Tren Pasar

Produksi Batu Bara Dipangkas: Cek Nasib AADI, MAHA dan UNTR

  • Target produksi batu bara dipangkas ke 600 juta ton. Sucor prediksi AADI diuntungkan dengan target Rp30.100, namun MAHA tertekan. Simak analisisnya.
Gedung Adaro .jpg
Gedung Adaro Energy di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Pemerintah Indonesia berencana melakukan pemangkasan target produksi batu bara nasional secara drastis mulai tahun depan. Target produksi tahunan akan diturunkan dari 790 juta ton pada 2025 menjadi hanya 600 juta ton pada tahun 2026 nanti.

Kebijakan strategis ini berpotensi menjadi sentimen negatif yang cukup kuat bagi industri batu bara nasional secara keseluruhan. Mayoritas perusahaan tambang diprediksi akan mencatat penurunan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya atau RKAB sekitar 9 hingga 80 persen.

Pemangkasan kuota produksi tersebut sejalan dengan arahan Kementerian ESDM seiring pelemahan harga batu bara di pasar global. Sucor Sekuritas dalam riset terbarunya memetakan emiten mana saja yang mampu bertahan dan mana yang paling terpukul oleh kebijakan ini.

1. Emiten yang Bertahan

Meskipun badai pemangkasan kuota melanda, Sucor Sekuritas memperkirakan beberapa emiten besar masih mampu mempertahankan tingkat produksinya. Emiten tersebut adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Indika Energy Tbk (INDY).

Kekuatan emiten-emiten raksasa ini terletak pada skala usaha yang masif dan peran strategis mereka dalam keamanan energi nasional. Mereka memiliki kewajiban menjaga pasokan batu bara ke PLN melalui skema Domestic Market Obligation atau DMO yang ketat.

Posisi tawar yang kuat terhadap PLN membuat volume produksi mereka relatif lebih aman dibandingkan penambang skala kecil. Stabilitas produksi ini menjadi kunci utama bagi emiten big caps untuk menjaga kinerja keuangan di tengah ketidakpastian regulasi sektor energi.

2. Kontraktor Paling Terpukul

Berbeda nasib dengan pemilik tambang, perusahaan di segmen jasa kontraktor tambang diperkirakan menjadi pihak yang paling terdampak negatif. Penurunan target produksi nasional otomatis akan memangkas volume pekerjaan pengupasan tanah dan pengangkutan batu bara yang menjadi bisnis inti mereka.

Dua emiten yang menjadi sorotan dalam riset ini adalah PT Mandiri Herindo Adiperkasa Tbk (MAHA) dan PT United Tractors Tbk (UNTR). Kinerja keuangan kedua perusahaan ini sangat sensitif terhadap perubahan volume produksi dari para pemilik konsesi tambang.

Sucor Sekuritas memprediksi bahwa segmen kontraktor akan mengalami tekanan pendapatan yang signifikan pada tahun 2026 mendatang. Investor disarankan untuk lebih berhati-hati dalam mencermati saham-saham di sektor jasa pertambangan hingga ada kejelasan lebih lanjut mengenai pembagian kuota RKAB.

3. Simulasi Dampak MAHA

Analisis mendalam dilakukan terhadap PT Mandiri Herindo Adiperkasa Tbk (MAHA) yang memiliki eksposur tinggi terhadap klien tunggal besar. Riset Sucor mengestimasi bahwa setiap penurunan volume pengangkutan sebesar satu juta ton berpotensi menekan laba bersih MAHA hingga delapan persen.

Risiko ini semakin nyata mengingat PT Bayan Resources Tbk (BYAN) merupakan klien terbesar yang menyumbang pendapatan signifikan bagi MAHA. BYAN berkontribusi sekitar 42 persen dari total volume pengangkutan batu bara MAHA dengan pertumbuhan produksi yang sangat tinggi sebelumnya.

Kondisi ketidakpastian ini membuat MAHA berpotensi mengalami penurunan laba yang cukup signifikan jika BYAN memangkas target produksinya. Analis sekuritas akan meninjau kembali proyeksi kinerja keuangan perseroan setelah terdapat kejelasan lebih lanjut mengenai kuota produksi dari pihak klien.

4. Risiko Bisnis UNTR

Raksasa alat berat PT United Tractors Tbk (UNTR) juga tidak luput dari eksposur risiko kebijakan pemangkasan produksi ini. Mengingat lebih dari 50 persen bisnis perseroan masih sangat bergantung pada ekosistem industri batu bara melalui anak usahanya PAMA.

Segmen kontraktor penambangan melalui Pama Persada Nusantara atau PAMA diprediksi menjadi lini bisnis yang paling terdampak langsung. Jika volume produksi klien turun maka jam operasional alat berat dan volume pengupasan lapisan tanah penutup batubara juga pasti berkurang.

Selain itu dampak turunan juga akan dirasakan pada segmen penjualan alat berat merek Komatsu milik perseroan. Melemahnya permintaan batu bara biasanya diikuti oleh penundaan belanja modal dari perusahaan tambang untuk membeli atau meremajakan armada alat berat mereka.

5. AADI Jadi Primadona

Di tengah sentimen negatif sektor ini,  emiten yang berkodekan AADI ini justru dipandang sebagai perusahaan yang paling diuntungkan. Sebagai produsen batu bara murni berbiaya rendah, AADI memiliki fleksibilitas tinggi untuk menjaga margin keuntungan yang tetap tebal.

Daya tarik utama AADI bagi investor adalah tingkat imbal hasil dividen atau dividend yield yang diperkirakan mencapai 10 persen. Selain itu posisi perusahaan juga diuntungkan dari harga jual rata-rata batu bara yang relatif lebih stabil dan tinggi.

Atas dasar fundamental tersebut Sucor Sekuritas menetapkan saham AADI sebagai pilihan teratas atau top pick di sektor ini. Target harga saham AADI dipatok di level Rp30.100 dengan rekomendasi beli, sementara INDY ditargetkan di harga Rp3.300 per saham.