Menilik IPO SWAP, Sebagian Buat Bayar Utang ke UGM
- IPO SWAP menawarkan maksimal 323 juta saham di harga Rp130-Rp140. Simak jadwal, target dana Rp45,22 miliar, penggunaan dana, dan risikonya.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Swayasa Prakarsa Tbk bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana saham atau IPO SWAP. Perusahaan manufaktur produk kesehatan berbasis riset ini menawarkan maksimal 323 juta saham baru dengan harga penawaran awal Rp130-Rp140 per saham.
Jika seluruh saham terserap pada harga tertinggi, SWAP berpotensi menghimpun dana hingga Rp45,22 miliar. Jumlah saham yang ditawarkan setara dengan 30,30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
Berdasarkan keterbukaan informasi awal yang diterbitkan pada 22 Agustus 2026, saham SWAP dijadwalkan mulai tercatat di BEI pada 10 September 2026. Masa penawaran awal atau bookbuilding berlangsung pada 24-27 Agustus 2026, dilanjutkan penawaran umum pada 2-8 September 2026.
IPO ini menjadi langkah penting bagi Swayasa Prakarsa karena perusahaan tidak hanya menjalankan bisnis manufaktur alat kesehatan, tetapi juga membawa misi komersialisasi hasil riset dan inovasi dari lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Profil PT Swayasa Prakarsa
PT Swayasa Prakarsa merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri manufaktur produk kesehatan berbasis riset. Kantor perusahaan berlokasi di Padukuhan Babadan, Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Model bisnis Swayasa Prakarsa berkaitan erat dengan hilirisasi hasil penelitian. Sejumlah produk kesehatan yang dikembangkan perusahaan berasal dari inovasi dan kolaborasi dengan akademisi, klinisi, maupun mitra industri.

Portofolio yang dikembangkan mencakup produk elektromedis dan non-elektromedis. Salah satu produk yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan perusahaan adalah GeNose C19, alat yang dikembangkan UGM untuk mendeteksi infeksi Covid-19 melalui hembusan napas.
Namun, produksi GeNose telah dihentikan sejak 2022 seiring berakhirnya pandemi dan turunnya permintaan terhadap produk tersebut. Kondisi ini juga menjadi salah satu risiko yang diungkap perusahaan karena masih terdapat persediaan GeNose yang menghadapi risiko penurunan nilai.
Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: ADMR dan MBMA Perkasa, EMTK Anjlok
Detail IPO SWAP
Dalam IPO SWAP, perusahaan menawarkan sebanyak-banyaknya 323 juta saham baru dengan nilai nominal Rp20 per saham. Rentang harga yang ditawarkan berada pada Rp130-Rp140 per saham. Dengan jumlah saham maksimal tersebut, nilai penawaran umum dapat mencapai Rp45,22 miliar.
Seluruh saham yang ditawarkan merupakan saham baru yang berasal dari portepel perusahaan. Artinya, dana hasil IPO akan masuk ke perusahaan dan digunakan untuk mendukung kebutuhan usaha, bukan berasal dari penjualan saham milik pemegang saham lama.
Penjamin pelaksana emisi efek dalam IPO ini adalah PT Sukadana Prima Sekuritas dengan skema penjaminan full commitment.
Jadwal IPO SWAP
- Bookbuilding: 24–27 Agustus 2026
- Tanggal Efektif: 31 Agustus 2026
- Penawaran Umum: 2–8 September 2026
- Penjatahan: 8 September 2026
- Distribusi Saham: 9 September 2026
- Listing di BEI: 10 September 2026
Jadwal tersebut tercantum dalam keterbukaan informasi awal perusahaan. Setelah IPO, jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh SWAP akan meningkat dari 743 juta saham menjadi 1,066 miliar saham. Seluruh saham tersebut direncanakan tercatat di BEI.
Dana IPO SWAP Akan Dipakai untuk Apa?
Dana hasil IPO akan digunakan untuk tiga kebutuhan utama, yakni modal kerja, belanja modal, dan pembayaran utang.
Modal kerja Rp15,8 miliar
Sekitar Rp15,8 miliar akan digunakan sebagai modal kerja untuk meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk.
Dana tersebut antara lain dialokasikan untuk:
- Rp5 miliar untuk pembelian bahan baku elektromedis dan non-elektromedis;
- Rp2,3 miliar untuk peralatan penunjang produksi;
- Rp4,6 miliar untuk kebutuhan operasional seperti gaji, lisensi, perizinan, transportasi dan utilitas;
- Rp500 juta untuk peningkatan dan penambahan SDM;
- Rp400 juta untuk implementasi sistem ERP;
- Rp2 miliar untuk peningkatan pemasaran dan jejaring;
- Rp1 miliar untuk pengembangan portofolio produk baru.
