Erupsi pada 6 September 2026?

Empat gunung api yang tercatat mengalami erupsi pada hari yang sama adalah:

1. Gunung Anak Krakatau

Gunung Anak Krakatau berada di kawasan Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra. Aktivitas gunung ini menjadi perhatian besar karena kolom abu vulkaniknya menyebar ke wilayah yang luas.

Erupsi Anak Krakatau juga memberikan dampak langsung terhadap transportasi udara. Pada periode erupsi kali ini, abu vulkanik mengganggu sejumlah bandara, termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Reuters melaporkan lebih dari 1.500 penerbangan dan lebih dari 170.000 penumpang terdampak pada Minggu, 6 September 2026.

Pada Senin, 7 September 2026, abu vulkanik masih berdampak terhadap operasional sejumlah bandara. Reuters melaporkan tujuh bandara masih ditutup dan lebih dari 270.000 penumpang terdampak setelah gangguan penerbangan meningkat menjadi sekitar 2.300 penerbangan.

2. Gunung Semeru

Gunung Semeru berada di Jawa Timur dan merupakan salah satu gunung api yang aktivitasnya terus dipantau secara intensif. Pada rangkaian aktivitas 6 September 2026, kolom abu Semeru dilaporkan mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak. Semeru juga termasuk gunung yang berada dalam pemantauan ketat karena aktivitas vulkaniknya yang relatif tinggi.

3. Gunung Ili Lewotolok

Gunung Ili Lewotolok berada di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur. Gunung ini juga mengalami erupsi pada 6 September 2026 dengan kolom abu sekitar 600 meter di atas puncak. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas vulkanik tidak hanya terjadi di wilayah Jawa dan Sumatra, tetapi juga di kawasan Nusa Tenggara.

4. Gunung Ibu

Gunung Ibu berada di Halmahera Barat, Maluku Utara. Gunung tersebut mengalami erupsi dengan kolom abu sekitar 400 meter di atas puncak. Dengan lokasi yang tersebar dari Selat Sunda hingga Maluku Utara, keempat gunung tersebut justru menunjukkan luasnya kawasan vulkanik Indonesia.

Baca juga : Sejarah Indomie, dari Mi Instan Lokal hingga Jadi Raja Mi Global

Mengapa Indonesia Memiliki Banyak Gunung Api?

Salah satu jawaban utama adalah posisi geologi Indonesia. Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Pacific Ring of Fire, yaitu kawasan yang memiliki aktivitas tektonik dan vulkanik sangat tinggi.

Wilayah Indonesia terbentuk di kawasan pertemuan dan interaksi sejumlah lempeng tektonik. Salah satu proses terpenting dalam pembentukan gunung api adalah subduksi, yaitu ketika satu lempeng menunjam ke bawah lempeng lainnya.

Proses tersebut dapat menghasilkan magma yang kemudian bergerak menuju permukaan bumi.

Dalam jangka geologi yang sangat panjang, aktivitas tersebut membentuk rangkaian gunung api yang tersebar dari Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku hingga sebagian Sulawesi dan wilayah Indonesia timur.

Cincin Api Pasifik merupakan kawasan berbentuk busur yang mengelilingi Samudra Pasifik dan dikenal memiliki aktivitas tektonik serta vulkanik yang tinggi.

Kawasan tersebut mencakup sejumlah batas lempeng aktif yang menjadi lokasi gempa bumi, aktivitas vulkanik dan pembentukan pegunungan. Indonesia menjadi salah satu bagian penting dari kawasan tersebut.

Posisi geologi ini sekaligus menjelaskan mengapa Indonesia memiliki dua sisi yang berlawanan: risiko bencana geologi yang tinggi dan kekayaan sumber daya yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik.

Baca juga : Harga Emas Nyaris Stagnan, Pasar Tahan Napas Jelang 19 September

Indonesia memiliki sekitar 127 gunung api aktif. Data Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut Indonesia memiliki 127 gunung api aktif yang terbagi dalam tiga tipe, yakni Tipe A, Tipe B dan Tipe C. Dari jumlah tersebut, 69 gunung api dipantau secara efektif melalui pos pengamatan gunung api.

Angka tersebut membuat Indonesia menjadi salah satu negara dengan konsentrasi gunung api aktif terbesar di dunia. Dengan jumlah sistem vulkanik sebanyak itu, aktivitas beberapa gunung pada waktu yang berdekatan merupakan sesuatu yang secara geologis dapat terjadi.

Karena itu, fenomena empat gunung api erupsi pada 6 September 2026 tidak serta-merta menunjukkan adanya anomali geologi yang menghubungkan seluruh gunung tersebut.

Di balik risiko bencana, aktivitas vulkanik juga memberikan sejumlah manfaat bagi Indonesia. Material vulkanik yang mengalami pelapukan dapat menghasilkan tanah yang kaya mineral dan mendukung kegiatan pertanian.

Kawasan gunung api juga menjadi sumber mata air, energi panas bumi, bahan galian tertentu serta destinasi wisata alam. Karena itu, keberadaan gunung api tidak hanya dapat dilihat sebagai ancaman.

Indonesia pada dasarnya hidup berdampingan dengan sistem geologi yang aktif dan harus mengelola risiko sekaligus manfaat yang dihasilkan kondisi tersebut.