Spill Saham Anti Rungkad Saat Minyak Turun: AKRA Gas?
- Surplus minyak global ancam kinerja emiten migas pada tahun 2026. MNC Sekuritas netral di sektor ini namun rekomendasikan saham AKRA dengan target Rp2.000.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Emiten sektor minyak dan gas seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menghadapi tantangan berat akibat lesunya harga komoditas global. Lonjakan produksi minyak dunia yang tidak seimbang dengan permintaan menciptakan tekanan pada margin keuntungan perusahaan migas.
MNC Sekuritas dalam riset terbarunya memproyeksikan terjadinya surplus pasokan minyak yang cukup signifikan pada periode tahun 2025 hingga 2026 nanti. Kondisi fundamental ini berpotensi menahan laju pertumbuhan kinerja keuangan emiten berbasis energi fosil dalam jangka menengah ke depan.
Meskipun prospek sektoral cenderung netral namun analis masih melihat peluang menarik pada saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) saat ini. Diversifikasi bisnis yang dimiliki perseroan dinilai mampu menjadi bantalan kuat di tengah volatilitas harga minyak mentah dunia.
1. Surplus Minyak Global
Research Analyst MNC Sekuritas Christian Sitorus memperkirakan produksi minyak global akan meningkat sekitar 3,1 juta barel per hari tahun ini. Kenaikan pasokan ini jauh melampaui pertumbuhan permintaan yang hanya mencapai kisaran 770.000 barel per tahun secara global.
Disparitas yang lebar antara suplai dan permintaan tersebut menciptakan kondisi surplus pasokan yang menekan harga jual rata-rata komoditas energi fosil. "Kondisi ini berpotensi menciptakan surplus pasokan dan peningkatan persediaan sehingga memperbesar kemungkinan tekanan harga," kata Christian.
Kebijakan transisi energi global seperti penerapan pajak karbon serta elektrifikasi transportasi turut menahan pertumbuhan konsumsi minyak secara struktural saat ini. Tantangan ini membuat prospek emiten yang murni bergantung pada penjualan minyak mentah menjadi semakin berat ke depannya.
2. Prospek Gas Lebih Cerah
Berbeda dengan minyak subsektor gas justru menunjukkan prospek pertumbuhan yang jauh lebih stabil dan menjanjikan bagi emiten terkait saat ini. Permintaan gas global diproyeksikan akan terus meningkat terutama didukung oleh pertumbuhan pasar di wilayah Asia yang pesat.
Riset sekuritas memperkirakan permintaan gas dunia akan mencapai angka 4.300 miliar kaki kubik pada periode tahun 2026 hingga 2028 nanti. Pasar domestik Indonesia sendiri diprediksi akan mengalami kenaikan permintaan gas yang cukup signifikan dalam tiga tahun ke depan.
PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) yang memiliki eksposur besar pada gas berhasil mencatatkan kinerja positif di tengah tekanan minyak dunia. Fokus pada komoditas gas bumi menjadi strategi ampuh untuk menjaga pertumbuhan laba bersih di tengah volatilitas pasar.
3. Kinerja Kontras MEDC vs ENRG
Dampak penurunan harga minyak sangat terasa pada kinerja keuangan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang mencatatkan penurunan laba bersih signifikan. Laba bersih perseroan terpangkas tajam hingga 68,65 persen secara tahunan akibat realisasi harga minyak yang lebih rendah.
Penurunan kinerja tersebut juga dipengaruhi oleh kontribusi kerugian dari entitas anak usaha pertambangan yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). Tekanan ganda dari sisi harga komoditas dan kinerja anak usaha membebani pencapaian laba akhir tahun perseroan migas tersebut.
Sementara itu, ENRG justru sukses menorehkan pertumbuhan laba bersih sebesar 8,54 persen secara tahunan pada periode sama. Kenaikan rata-rata harga jual gas sebesar 7 persen berhasil mengkompensasi penurunan harga jual minyak mentah perseroan.
4. AKRA Jadi Primadona
Di tengah ketidakpastian sektor migas MNC Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) dengan target harga tinggi. Target harga saham AKRA dinaikkan menjadi Rp2.000 per lembar karena dinilai memiliki model bisnis yang lebih defensif.
Diversifikasi pendapatan yang solid menjadi alasan utama sekuritas menyematkan pandangan positif pada emiten distributor bahan bakar minyak swasta nasional ini. Segmen perdagangan dan distribusi terbukti mampu menopang pendapatan utama perseroan di saat harga komoditas sedang fluktuatif tajam.
Perusahaan berhasil membukukan total pendapatan sebesar Rp32,39 triliun atau tumbuh 13,22 persen secara tahunan hingga akhir kuartal ketiga tahun lalu. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga tercatat tumbuh positif sebesar 12,30 persen secara tahunan.
5. Tantangan Struktural Sektoral
Pemerintah melalui SKK Migas menargetkan investasi hulu migas mencapai US$16 miliar pada tahun 2026 untuk mendongkrak produksi nasional secara agresif. Fokus utama investasi diarahkan pada pengeboran ratusan sumur eksplorasi baru serta penyelesaian berbagai proyek strategis gas nasional kita.
Namun sektor ini masih menghadapi tantangan struktural seperti tingkat penurunan produksi alamiah sumur tua yang tergolong cukup tinggi saat ini. Proses perizinan yang panjang dan berbelit seringkali menghambat realisasi investasi baru di sektor hulu minyak dan gas bumi.
Keekonomian cadangan juga menjadi isu krusial karena tidak semua sumber daya terbukti ekonomis untuk diproduksi pada harga rendah saat ini. "Hanya sekitar 60% sumber daya yang ekonomis pada harga minyak di bawah US$80 per barel," ungkapnya.

Alvin Bagaskara
Editor
