Peta Rights Issue 2026: Ada IRSX, INET, hingga FUTR
- Rekor IHSG dimanfaatkan IRSX dan INET untuk rights issue jumbo. Risiko dilusi kepemilikan saham menjadi sorotan utama di tengah maraknya aksi korporasi 2026.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Di tengah gemuruh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sedang "pesta pora" mencetak rekor tertinggi baru di level 9.163, sejumlah emiten tak ingin kehilangan momentum. Likuiditas pasar yang melimpah dimanfaatkan sebagai waktu yang tepat untuk menggelar aksi korporasi.
Mengawali tahun 2026, pasar modal Indonesia kembali diramaikan oleh serangkaian aksi Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue. Aksi penggalangan dana ini tidak hanya menjadi ajang memperkuat struktur modal, tetapi juga sinyal pergeseran strategi bisnis yang signifikan.
Dari emiten teknologi hingga energi, investor perlu mencermati potensi dilusi serta penggunaan dana yang ditargetkan di tengah euforia pasar saat ini. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai deretan emiten yang masuk dalam pipeline rights issue pada kuartal pertama 2026.
Injeksi Jumbo IRSX dan Infrastruktur INET
Sorotan utama pada awal tahun ini tertuju pada PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX). Emiten yang sebelumnya dikenal sebagai PT Aviana Sinar Abadi Tbk ini berencana menggalang dana jumbo dengan target mencapai Rp3,7 triliun. Angka ini terbilang fantastis mengingat kapitalisasi pasar perseroan yang bergerak dinamis.
Manajemen IRSX menargetkan pelaksanaan aksi ini pada periode Februari hingga Maret 2026, sembari menunggu pernyataan efektif dari OJK. Dana tersebut akan digunakan untuk ekspansi agresif di sektor teknologi dan konten digital. Sebagai pemanis (sweetener), perseroan juga berencana menerbitkan Waran Seri II yang bisa menjadi daya tarik spekulasi jangka pendek.
Sementara itu, di sektor telekomunikasi, PT Sinergi Inti Andalan Tbk (INET) telah lebih dulu mengeksekusi aksinya pada Januari ini. Dengan harga pelaksanaan Rp250 per saham, INET membidik dana segar hingga Rp3,2 triliun.
Langkah INET dinilai strategis untuk belanja modal (capex) pengembangan jaringan fiber optic (FTTH) dan jalur kabel laut. Bagi investor jangka panjang, INET menawarkan narasi pertumbuhan organik yang jelas, meskipun tekanan likuiditas jangka pendek akibat penyerapan saham baru tak terhindarkan.
Tren Pivot: "Ganti Kulit" Bisnis
Menariknya, rights issue tahun 2026 juga diwarnai oleh emiten yang sedang melakukan "ganti kulit" atau pivot bisnis. Fenomena ini terlihat pada PT Futura Energi Global Tbk (FUTR) dan PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE).
FUTR yang tengah merampungkan proses penawaran tender (tender offer) pada Januari ini, dikabarkan akan segera menggelar rights issue sebagai bagian dari transisi menuju sektor energi terbarukan (geothermal). Perubahan inti bisnis ini memicu revaluasi harga saham karena adanya ekspektasi pertumbuhan baru.
Senada dengan FUTR, NINE juga membidik dana sekitar Rp80 miliar pada kuartal kedua 2026. Masuknya Poh Group sebagai calon pengendali baru membawa narasi ekspansi ke sektor pertambangan di Mongolia. Cerita perubahan haluan bisnis seperti ini kerap menjadi katalis kuat bagi pergerakan harga saham lapis kedua dan ketiga.
Waspada Jebakan Dilusi
Selain nama-nama di atas, investor juga perlu memantau PT Triniti Dinamik Tbk (TRUE) dan PT Cakra Buana Resources Tbk (CBRE) yang telah mengantongi restu pemegang saham. Bagi pemegang saham petahana, partisipasi dalam rights issue adalah pilihan krusial.
Tidak menebus hak berarti kepemilikan saham akan tergerus. Persentase dilusi bisa sangat menyakitkan, seperti pada PT Panca Global Kapital Tbk (PEGE) yang potensi dilusinya menyentuh angka 40 persen.
Tahun 2026 tampaknya akan menjadi tahun sibuk bagi bank investasi. Kuncinya terletak pada kemampuan investor membedah prospektus: apakah dana jumbo yang ditarik benar-benar untuk ekspansi yang menghasilkan nilai tambah, atau sekadar "gali lubang tutup lubang" untuk membayar utang di tengah pasar yang sedang bullish.

Alvin Bagaskara
Editor
