Tren Pasar

Pesona Emas Pudar, Bitcoin Potensi Jadi Pelarian Investor Kala Perang

  • Harga Bitcoin tembus 71.000 dolar AS, ungguli pesona emas di tengah gejolak perang Timur Tengah. Simak alasan banyak investor pilih kripto jadi pelarian investasi.
Perdaganagn Emas Logam Mulia - Panji 5.jpg
Nampak karyawan menunjukkan logam mulia di sebuah gerai emas di kawasan BSD Tangerang. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Memasuki hari kedua belas eskalasi peperangan militer di Iran, pergerakan pasar aset global terus bergejolak hebat. Harga Bitcoin kembali menunjukkan taji dengan menembus level US$71.000 dolar AS, mengasapi pesona emas tradisional di tengah masifnya ketidakpastian geopolitik kawasan Timur Tengah.

Aset kripto terbesar dunia ini sempat melonjak tajam hingga 4% menuju level US$71.785 pada Selasa, 10 Maret 2026 kemarin. Penguatan ini dipicu oleh manuver cerdas investor ritel muda yang agresif mencari aset lindung nilai modern kala pasar saham global ikut terguncang.

Di sisi lain, disrupsi pelayaran di Selat Hormuz mengancam pasokan energi dunia. Merespons krisis tersebut, Badan Energi Internasional berencana melepas lebih dari 182 juta barel cadangan minyak guna meredam lonjakan harga yang berpotensi mengerek tingkat inflasi global semakin tinggi ke depannya.

Krisis Energi dan Tekanan Emas Tradisional

Volatilitas energi ini diperparah oleh simpang siurnya komunikasi pejabat Amerika Serikat. Pernyataan agresif Pentagon untuk terus menyerang Iran berbenturan dengan narasi awal Presiden Donald Trump yang sempat memberikan indikasi kuat untuk segera mengakhiri konflik bersenjata tersebut dalam waktu yang dekat.

Ancaman inflasi akibat krisis energi meredam ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan bank sentral. Tingginya biaya pinjaman menjadi sentimen negatif bagi instrumen emas karena memicu gelombang aksi jual masif pada produk reksa dana yang diperdagangkan secara luas di bursa global saat ini.

Berdasarkan data terbaru, total kepemilikan reksa dana emas tercatat anjlok hampir mencapai 30 ton sepanjang pekan lalu. Fenomena likuidasi portofolio tersebut secara resmi menandai momentum aksi jual mingguan terbesar bagi instrumen logam mulia ini dalam kurun waktu lebih dari dua tahun.

Kendati tertekan gelombang likuidasi besar, daya tarik emas perlahan bangkit menembus level US$5.218  per ons. Namun, Portfolio Manager di DNCA Invest Strategic Resources fund, Alexandre Carrier kondisi ini bisa dimanfaatkan sebagai peluang akumulasi. "Secara keseluruhan saya pikir ada gunanya membeli emas saat melemah," terang Alexandre  dikutip dari The Bussines Time pada Rabu, 11 Maret 2026.

Era Baru Kripto dan Target Sensasional

Namun, dominasi aset kripto terbukti jauh mengungguli performa logam mulia sepanjang bulan ini. Saat rentetan pemboman mulai memanas, Bitcoin justru sukses meroket sekitar 7% di pasar. Sementara itu, pamor instrumen emas murni justru sempat terpantau mengalami penurunan harga sebesar 2% belakangan ini.

Kembalinya tren sentimen ketakutan kehilangan momen alias FOMO kini menjadi motor utama arus dana spekulatif pemodal muda. Terbukti, produk instrumen investasi ETF Bitcoin spot di wilayah Amerika Serikat bergegas mencatat masuknya aliran dana segar sekitar US$170 juta awal pekan ini.

Harapan redanya konflik bersenjata memberikan suntikan kepercayaan diri luar biasa bagi investor ritel. Merespons sentimen positif tersebut, muncul pandangan optimis. "Token ini mendapat dukungan dari pasar saham global, di mana para trader bergegas membeli saat harga turun," ujar Chief Market Analyst Alex Kuptsikevich dikutip dari Bloomberg

Senada dengan hal tersebut, Head of Research Pratik Kala menyatakan bahwa stabilisasi data blockchain Glassnode sukses memvalidasi kuatnya pijakan harga aset kripto. Ia menegaskan bahwa pergerakan pasar Bitcoin tergolong sangat kuat dengan area 68.000 dolar AS menjadi level dukungan paling solid.

Jika momentum ini terus menguat menembus angka 73.000 dolar AS, Bitcoin berpotensi meroket tajam mengejar level resistensi utama 87.000 dolar AS. “Namun, volatilitas yang kian memuncak mendorong para trader profesional untuk menumpuk kontrak opsi jual perlindungan pada batas psikologis 60.000 dolar AS," jelasnya.