Tekanan Geopolitik Trump Seret Saham Global Melemah
- Saham global melemah akibat tekanan geopolitik dan ancaman tarif Presiden AS Donald Trump, memicu aksi jual dan sentimen negatif di pasar keuangan dunia.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Mayoritas bursa saham Asia dibuka melemah pada perdagangan Rabu pagi (21/1/2026), seiring tekanan yang datang dari Wall Street pada sesi sebelumnya. Pelemahan pasar dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan ancaman tarif baru terhadap sejumlah negara Eropa.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 0,57% ke level 52.690,3. Pelemahan juga terjadi di Hong Kong, dengan indeks Hang Seng terkoreksi 0,34% ke 26.397,04. Sementara itu, Taiex Taiwan mencatat penurunan terdalam di kawasan Asia Timur dengan koreksi 0,89% ke level 31.476,2.
Berbeda dengan mayoritas pasar Asia, indeks Kospi Korea Selatan justru bergerak menguat tipis 0,21% ke level 4.896,14. Namun tekanan kembali terlihat di kawasan Pasifik dan Asia Tenggara. Indeks ASX 200 Australia melemah 0,33% ke 8.787, FTSE Straits Times Singapura turun 0,67% ke 4.795,68, dan FTSE Malay KLCI Malaysia terkoreksi 0,25% ke level 1.694,88.
Tekanan dari Retorika Geopolitik
Pergerakan pasar Asia dibayangi eskalasi retorika geopolitik Presiden Trump, terutama terkait isu Greenland dan hubungan dagang Amerika Serikat dengan Eropa. Trump mengancam akan memberlakukan tarif sebesar 10% mulai 1 Februari 2026 terhadap ekspor dari delapan negara Eropa.
Ancaman tersebut disebut akan meningkat menjadi 25% pada 1 Juni 2026 apabila negosiasi terkait pengalihan Greenland ke Amerika Serikat tidak mencapai kesepakatan. Selain itu, Trump juga mengancam akan mengenakan tarif hingga 200% terhadap produk anggur dan sampanye asal Prancis, menyusul penolakan Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk bergabung dalam rencana yang disebut Trump sebagai “Dewan Perdamaian”.
Ketegangan semakin meluas setelah Trump mengkritik rencana Inggris untuk menyerahkan kedaulatan Kepulauan Chagos kepada Mauritius. Trump menyebut langkah tersebut sebagai salah satu pertimbangan yang memperkuat kepentingan Amerika Serikat terhadap Greenland dari sisi keamanan nasional.
Sejumlah pemimpin Eropa merespons pernyataan tersebut dengan kritik. Beberapa pejabat Uni Eropa menyatakan kebijakan tarif tersebut tidak dapat diterima. Prancis juga mendorong Uni Eropa untuk mempertimbangkan penggunaan Instrumen Anti-Koersi, sebuah mekanisme balasan yang dirancang untuk merespons tekanan ekonomi sepihak dari mitra dagang.

Wall Street Melemah, Pasar Obligasi Berfluktuasi
Tekanan di pasar Asia mengikuti pelemahan signifikan Wall Street pada perdagangan sebelumnya. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 870,74 poin atau 1,76% ke level 48.488,59. Indeks S&P 500 melemah 2,06% ke 6.796,86, sementara Nasdaq Composite terkoreksi 2,39% ke level 22.954,32.
Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat tercatat naik, sementara nilai tukar dolar AS melemah seiring penyesuaian posisi investor terhadap aset Amerika. Pada awal perdagangan Asia, kontrak berjangka indeks saham AS bergerak menguat tipis.
Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Rabu pagi 21 Januari 2026. Hingga pukul 09.11 WIB, IHSG tercatat turun 49,38 poin atau 0,54% ke level 9.085,32.
Tekanan jual terlihat sejak awal perdagangan, sejalan dengan sentimen global yang masih membebani pasar. Dari sisi sektoral, hampir seluruh indeks sektor berada di zona merah. Pelemahan terdalam terjadi pada IDX Sektor Perindustrian yang turun 3,65%.
Penurunan juga dialami sektor properti dan real estate, teknologi, kesehatan, energi, infrastruktur, barang konsumen primer, transportasi dan logistik, barang konsumen non-primer, serta sektor keuangan.
Di tengah tekanan tersebut, IDX Sektor Barang Baku menjadi satu-satunya sektor yang mencatat penguatan dengan kenaikan 0,67%, meski belum cukup untuk menahan pelemahan IHSG secara keseluruhan.

Muhammad Imam Hatami
Editor
