Manulife Nilai Reksa Dana 2026 Tetap Positif Saat IHSG Rekor
- IHSG cetak rekor ATH di level 9.134, Manulife nilai reksa dana saham tetap prospektif di 2026. Bagaimana peluang rotasi ke saham blue chip dan tantangannya?

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Prospek industri reksa dana saham pada tahun 2026 dinilai tetap positif meskipun pasar saham baru saja mencetak rekor tertinggi baru sepanjang sejarah. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG tercatat sempat menyentuh level psikologis 9.134,70 pada perdagangan awal pekan ini.
Kondisi pasar tahun ini diperkirakan berbeda dengan tahun lalu yang lebih banyak ditopang oleh saham momentum tinggi. Pada tahun 2026 ini saham berkapitalisasi besar atau blue chip diproyeksikan kembali diminati investor seiring harapan pemulihan aktivitas ekonomi domestik.
Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Dimas Ardhinugraha menyebut ruang pertumbuhan masih terbuka lebar bagi reksa dana saham. Selain itu produk reksa dana pendapatan tetap juga dinilai menarik karena menawarkan stabilitas di tengah kebijakan suku bunga yang akomodatif.
- Baca Juga: Waspadai Celah Penyalahgunaan Data
1. Potensi Upside Saham
Meskipun indeks saham utama telah menyentuh level tertinggi barunya, potensi keuntungan dari instrumen reksa dana saham diyakini masih sangat prospektif ke depannya. Level tertinggi sepanjang masa bukanlah penghalang bagi investor untuk tetap masuk dan mencari peluang cuan di pasar.
Dimas menilai fundamental ekonomi yang membaik akan menjadi penopang utama pergerakan pasar saham yang lebih berkelanjutan pada tahun ini. “Jadi, walaupun IHSG sudah menyentuh level tertinggi, reksa dana saham masih tetap prospektif,” ujar Dimas Ardhinugraha dalam keterangannya dikutip pada Jumat, 23 Januari 2026.
2. Rotasi ke Blue Chip
Pada tahun 2025 lalu kinerja pasar saham memang lebih banyak didorong oleh saham-saham yang memiliki momentum tinggi dengan katalis khusus tertentu. Sementara itu saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chip cenderung tertinggal dan belum menjadi pendorong utama indeks.
Namun situasi tersebut diperkirakan akan berubah total pada tahun 2026 ini seiring dengan pemulihan aktivitas ekonomi domestik yang semakin nyata terlihat. Saham-saham blue chip yang memiliki fundamental kuat diproyeksikan akan kembali menjadi primadona dan diminati oleh para investor.
3. Bunga dan Dana Kelolaan
Selain saham, instrumen reksa dana pendapatan tetap juga memiliki daya tarik tersendiri karena potensi penurunan suku bunga acuan bank sentral tahun ini. Produk ini dinilai mampu memberikan stabilitas imbal hasil yang menarik bagi investor di tengah volatilitas pasar.
Manulife Aset Manajemen Indonesia sendiri mencatat total dana kelolaan atau asset under management telah menembus angka Rp124 triliun hingga akhir tahun lalu. Fokus perusahaan kini adalah menghadirkan solusi investasi yang relevan dengan kebutuhan nasabah di berbagai kondisi pasar.
4. Tantangan Ekonomi
Peluang pertumbuhan investasi tahun ini tetap diiringi oleh sejumlah tantangan domestik terutama terkait realisasi belanja pemerintah yang memegang peran penting dalam pemulihan. Jika realisasi belanja negara berjalan lambat, maka siklus pemulihan ekonomi berisiko tertunda dari jadwal yang diharapkan.
Selain faktor domestik, pelaku pasar juga perlu terus mencermati dinamika geopolitik global serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih belum pasti. Sentimen eksternal ini tetap menjadi variabel penting yang berpotensi memengaruhi arah arus modal asing ke depan.

Alvin Bagaskara
Editor
