Sejarah Buktikan IHSG Selalu Bangkit, Gimana Kali Ini?
- Pasar saham Indonesia memasuki periode tergelap sejak pandemi Covid-19. Apakah IHSG sudah mendekati bottom pada 2026?

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sedang menjalani salah satu periode tergelapnya dalam dua dekade terakhir. Dari puncak sejarah di level 9.135 pada 20 Januari 2026, indeks kini merangkak di kisaran 6.300-an, menyiratkan penurunan hampir 30% hanya dalam empat bulan.
Kebijakan ekspor satu pintu yang diumumkan Presiden Prabowo Subianto pekan ini hanyalah babak terbaru dari penderitaan pasar yang sudah berlangsung sejak awal tahun.
Di balik angka-angka itu, ada jutaan investor ritel yang menanggung kerugian, dan satu pertanyaan besar yang menggantung, kapan IHSG bisa bangkit?
Rentetan Pukulan: Dari ATH ke Jurang
IHSG terus mengalami tekanan berat sepanjang 2026 dan mencatat salah satu periode koreksi terdalam dalam sejarah pasar modal Indonesia. Setelah sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) di kisaran 9.135 pada 20 Januari 2026, indeks perlahan jatuh akibat kombinasi tekanan global dan domestik yang datang secara beruntun.
Dalam waktu kurang dari tiga bulan, pasar dihantam tiga guncangan besar sekaligus, pembekuan sementara indeks Indonesia oleh MSCI, perang AS-Iran yang mendorong lonjakan harga minyak dunia, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia akibat asumsi APBN yang mulai meleset dari target.
Tekanan tersebut membuat investor asing terus melakukan aksi jual dan memperparah pelemahan IHSG hingga memasuki Mei 2026. Kondisi ini turut menyeret nilai tukar rupiah ke level terendah dalam sejarah dan memaksa Bank Indonesia mengambil langkah agresif melalui kenaikan suku bunga acuan.
Baca Juga : Kondisi Emiten Tambang Usai Rencana Ekspor Satu Pintu via BUMN
Deretan Data Selama Kejatuhan IHSG
- IHSG turun 23,1 persen dari ATH 9.135 pada 20 Januari 2026 ke level 7.022 pada 16 Maret 2026.
- Koreksi dipicu oleh tiga faktor utama:
- pembekuan sementara indeks Indonesia oleh MSCI,
- perang AS-Iran yang membuat harga minyak melonjak lebih dari 40 persen,
- meningkatnya risiko fiskal Indonesia akibat tekanan harga minyak dan kurs rupiah.
- Sepanjang Januari hingga Mei 2026, IHSG selalu mencatatkan penurunan bulanan selama lima bulan berturut-turut.
- Penurunan bulanan terbesar terjadi pada Maret 2026 dengan koreksi mencapai 14,42 persen.
- Dari awal tahun hingga penutupan 19 Mei 2026, IHSG telah turun sekitar 26,32 persen ke level 6.370,68.
- Penutupan tersebut menjadi level terendah IHSG dalam satu tahun terakhir.
- Koreksi harian lebih dari 3 persen sudah terjadi tujuh kali sejak Mei 2025.
- Nilai tukar rupiah melemah hingga Rp17.705 per dolar AS, menjadi penutupan terburuk sepanjang sejarah.
- Pada 20 Mei 2026, Bank Indonesia menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.
- Kenaikan suku bunga dilakukan untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik di tengah tekanan geopolitik global dan pelemahan rupiah.
Sejarah : IHSG Pernah Lebih Parah dari Ini
Untuk memahami seberapa dalam kejatuhan IHSG saat ini, kondisi pasar 2026 perlu dibandingkan dengan berbagai krisis besar yang pernah terjadi sebelumnya.
Secara historis, koreksi yang dialami IHSG memang sudah masuk kategori berat, tetapi belum mencapai level kehancuran ekstrem seperti krisis finansial global 2008 maupun crash saat pandemi Covid-19.
Data historis menunjukkan pasar saham Indonesia beberapa kali mengalami fase tekanan besar akibat kombinasi sentimen global, keluarnya dana asing, hingga kepanikan investor domestik. Namun setiap periode memiliki karakter dan tingkat keparahan yang berbeda.
