Rapor Kuartal III-2025: MDKA Pangkas Rugi, Anak Usaha Makin Kinclong
- MDKA pangkas rugi 48% di Kuartal III 2025 berkat margin emas tinggi. Anak usaha MBMA catat kenaikan laba 37% didukung efisiensi tambang SCM.

Alvin Bagaskara
Author


Presiden Direktur PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), Tri Boewono (kiri) bersama dengan Komisaris MDKA Garibaldi Thohir (tengah) dan Komisaris Independen MDKA M. Munir (kanan) di sela Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa (RUPST dan RUPSLB) di Jakarta, Rabu, 29 Juli 2020. MDKA mencatatkan kinerja gemilang pada 2019 dengan diselesaikannya proyek ekspansi oksida di Tambang Emas Tujuh Bukit serta produksi emas dan perak perusahaan melampaui target 2019 dibandingkan dari tahun sebelumnya. Dalam RUPSLB hari ini, para pemegang saham MDKA menyepakati untuk melakukan pembelian kembali saham atau _buyback_ sebanyak-banyaknya 2% saham dari seluruh modal ditempatkan dan disetor penuh Perseroan dengan alokasi dana maksimal Rp 568 miliar dilaksanakan secara bertahap sampai paling lama 18 bulan. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
(Istimewa)JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) melaporkan kinerja keuangan yang beragam pada kuartal III 2025. Meski pendapatan mengalami tekanan, emiten tambang emas dan mineral ini berhasil melakukan efisiensi signifikan sehingga mampu memangkas kerugian secara drastis dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Di sisi lain, anak usaha yang berfokus pada nikel dan bahan baku baterai, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), justru mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang solid. Strategi integrasi rantai pasok dari hulu ke hilir menjadi kunci ketahanan margin perseroan.
Manajemen menegaskan fokus perusahaan saat ini adalah profitabilitas dan eksekusi proyek strategis. Berikut adalah 4 fakta utama kinerja keuangan dan operasional Grup Merdeka sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025.
1. MDKA Tekan Rugi Signifikan
Berdasarkan laporan keuangannya, MDKA berhasil membukukan pendapatan sebesar US$ 1,28 miliar pada kuartal III 2025. Angka ini turun 22,81% secara tahunan (year on year). Namun, perseroan berhasil menekan rugi bersih sebesar 48,13% menjadi US$34,75 juta pada periode yang sama.
Di tengah penurunan pendapatan, profitabilitas justru membaik dengan raihan EBITDA senilai US$295 juta atau naik 33%. Capaian ini didukung oleh kenaikan harga jual rata-rata emas serta peningkatan margin emas yang melonjak hingga level 59% berkat implementasi efisiensi biaya.
Kinerja sembilan bulan pertama tahun ini mencerminkan kekuatan portofolio yang terdiversifikasi. Manajemen terus fokus pada profitabilitas dan kualitas eksekusi proyek di seluruh lini bisnis. "Raihan tersebut mencerminkan ketahanan kinerja, serta kemajuan yang konsisten di seluruh portofolio," ujar Presiden Direktur MDKA, Albert Saputro dalam keterangan resminya pada Senin, 22 Desember 2025.
2. Progres Proyek Emas Pani
Kemajuan signifikan tercatat pada proyek strategis Tambang Emas Pani di bawah PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS). Kegiatan penumpukan bijih atau ore stacking telah dimulai, menandakan target produksi emas pada kuartal I-2025 dapat terealisasi sesuai rencana awal perusahaan.
Kapasitas pabrik pengolahan emas diproyeksikan dapat ditingkatkan melampaui panduan sebelumnya sebesar 7 juta ton. Selain itu, perseroan menargetkan percepatan pengembangan proyek carbon-in-leach (CIL) Pani dengan konstruksi awal yang direncanakan mulai pada kuartal pertama tahun 2026 mendatang.
Studi kelayakan kini disusun dengan basis kapasitas CIL sebesar 12 juta ton per tahun. Skema ini menggantikan rencana awal bertahap, memungkinkan pencapaian target produksi puncak lebih cepat. "Mendukung potensi percepatan capaian target produksi puncak Tambang Emas Pani," sambung Albert.
3. Laba MBMA Naik 37 Persen
Sementara itu, anak usaha di segmen nikel, MBMA, mencetak laba bersih US$25,3 juta. Angka ini tumbuh 37,04% secara tahunan meskipun pendapatan perseroan terkoreksi 32,23% menjadi US$934,99 juta pada kuartal III-2025 akibat penurunan volume produksi NPI.
EBITDA MBMA meningkat 22% menjadi US$ 140 juta, mencerminkan ketahanan margin di tengah dinamika biaya. Perusahaan kini lebih memprioritaskan penciptaan nilai tambah dibandingkan sekadar mengejar volume produksi. Penjualan bijih nikel tercatat mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan sepanjang periode ini.
Produksi Nickel Pig Iron (NPI) tercatat turun 17% akibat pemeliharaan terjadwal pada fasilitas smelter. Namun, margin NPI tetap kuat di angka US$1.866 per ton berkat efisiensi energi. Dengan demikian, manajemen menilai kinerja sembilan bulan pertama tahun ini menegaskan fokus MBMA pada penciptaan nilai. .
4. Integrasi Tambang SCM
Tambang nikel SCM mencatatkan lonjakan produksi bijih sebesar 68% menjadi 14,5 juta ton. Peningkatan ini terdiri dari kenaikan produksi limonit sebesar 48% dan saprolit 135%. Pasokan internal yang melimpah ini memperkuat efisiensi biaya operasional perusahaan secara keseluruhan.
Integrasi hulu ke hilir semakin solid, di mana 80% bijih nikel untuk fasilitas RKEF kini berasal dari Tambang SCM. Hal ini mengurangi ketergantungan pada pihak ketiga dan menjaga stabilitas margin di tengah fluktuasi harga pasar serta kenaikan royalti.
Proyek masa depan seperti AIM dan HPAL berjalan sesuai jadwal. Fasilitas HPAL PT Sulawesi Nickel Cobalt ditargetkan memulai komisioning pada pertengahan 2026 untuk kapasitas 90.000 ton. "Merdeka akan terus memprioritaskan alokasi modal yang disiplin serta keunggulan operasional," tutup Albert.

Alvin Bagaskara
Editor
