Tren Pasar

Siap Dagang Senin? Cek Arah IHSG dan Sentimen Emas

  • IHSG tutup pekan di 8.537 jelang Natal. Analis proyeksi pasar sideways akhir tahun di tengah rekor harga emas. Cek rincian transaksi sepekan ini.
Ilustrasi Bursa - Panji 5.jpg
Layar menampilkan pergerakan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis 12 Januari 2023. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi meliburkan perdagangan saham pada tanggal 25 hingga 26 Desember 2025. Pelaku pasar kini bersiap menantikan pembukaan kembali Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin, 29 Desember 2025. 

Investor domestik mulai menyusun strategi menghadapi pekan perdagangan terakhir tahun ini. Analis memproyeksikan pergerakan indeks akan cenderung konsolidatif pada pembukaan pasar awal pekan depan nanti. 

Absennya katalis ekonomi baru selama libur panjang Natal membuat sentimen pasar menjadi sangat minim penggerak signifikan. Tekanan aksi ambil untung diperkirakan masih membayangi pergerakan saham unggulan di bursa.

Sebelumnya IHSG menutup perdagangan hari Rabu, 24 Desember 2025 dengan koreksi 0,55% ke level 8.537. Penurunan ini mencerminkan sikap hati-hati investor yang memilih mengamankan aset tunai selama periode libur panjang perayaan Natal. Riset Phintraco Sekuritas menyoroti penguatan emas sebagai sentimen eksternal utama.

1. Fase Konsolidasi Minim Katalis

Investment Analyst Edvisor Profina Visindo Indy Naila menilai pergerakan IHSG saat ini terjebak fase konsolidasi. "IHSG bergerak cukup sideways ke melemah karena sentimen data ekonomi belum terlalu menggerakkan market dalam jangka pendek," ujar Indy dalam keterangan resminya kepada media, Kamis lalu.

Kondisi pasar saat ini membuat ruang gerak IHSG relatif terbatas dalam waktu perdagangan singkat. Indy menambahkan bahwa saat ini IHSG masih berada di fase konsolidasi dan berpotensi menguji level support. Indeks diprediksi bergerak terbatas pada rentang area 8.414 hingga 8.649.

Investor disarankan tetap selektif memilih saham potensial di tengah situasi pasar yang cenderung sepi transaksi. Manajemen risiko harus diterapkan disiplin guna mengantisipasi potensi koreksi lanjutan jelang libur panjang akhir tahun. "Strategi menunggu katalis baru menjadi pilihan bijak sebelum akumulasi," tegasnya.

2. Rapor Merah Perdagangan Sepekan

Data perdagangan BEI selama periode singkat pekan lalu menunjukkan adanya tekanan koreksi pada indeks utama. IHSG tercatat mengalami penurunan tipis sebesar 0,83% selama periode tanggal 22 hingga 24 Desember 2025. Indeks berakhir pada posisi level 8.537 setelah fluktuasi harga cukup dinamis.

Penurunan kinerja IHSG tersebut sejalan dengan penyusutan nilai kapitalisasi pasar bursa terkoreksi sebesar 1,17%. Total nilai pasar modal Indonesia kini tercatat berada di angka Rp15.603 triliun pada akhir pekan ini. Angka tersebut menyusut signifikan dari posisi sebelumnya yang mencapai Rp15.788 triliun.

Koreksi ini mencerminkan dinamika pasar yang cenderung berhati-hati menjelang momen penutupan buku akhir tahun 2025. Pelaku pasar menahan diri untuk tidak terlalu agresif melakukan transaksi pembelian aset berisiko tinggi saat ini. Tekanan jual jangka pendek mendominasi pergerakan harga saham kapitalisasi besar.

3. Rekor Emas dan Sentimen Asia

Tim Riset Phintraco Sekuritas mencatat indeks bursa saham Asia ditutup bervariasi pada sesi perdagangan terakhir. "Pemerintah Jepang akan menerbitkan obligasi pemerintah senilai sekitar 29,6 triliun Yen untuk mendanai anggaran fiskal tahun 2026," tulis Tim Riset Phintraco Sekuritas dalam laporannya yang terbit baru-baru ini.

Harga emas pasar spot menguat mencapai level tertinggi baru di atas US$4.500 per troy oz. Rekor harga logam mulia ini terjadi untuk pertama kalinya dalam sejarah perdagangan komoditas global dunia. Lonjakan harga emas ini didorong oleh pelemahan indeks Dolar Amerika Serikat.

Kenaikan harga emas juga dipicu oleh meningkatnya ketegangan politik serta ekspektasi kebijakan moneter bank sentral. "Sentimen ini didorong ekspektasi berlanjutnya penurunan suku bunga The Fed pada tahun 2026 nanti," tambah riset tersebut. Investor global cenderung memburu aset aman di tengah ketidakpastian.

4. Transaksi Harian Anjlok Drastis

Penurunan aktivitas perdagangan terlihat jelas dari rata-rata frekuensi transaksi harian yang terjadi di lantai bursa. Data statistik menunjukkan adanya penurunan frekuensi sebesar 2,23% menjadi 2,74 juta kali transaksi harian kemarin. Angka ini lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya yang mencapai 2,80 juta.

Nilai transaksi harian di bursa efek mencatatkan penyusutan angka yang tergolong cukup signifikan pekan ini. Rata-rata nilai transaksi harian BEI anjlok sebesar 30,91% menjadi hanya Rp23,70 triliun per hari perdagangan. Angka ini turun jauh dari pencapaian pekan sebelumnya yakni Rp34,30 triliun.

Kondisi sepi transaksi sering terjadi pada periode akhir tahun saat banyak investor institusi melakukan rebalancing. Portofolio investasi ditata ulang hati-hati untuk mempersiapkan strategi menghadapi tahun perdagangan baru nanti kedepannya. Nilai transaksi diperkirakan baru akan kembali normal setelah libur tahun baru usai.

5. Asing Mulai Serok Saham

Meskipun IHSG secara keseluruhan mengalami tekanan jual, investor asing justru mencatatkan aksi beli bersih saham. Data perdagangan hari terakhir pekan ini menunjukkan net buy asing senilai Rp2,45 triliun di seluruh pasar. Aksi beli ini memberikan sedikit angin segar di tengah koreksi indeks.

Namun apabila ditarik data sepanjang tahun berjalan 2025, investor asing secara akumulatif mencatatkan nilai jual. Total net sell asing tercatat mencapai angka jumbo sebesar Rp18,36 triliun sejak awal tahun ini. Angka tersebut menunjukkan dana asing masih banyak keluar dari pasar saham domestik.

Arus keluar modal asing sepanjang tahun ini menjadi salah satu penekan utama kinerja IHSG tahunan. Meskipun ada aksi beli sesaat akhir tahun, tren jangka panjang masih menunjukkan outflow yang cukup deras. Investor domestik kini memegang peranan besar menjaga stabilitas pasar modal.