Seberapa Besar Dampak FTSE ke BUMI, ITMG, JSMR, dan WIFI?
- Ciptadana Sekuritas Asia rekomendasikan BUMI, ITMG, JSMR, dan WIFI di tengah sentimen pasar tertekan keputusan FTSE Russell menunda review.

Ananda Astri Dianka
Author


JAKARTA — Riset teknikal Ciptadana Sekuritas Asia merekomendasikan empat saham sebagai pilihan trading jangka pendek pada perdagangan Selasa, 10 Februari 2026, yakni PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR), dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI).
Rekomendasi ini disampaikan di tengah kondisi pasar saham domestik yang masih dibayangi sentimen negatif dari FTSE Russell, yang memutuskan menunda review indeks Indonesia seiring berlangsungnya proses reformasi pasar modal.
Untuk saham BUMI, Ciptadana menilai tren menengah masih berada dalam fase naik meski saat ini mengalami koreksi wajar. Pada perdagangan Senin (9/2), saham BUMI melonjak 6,19% dan ditutup di level Rp240. Secara teknikal, harga masih bertahan di atas garis tren naik dan sempat menguji area koreksi Fibonacci 0,618, yang dinilai sehat dalam tren bullish. Strategi yang direkomendasikan adalah beli spekulatif di Rp240 dengan batas rugi Rp220 dan target keuntungan di sekitar Rp265.
Sementara itu, saham ITMG dinilai masih berada dalam tren turun secara menengah. ITMG ditutup naik tipis 0,34% ke level Rp22.025 pada perdagangan sebelumnya. Pergerakan harga yang masih mendatar di area bawah menunjukkan minat beli yang belum kuat, dengan level support terdekat di kisaran Rp21.800. Ciptadana merekomendasikan beli spekulatif di Rp22.025, cut loss di Rp21.775, dan target jangka pendek di Rp22.300.
Untuk JSMR, analis melihat munculnya sinyal awal pembalikan arah setelah cukup lama bergerak dalam tren turun. Saham Jasa Marga ditutup menguat 1,91% ke Rp3.740. Pola harga mulai membentuk level terendah yang lebih tinggi dan bergerak di atas area pergerakan jangka pendek. Indikator stochastic juga berada di area atas, menandakan momentum kenaikan jangka pendek cukup kuat. Selama bertahan di atas Rp3.620, arah pergerakan saham dinilai masih positif. Strategi yang disarankan adalah beli spekulatif di Rp3.740 dengan batas rugi Rp3.610 dan target Rp3.830.
Adapun saham WIFI masih berada dalam tren turun besar meski pada perdagangan sebelumnya naik 2,27% dan ditutup di Rp2.250. Saat ini, harga sedang menguji area support penting di kisaran Rp2.150–Rp2.200. Ciptadana menilai pergerakan WIFI lebih merupakan pantulan teknikal dari kondisi jenuh jual. Jika support tersebut ditembus, risiko penurunan lanjutan terbuka hingga area Rp1.990. Strategi yang direkomendasikan adalah beli spekulatif di Rp2.250 dengan batas rugi Rp2.140 dan target keuntungan di Rp2.450.
Grafik Pergerakan IHSG
Sumber: Ciptadana Sekuritas
Dari sisi pasar secara keseluruhan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (9/2) ditutup menguat 97 poin atau 1,22% ke level 8.032, dengan pergerakan intraday di rentang 7.863 hingga 8.032. Saham DSSA, EMAS, dan BRMS menjadi motor utama penguatan indeks.
Secara teknikal, IHSG dinilai sedang berupaya stabil setelah koreksi tajam sebelumnya. Indeks memantul dari area support 7.480–7.550 dan kini bergerak di sekitar level psikologis 8.000. Meski demikian, pergerakan tersebut masih dikategorikan sebagai fase rebound dalam tren konsolidasi. Resistance terdekat berada di level 8.525, disusul resistance kuat di 9.170. Agar tren naik berlanjut secara meyakinkan, IHSG perlu menembus dan bertahan di atas 8.525. Sebaliknya, kegagalan bertahan di area saat ini berpotensi mendorong indeks kembali menguji 7.850 hingga 7.480.
Indikator stochastic yang mulai bergerak naik dari area bawah mengindikasikan awal pemulihan, meski masih memerlukan konfirmasi lanjutan dari pergerakan harga.
Sentimen pasar saat ini juga tertekan oleh keputusan FTSE Russell yang menunda review indeks Indonesia yang semula dijadwalkan pada Maret 2026. FTSE sementara menghentikan penerapan sejumlah aksi korporasi terkait indeks, termasuk penambahan dan penghapusan saham, perubahan klasifikasi ukuran, hingga penyesuaian bobot investabilitas.
Keputusan tersebut menyusul langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 29 Januari 2026 terkait penguatan integritas dan transparansi pasar, serta publikasi rencana reformasi pasar oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 5 Februari 2026. FTSE menegaskan kebijakan ini tidak berkaitan dengan klasifikasi negara dan pengumuman klasifikasi berikutnya tetap dijadwalkan pada 7 April 2026.
Menurut Ciptadana, langkah FTSE ini relatif sudah diperkirakan, terutama setelah kebijakan serupa dari MSCI. Dampaknya, sentimen pasar cenderung negatif dan mendorong investor bersikap lebih hati-hati sambil menunggu kepastian implementasi reformasi pasar.
Dalam kondisi tersebut, Ciptadana menilai strategi trading jangka pendek dengan disiplin manajemen risiko menjadi relevan, seiring masih terbukanya peluang teknikal pada saham-saham pilihan analis.

Ananda Astri Dianka
Editor