Dengan demikian, IPO SWAP tidak hanya diarahkan untuk memperkuat kas perusahaan, tetapi juga meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas pemasaran.
Salah satu bagian menarik dari rencana penggunaan dana IPO adalah pengembangan portofolio produk kesehatan baru. SWAP menyiapkan pengembangan stent jantung, External Ventricular Drain (EVD), dan ventilator neonatal.
Untuk stent jantung, dana akan digunakan untuk workshop dan pelatihan SDM, pembelian bahan baku, commissioning peralatan produksi, produksi dan sterilisasi, berbagai pengujian hingga penyusunan dokumen perizinan dan sertifikasi.
Produk ini dikembangkan bersama peneliti akademik dan klinik serta mitra industri. SWAP akan menangani aspek pengujian produk, produksi dan pemenuhan regulasi.
Sementara itu, pengembangan EVD mencakup produksi komponen plastik, pembelian bahan baku dan kemasan, pelatihan SDM, produksi dan sterilisasi, uji laboratorium hingga uji klinis serta proses sertifikasi.
Untuk ventilator neonatal, SWAP mengembangkan Venindo E01 Neo Transport dan Venindo Neo bersama peneliti dan klinisi.
Baca juga : IHSG 24 Agustus 2026 Dibuka Turun Tipis, Cek Data Lengkapnya
Rp12,2 Miliar untuk Bangun Gedung dan Distribution Center
Selain modal kerja, sekitar Rp12,2 miliar dari dana IPO akan digunakan untuk belanja modal.
Sebagian besar atau sekitar Rp10,7 miliar dialokasikan untuk membangun gedung baru di lahan seluas 1.450 meter persegi di Jl. Cangkringan Km 3, Bayen, Purwomartani, Kalasan. Lokasinya sekitar 1,5 kilometer dari fasilitas produksi perusahaan saat ini.
Gedung tersebut akan digunakan sebagai kantor manajemen dan pusat distribusi. Pemisahan fungsi administrasi dan distribusi dari fasilitas produksi diharapkan dapat membuat ruang produksi yang ada lebih optimal.
Saat ini, fungsi manajemen, distribusi, penyimpanan dan aktivitas terkait masih tersebar di sejumlah fasilitas yang juga digunakan untuk kegiatan produksi.
Selain pembangunan gedung, belanja modal juga mencakup sekitar Rp500 juta untuk furniture, AC, interior dan instalasi serta Rp1 miliar untuk pembelian kendaraan logistik, kendaraan operasional dan armada field sales.
Baca juga : BMKS dan Ambisi RI Jadi Pengatur Harga Komoditas Global
Rp12 Miliar untuk Bayar Utang ke Ekosistem UGM
Menariknya, sebagian dana IPO SWAP juga akan digunakan untuk membayar utang kepada pihak yang masih memiliki hubungan dengan ekosistem UGM.
Sekitar Rp2 miliar akan digunakan untuk membayar sebagian utang kepada PT Gama Multi Usaha Mandiri (GMUM) yang merupakan induk usaha SWAP. Saldo utang tersebut berasal dari pendanaan kegiatan produksi GeNose pada 2021.
Per Juli 2026, total utang tersebut tercatat sekitar Rp8,10 miliar, terdiri dari pokok Rp8,04 miliar dan bunga Rp63,02 juta. Setelah pembayaran Rp2 miliar, saldo utang diperkirakan menjadi sekitar Rp6,10 miliar.
Kemudian, Rp10 miliar akan digunakan untuk melunasi utang kepada Yayasan Universitas Gadjah Mada (YUGM). Pinjaman tersebut digunakan untuk pembayaran tanah yang direncanakan menjadi lokasi pembangunan gedung baru SWAP.
Dengan demikian, sekitar Rp12 miliar atau lebih dari seperempat dana IPO maksimal akan digunakan untuk menyelesaikan kewajiban kepada entitas yang memiliki hubungan dengan pengendali perusahaan.
UGM Tetap Menjadi Pengendali SWAP
Keterkaitan dengan UGM menjadi salah satu karakteristik utama SWAP. Sebelum IPO, PT Gama Multi Usaha Mandiri menguasai 97,16% saham SWAP, sementara UGM secara langsung memiliki 2,69%. Pemegang saham lainnya adalah PT Radio Swaragama dan Bondan Ardiningtyas.
Setelah seluruh saham IPO terserap, kepemilikan GMUM akan terdilusi menjadi 67,72%, sedangkan kepemilikan langsung UGM menjadi 1,88%. Masyarakat akan menguasai 30,30% saham.
Meski kepemilikan langsung UGM hanya 1,88%, prospektus menegaskan UGM sebagai pemegang saham pengendali Perseroan.
UGM juga telah menyatakan tidak akan melepaskan pengendalian atas SWAP selama 12 bulan sejak pernyataan pendaftaran menjadi efektif. Sementara itu, pemegang saham sebelum IPO memiliki pembatasan pengalihan saham selama 8 bulan sejak efektifnya pernyataan pendaftaran.
