Tren Pasar

Outlook Saham BUMN Tambang 2026: Analis Pilih ANTM dan TINS

  • Sepanjang 2025, saham Grup MIND ID catatkan kinerja gemilang. TINS melesat 190,65% dan ANTM naik 106,56%. Analis jagokan sektor tambang di 2026.
<p>Nampak antrian pembelian logam mulia ANTAM di sebuah pusat perbelanjaan kawasan Tangerang Selatan, Sabtu 19 Juni 2021. Anjloknya harga emas selama sepekan membuat masyarakat berlomba untuk membeli. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia</p>

Nampak antrian pembelian logam mulia ANTAM di sebuah pusat perbelanjaan kawasan Tangerang Selatan, Sabtu 19 Juni 2021. Anjloknya harga emas selama sepekan membuat masyarakat berlomba untuk membeli. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia

(Istimewa)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Bursa Efek Indonesia resmi menutup tahun perdagangan 2025 dengan catatan gemilang bagi emiten tambang Grup MIND ID. Holding industri pertambangan pelat merah ini sukses mencatatkan kinerja saham positif di tengah fluktuasi pasar global. Investor merayakan pertumbuhan nilai aset yang signifikan tahun ini.

Integrasi strategis dan program hilirisasi mineral terbukti menjadi motor penggerak utama bagi pertumbuhan nilai saham para anggota holding. Meskipun kondisi makroekonomi dunia penuh tantangan namun emiten tambang negara mampu menavigasi volatilitas dengan sangat baik. Fundamental perusahaan dinilai semakin solid pasca konsolidasi industri.

Berdasarkan data penutupan perdagangan akhir tahun PT Timah Tbk tampil sebagai emiten dengan performa paling impresif di grup. Kenaikan harga saham yang fantastis dari emiten timah ini menjadi sorotan utama para pelaku pasar modal. Sektor pertambangan menutup tahun dengan rapor biru.

1. TINS dan ANTM Juara

PT Timah Tbk tampil sebagai juara utama dengan pertumbuhan harga saham tertinggi di dalam grup MIND ID sepanjang tahun. Saham emiten berkode TINS melesat tajam 190,65 persen secara tahunan ke level Rp3.110 per saham. Kenaikan ini mencerminkan optimisme pasar terhadap perbaikan kinerja.

Posisi kedua ditempati oleh PT Aneka Tambang Tbk yang juga membukukan lonjakan harga saham sangat signifikan tahun ini. Saham ANTM tercatat naik 106,56 persen secara year-to-date dan menutup tahun di posisi Rp3.150 per saham. Prospek cerah logam mulia domestik menjadi pendorong utamanya.

Capaian gemilang kedua emiten ini disokong oleh ekspansi operasional yang agresif serta sentimen positif harga komoditas global. Investor merespons positif langkah manajemen dalam mengoptimalkan efisiensi produksi dan penjualan logam mineral strategis tersebut. "Memiliki fondasi teknikal yang solid," ujar Nafan Aji Gusta Utama dalam keterangannya pada Jumat, 2 Januari 2026. 

2. Ketangguhan INCO dan PTBA

Emiten nikel PT Vale Indonesia Tbk turut mempertegas ketangguhannya dengan mencatatkan kenaikan harga saham yang cukup solid. Saham INCO berhasil naik sebesar 42,96 persen sepanjang tahun berjalan ke level Rp5.175 per lembar saham. Perusahaan mampu membuktikan kemampuan navigasi di tengah volatilitas.

Sementara itu emiten batu bara PT Bukit Asam Tbk juga mampu menutup tahun perdagangan dengan kinerja yang stabil. Saham emiten berkode PTBA ini berakhir pada level harga Rp2.310 per lembar di penghujung tahun 2025. Kinerja ini tetap diapresiasi di tengah normalisasi harga energi.

Kinerja positif seluruh anggota holding ini menegaskan keberhasilan strategi integrasi yang dijalankan oleh induk usaha MIND ID. Sinergi antar perusahaan tambang negara menciptakan efisiensi yang berdampak langsung pada valuasi saham di pasar. Investor asing maupun domestik mulai melirik sektor ini.

3. Pemanis Sektor Nonbank

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta Utama menyoroti tren positif saham BUMN nonbank. Menurutnya kinerja cemerlang emiten pertambangan menjadi pemanis pasar di luar dominasi sektor perbankan yang sudah biasa. Rotasi sektor ke pertambangan memberikan warna baru bagi indeks.

Nafan menilai emiten pertambangan seperti TINS dan ANTM memiliki fondasi teknikal yang sangat solid untuk melanjutkan penguatan. Tren bullish pada saham-saham komoditas ini diprediksi masih memiliki ruang pertumbuhan yang cukup terbuka lebar. Pola teknikal jangka panjang menunjukkan sinyal akumulasi yang kuat.

Selain TINS dan ANTM ia juga menyebutkan saham lain seperti TLKM dan PGEO memiliki prospek relatif kuat. Diversifikasi pilihan investasi ke sektor riil dan infrastruktur menjadi strategi menarik bagi investor di tahun depan. "Emiten pelat merah nonbank memperlihatkan tren teknikal positif," kata Nafan.

4. Faktor Danantara dan Manajemen

Nafan menekankan bahwa faktor kepemimpinan dan aksi korporasi menjadi kunci utama di balik kembalinya kepercayaan pasar modal. Perombakan pengurus di jajaran komisaris maupun direksi BUMN mampu memberikan sinyal disiplin belanja modal yang ketat. Efisiensi operasional menjadi fokus utama manajemen baru saat ini.

Kehadiran Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia serta wacana restrukturisasi BUMN menjadi katalisator baru bagi optimisme investor ke depan. Pengelolaan aset strategis yang lebih profesional diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah bagi pemegang saham negara. Transformasi ini disambut sangat positif oleh pelaku pasar.

Jika dinamika Danantara berjalan konsisten maka peluang perbaikan kinerja emiten BUMN akan semakin terbuka lebar menuju 2026. Sinergi antara kebijakan pemerintah dan korporasi menjadi landasan kuat bagi pertumbuhan berkelanjutan sektor pertambangan nasional. "Peluang perbaikan kinerja emiten BUMN akan terbuka lebar," pungkas Nafan.

5. Prospek 2026: ANTM Favorit

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menambahkan terdapat sejumlah sentimen positif bagi indeks BUMN tambang. Peluang biaya dana atau cost of fund yang lebih ramah menjadi salah satu faktor pendorong profitabilitas. Penurunan suku bunga akan meringankan beban keuangan emiten.

Valuasi emiten pelat merah kini dinilai masuk dalam kategori value-stocks yang menarik untuk dikoleksi jangka panjang. Untuk tahun depan sektor komoditas strategis dan energi diprediksi masih akan mendominasi panggung pasar modal Indonesia. Rotasi sektor belum akan meninggalkan saham berbasis sumber daya.

Liza secara spesifik menjagokan ANTM sebagai kandidat kuat dari sisi sektor tambang untuk portofolio tahun 2026 nanti. Emas dan nikel sebagai komoditas masa depan menjadi alasan utama di balik rekomendasi positif tersebut. "Sektor komoditas strategis dan energi diprediksi masih akan mendominasi," tambah Liza.