THR dari Bursa: IHSG Rebound, Saatnya Berburu Yield Dividen Gede
- IHSG tutup manis jelang Lebaran 2026. Cermati strategi berburu 10 saham dengan yield dividen hingga 15% di tengah volatilitas pasar dan proyeksi bursa pasca libur.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) resmi menutup perdagangan terakhir pada Selasa, 17 Maret 2026 sebelum memasuki masa libur panjang perayaan Idul Fitri. Mulai Rabu ini, 18 Maret 2026, aktivitas bursa domestik akan berhenti sementara guna merayakan hari raya keagamaan nasional Indonesia.
Info saja, libur panjang Bursa Efek Indonesia dijadwalkan berlangsung hingga Selasa, 24 Maret 2026, mendatang sebelum kembali beroperasi secara normal pada hari berikutnya. Masa jeda tersebut memberikan waktu bagi pelaku pasar untuk mengevaluasi strategi portofolio investasi di tengah kondisi pasar modal.
Tekanan signifikan melanda pasar modal sepanjang tiga bulan pertama 2026 akibat gejolak ekonomi global serta harga minyak dunia yang melampaui US$100 per barel. IHSG tercatat terpangkas 17,81% secara tahun berjalan, sementara aksi jual bersih investor asing mencapai angka Rp8,51 triliun.
Strategi Dividen dan Rotasi Sektor
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai kondisi volatil ini justru membuka peluang strategis bagi para investor domestik. "Fokus pada dividen. Di tengah pasar yang stabil, saham dengan dividen yang tinggi 4% sampai 7% akan menjadi primadona," katanya dalam riset pada Selasa, 17 Maret 2026.
Penguatan indeks pada hari terakhir perdagangan dipicu oleh rotasi minat investor ke sektor transportasi, barang baku, dan infrastruktur secara signifikan. Fenomena ini menandakan pelaku pasar mulai melakukan akumulasi pada saham siklikal yang memiliki fundamental kokoh setelah mengalami koreksi.
Oleh karena itu, kedisiplinan dalam menerapkan strategi averaging diharapkan dapat meminimalkan potensi kerugian akibat fluktuasi harga saham yang masih terus terjadi. "Karena IHSG masih volatil, maka lakukan pembelian secara bertahap. Bottom sebenarnya tidak pernah diketahui sampai posisi itu sudah lewat," tegas Nafan.
Fase Bottoming dan Sinyal Federal Reserve
Sementara itu, Pendiri Republik Investor, Hendra Wardana, mengamati penguatan indeks mencerminkan meredanya tekanan eksternal serta kembalinya minat beli investor asing yang mulai terbatas. Pelaku pasar kini cenderung mengakumulasi saham-saham pilihan yang telah terkoreksi tajam selama beberapa pekan terakhir di bursa.
Hendra bilang arah pasar selepas libur Lebaran diprediksi sangat bergantung pada sinyal bank sentral Amerika Serikat mengenai arah kebijakan suku bunga mereka. “Jika muncul sinyal dovish, IHSG berpotensi menguji level 7.200 hingga 7.350, namun risiko pelemahan ke area 6.900 tetap terbuka,” papar Hendra.
Lebih lanjut, kata Hendra, sentimen domestik turut diperkuat oleh aksi pembelian kembali saham oleh emiten besar serta rencana kehadiran Danantara sebagai penyedia likuiditas bursa. “Kehadiran Danantara diharapkan mampu meningkatkan kedalaman pasar serta membantu menurunkan tingkat volatilitas pada berbagai saham dengan kapitalisasi pasar sangat besar,” ujarnya.
Rekomendasi Saham Yield Tinggi
Berdasarkan pertimbangan di atas terdapat sejumlah saham yang memiliki dividen yield tinggi mengingat hal ini berdekatan dengan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Dari yang tertinggi ada ITMG dengan yield 13%-15% dan PTBA berkisar 10,5%-12%. Tidak ketinggalan, BJTM juga menawarkan yield 7,8%-12%, BJBR sebesar 7,5%-8,5%, serta ADRO yang diproyeksikan memberikan yield 7%-9%.
Saham berkapitalisasi besar lainnya turut menawarkan yield kompetitif seperti ASII sebesar 5,5%-6,4% dan UNTR di level 5%-6,2%. Emiten perbankan BBRI memproyeksikan yield 4,6%-5,2%, diikuti TLKM pada rentang 4%-4,8%, serta BMRI yang diperkirakan memberikan imbal hasil sekitar 3,8%-4,5% bagi investor.
Keberlanjutan pemulihan indeks saham sepanjang tahun 2026 akan terus dipengaruhi oleh dinamika suku bunga global serta stabilitas ekonomi domestik. Para pelaku pasar tetap memantau rilis data ekonomi terbaru pasca libur panjang Lebaran guna menentukan langkah investasi secara objektif.

Alvin Bagaskara
Editor