Kinerja Keuangan SWAP: Pendapatan dan Laba Tertekan
Di balik cerita hilirisasi riset dan ekspansi bisnis, kinerja keuangan SWAP menunjukkan tantangan yang perlu diperhatikan investor.
Pada 2024, perusahaan membukukan pendapatan Rp10,21 miliar dengan laba bersih Rp3,46 miliar. Namun pada 2025, pendapatan turun menjadi Rp7,12 miliar, atau anjlok 30,25%. Laba bersih juga turun lebih dalam menjadi Rp1,42 miliar, merosot 58,97% dibandingkan 2024.
Penurunan pendapatan terutama berasal dari melemahnya penjualan Ventilator V-01. Penurunan penjualan tersebut juga berdampak terhadap laba kotor perusahaan yang turun 26,07% menjadi Rp3,27 miliar dari Rp4,43 miliar pada 2024.
Pada dua bulan pertama 2026, pendapatan SWAP tercatat Rp588,87 juta, naik 28,16% dibandingkan Rp459,48 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut terutama berasal dari penjualan produk Insahunt dan TopClean RSF Handrub.
Namun peningkatan pendapatan tersebut belum membuat perusahaan mencatat laba. SWAP masih membukukan rugi bersih Rp570,59 juta hingga 28 Februari 2026, meski kerugiannya lebih rendah dibandingkan rugi Rp978,70 juta pada periode yang sama 2025.
Artinya, terdapat indikasi perbaikan dari sisi pendapatan dan penurunan kerugian, tetapi perusahaan masih menghadapi tantangan untuk mengubah pertumbuhan penjualan menjadi profitabilitas.
Kondisi keuangan SWAP juga perlu dilihat dari arus kas. Per 28 Februari 2026, arus kas yang digunakan untuk aktivitas operasi mencapai Rp2,28 miliar, meningkat 77% dibandingkan Rp1,29 miliar pada periode yang sama 2025.
Menurut prospektus, peningkatan penggunaan kas tersebut terutama disebabkan pembayaran kepada pemasok yang lebih besar dibandingkan penerimaan kas dari pelanggan.
Sepanjang 2025, arus kas operasi juga negatif sebesar Rp3,36 miliar, meningkat 105% dibandingkan Rp1,64 miliar pada 2024.
Kondisi tersebut menjadi salah satu aspek yang penting dicermati karena SWAP akan menggunakan dana IPO untuk memperbesar kapasitas produksi dan distribusi.
Baca juga : Emas Tanpa Surat Bisa Dijual? Ini Perbedaan Antam, UBS, dan Galeri24
Posisi Aset dan Liabilitas SWAP
Per 28 Februari 2026, SWAP memiliki total aset sebesar Rp31,78 miliar, turun 4,74% dibandingkan Rp33,36 miliar pada akhir 2025. Aset tersebut terdiri dari aset lancar Rp23,29 miliar dan aset tidak lancar Rp8,49 miliar.
Sementara total liabilitas tercatat Rp14,46 miliar, turun 6,54% dari Rp15,48 miliar pada akhir 2025. Ekuitas perusahaan berada di level Rp17,32 miliar, turun 3,19% dari Rp17,89 miliar pada akhir 2025. Penurunan ekuitas terutama dipengaruhi oleh kerugian komprehensif pada periode dua bulan pertama 2026.
Secara proforma, apabila IPO sebanyak 323 juta saham dilakukan pada harga Rp130-Rp140, ekuitas perusahaan setelah aksi tersebut diproyeksikan sekitar Rp61,37 miliar, setelah memperhitungkan biaya emisi.
Investor juga perlu memperhatikan risiko yang diungkapkan perusahaan dalam prospektus. Risiko utama SWAP adalah distribusi dan pemasaran. Produk berbasis hasil penelitian membutuhkan edukasi dan penetrasi pasar sehingga keberhasilan penjualan bergantung pada kemampuan perusahaan membangun pemahaman konsumen, tenaga kesehatan, distributor dan pihak terkait lainnya.
Selain itu, terdapat sejumlah risiko lain, antara lain:
- gangguan dan keterlambatan bahan baku;
- piutang usaha yang tidak tertagih;
- penurunan nilai persediaan;
- kehilangan personel utama;
- ketergantungan pada pelanggan tertentu;
- perubahan regulasi pemerintah;
- fluktuasi nilai tukar;
- proses balik nama tanah untuk pembangunan gedung;
- risiko investasi dan aksi korporasi.
Perseroan juga mengingatkan adanya risiko likuiditas saham karena jumlah saham yang ditawarkan relatif terbatas, sehingga perdagangan saham SWAP di BEI berpotensi kurang likuid.

Chrisna Chanis Cara
Editor