Kondisi 2026 menjadi unik karena tekanan datang hampir bersamaan, konflik geopolitik global, pelemahan rupiah, krisis kepercayaan investor asing, serta volatilitas ekstrem yang memicu trading halt di Bursa Efek Indonesia.
Data Historis IHSG
- Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia sejak tahun 2000, drawdown IHSG saat ini sekitar minus 23% dari puncak ke dasar.
- Koreksi tersebut berada di level yang mirip dengan beberapa episode krisis sebelumnya:
- Taper Tantrum 2013: turun 24%
- China Scare 2015: turun 25%
- Selloff Liberation Day 2025: turun 25%
Dibandingkan Krisis Covid-19
- Koreksi IHSG 2026 masih lebih rendah dibanding market crash saat pandemi Covid-19.
- Pada periode pandemi:
- IHSG turun sekitar 37% dari puncak ke titik terendah pada 24 Maret 2020.
- Artinya, tekanan pasar saat ini memang besar, tetapi secara historis belum separah pandemi.
Krisis Terburuk dalam Sejarah IHSG
Berdasarkan catatan sejak 1998, terdapat dua periode ketika IHSG mengalami penurunan bulanan selama enam bulan berturut-turut:
Krisis 2008
- IHSG turun terus dari Juni hingga November 2008.
- Penurunan bulanan terbesar mencapai 15% dan 31%.
- Dalam setahun penuh, IHSG anjlok sekitar 50%.
- Penyebab utama:
- krisis subprime mortgage global,
- pecahnya gelembung saham Grup Bakrie,
- kepanikan pasar finansial dunia.
Krisis 2002
- IHSG terkoreksi dari Mei hingga Oktober 2002.
- Tekanan dipicu dampak pecahnya dotcom bubble yang melemahkan bursa regional Asia.
Kondisi IHSG 2026 Saat Ini
- Secara historis, kondisi pasar saat ini memang sangat berat.
- Namun koreksi 2026 belum mencapai level kehancuran seperti krisis 2008.
- Di sisi lain, pasar juga belum menunjukkan tanda pasti bahwa fase bottom sudah terbentuk.
Trading Halt Jadi Alarm Besar Pasar
- Januari 2026 menjadi salah satu periode paling volatil dalam beberapa tahun terakhir.
- Bursa Efek Indonesia sempat mengalami trading halt akibat penurunan ekstrem.
- Trading halt pertama terjadi pada 28 Januari 2026 saat IHSG anjlok hingga 8% dalam sehari.
- Dua hari berturut-turut pasar mengalami tekanan ekstrem yang memicu penghentian sementara perdagangan.
Baca juga : Deadline 29 Mei Jangan Jadi 'Penampung', Ini Taktik Serok Saat Salah Harga!
IHSG Jadi Salah Satu Indeks Terburuk di Dunia
- Berdasarkan data Bloomberg, pada kuartal I 2026:
- IHSG sempat menjadi indeks saham dengan performa terburuk di dunia secara year-to-date.
- Kondisi ini mencerminkan tingginya tekanan terhadap pasar modal Indonesia dibanding negara lain pada periode tersebut.
Kondisi penurunan bulanan IHSG lima bulan beruntun ini mendekati level terburuk, yakni enam bulan beruntun. Berdasarkan analisis probabilitas historis sejak 1998, bottom IHSG terburuk diperkirakan terjadi di Juni 2026.
Jika proyeksi ini tepat, maka secara statistik, siapapun yang masuk di level 6.000-an sedang membeli di dekat dasar, persis seperti yang dilakukan investor-investor terbaik dalam setiap krisis besar sebelumnya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan tidak menyembunyikan optimismenya. "Bisa lah IHSG 10.000, ini kan masih gonjang-ganjing. Kalau ekonomi fundamentalnya bagus, IHSG nanti naik cepat," ujar Purbaya dalam media briefing pada 27 April 2026 yang lalu.
Pasar boleh saja meragukan janji itu. Tapi data historis membuktikan satu hal yang konsisten, IHSG selalu bangkit. Yang berbeda hanyalah siapa yang masih memegang saham saat fajar tiba.

Muhammad Imam Hatami
Editor
