Tren Leisure

Panti Jompo Terbakar, Begini Penanganan Keracunan Gas CO

  • karbon monoksida beracun dan akan sangat berbahaya apabila terhirup. Sebab senyawa karbon monoksida ini dapat mengganggu sel-sel hingga kerusakan pada organ.
kebakaran panti jompo.jpeg

JAKARTA, TRENASIA.ID-Panti jompo di Werdha Damai di Manado Sulawesi terbakar mengakibatkan 16 orang meninggal dan melukai tiga lainnya.

Jimmu Rotinsulu, kepala dinas pemadam kebakaran dan penyelamatan di kota Manado Sulawesi Utara mengatakan bahwa petugas pemadam kebakaran menerima laporan kebakaran di panti jompo Werdha Damai pada Minggu pukul 20:31 waktu setempat.  “Ada 16 orang yang meninggal; tiga [orang] mengalami luka bakar,” katanya.

Jimmy mengatakan, banyak jenazah korban ditemukan di dalam kamar mereka, dan menambahkan bahwa banyak penghuni lanjut usia kemungkinan sedang beristirahat di kamar mereka pada malam hari ketika kebakaran terjadi.

Menurutnya, pihak berwenang berhasil mengevakuasi 12 orang – semuanya tidak terluka – dan memindahkan mereka ke rumah sakit setempat.

Rekaman menunjukkan api  membakar panti jompo tersebut, sementara warga setempat membantu mengevakuasi lansia.

Kebakaran tersebut merupakan laporan terbaru tentang kebakaran mematikan di Indonesia. Awal bulan Desember ini, kebakaran melanda gedung perkantoran tujuh lantai di ibu kota Indonesia, Jakarta, menewaskan sedikitnya 22 orang.

Pada tahun 2023, setidaknya 12 orang tewas di bagian timur negara itu setelah terjadi ledakan di sebuah pabrik pengolahan nikel.

Karbon Monosikda

Selain luka bakar, salah  penyebab utama kematian para korban kebakaran adalah menghirup karbon monoksida (CO). 

Berkaitan dengan hal tersebut, dokter spesialis paru di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta sekaligus dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, dr. Ika Trisnawati,  mengatakan pertolongan tepat dan cepat harus segera dilakukan.

Ika menjelaskan karbon monoksida beracun dan akan sangat berbahaya apabila terhirup. Sebab senyawa karbon monoksida ini dapat mengganggu sel-sel hingga kerusakan pada organ. Terlebih lagi dalam kasus ini yang merupakan kebakaran di tempat tertutup sehingga risikonya lebih besar karena gas akan tetap berada dalam satu tempat dan tidak berdilusi. 

“Kalau dalam satu ruangan tertutup itu cuma berputar-putar di situ saja sehingga yang terhirup tentu saja konsentrasinya lebih besar dengan yang di udara terbuka,” ujarnya Senin 29 Desember 2025.

Dalam peristiwa kebakaran, kata Ika, ketika korban masih tersadar, hal yang bisa dilakukan adalah dipindahkan ke ruang terbuka yang udaranya bersih. Apabila korban sudah tidak tersadar tetapi masih memiliki denyut jantung, lakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP), yaitu memompa jantung dan memberikan oksigenasi dengan napas buatan. 

“Tujuannya memberikan oksigen sebanyak mungkin. Semakin cepat ditolong akan lebih baik. Semakin lambat, semakin sudah tidak bisa. Jadi, sudah terjadi kerusakan organ terutama otak,” paparnya.

Berkaca dari kasus kebakaran yang ada, Ika merasa bahwa mungkin sebagian dari orang-orang belum terbiasa untuk mempunyai detektor karbon monoksida yang sebenarnya penting untuk mendeteksi kebocoran, gas, hasil pembakaran, dan lain-lain. 

Perlu diperhatikan juga bahwa rumah sudah seharusnya selalu mempunyai ventilasi, memeriksa alat-alat yang menggunakan gas hingga sistem instalasi listrik. Apalagi sistem instalasi listrik itu yang paling sering menyebabkan kebakaran.

 “Kalau terjadi kebakaran, segera evakuasi. Kalau bisa cari kain untuk menutup hidung dan mulut. Lebih baik dibasahkan, itu lumayan untuk menyaring karbon monoksida walaupun tidak 100%. Kalau tidak ada, tutup dengan tangan,” terangnya.

Ika menyimpulkan bahwa dengan mengenal dan mengetahui tanda serta bahaya dari menghirup karbon monoksida, maka penting untuk membantu dan memindahkan korban ke area udara yang tidak tercemar, serta memberikan pertolongan segera.