Tren Pasar

Ketegangan AS-China Bayangi Pasar, Investor Kripto Harus Gimana Nih?

  • Beijing menuduh Washington telah melanggar kesepakatan dagang yang ada dengan memberlakukan pembatasan ekspor terhadap teknologi penting, seperti chip AI dan perangkat lunak desain chip. AS juga berencana mencabut visa bagi pelajar asal China, yang menambah gesekan dalam hubungan kedua negara.
closeup-golden-bitcoins-dark-reflective-surface-histogram-decreasing-crypto.jpg
Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Freepik)

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menarik perhatian pasar global lewat pernyataan terbarunya di media sosial pada 4 Juni 2025. 

Dalam unggahannya, Trump menyebut dirinya menyukai sosok Presiden China, Xi Jinping, namun menilai sang pemimpin Negeri Tirai Bambu itu sangat sulit diajak mencapai kesepakatan. Pernyataan tersebut mengindikasikan kian rumitnya dinamika hubungan dagang antara dua negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia itu.

Komentar Trump ini diyakini berkaitan erat dengan kebijakan tarif dan perdagangan antara AS dan China. Bukan hal baru, ketegangan kedua negara telah lama mempengaruhi stabilitas ekonomi global dan menciptakan efek domino terhadap berbagai instrumen investasi, termasuk pasar saham dan kripto.

Menurut Fahmi Almuttaqin, Analis dari platform investasi kripto Reku, pernyataan Trump hanya satu dari sekian banyak faktor yang tengah dicermati investor saat ini. Ia menyebut bahwa ketidakpastian arah kebijakan ekonomi makro Amerika dan Eropa menjadi isu utama yang membentuk arah pergerakan pasar ke depan.

“Saat ini, investor tengah menunggu rilis data tenaga kerja AS dan keputusan suku bunga dari Bank Sentral Eropa. Meskipun data inflasi PCE untuk bulan April menunjukkan kenaikan yang lebih rendah dari ekspektasi, kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi tetap ada. Hal ini terutama disebabkan oleh potensi dampak kebijakan tarif baru AS,” jelas Fahmi melalui hasil riset yang diterima TrenAsia, Jumat, 6 Juni 2025.

Selain itu, ketidakjelasan dari Federal Reserve (The Fed) terkait potensi penurunan suku bunga turut menambah ketegangan. Dalam pidatonya pada acara Konferensi Peringatan 75 Tahun Divisi Keuangan Internasional pada 2 Juni lalu, Ketua The Fed Jerome Powell belum memberikan sinyal yang jelas soal arah kebijakan suku bunga.

Ketegangan Dagang AS-China Semakin Meningkat

Faktor lain yang menjadi perhatian pasar adalah ketegangan baru dalam hubungan dagang AS-China. Beijing menuduh Washington telah melanggar kesepakatan dagang yang ada dengan memberlakukan pembatasan ekspor terhadap teknologi penting, seperti chip AI dan perangkat lunak desain chip. AS juga berencana mencabut visa bagi pelajar asal China, yang menambah gesekan dalam hubungan kedua negara.

Di sisi lain, pihak Amerika menuduh China tidak memenuhi komitmen ekspor mineral penting. Walaupun Presiden Trump meyakini komunikasi langsung dengan Xi Jinping dapat menurunkan tensi, belum ada tanda-tanda pasti bahwa pertemuan tingkat tinggi antara keduanya akan segera terlaksana.

Pasar Saham dan Kripto Bergerak Sideways, Minim Sentimen Baru

Dampak dari berbagai ketidakpastian tersebut turut tercermin pada pergerakan pasar saham dan kripto yang relatif stagnan dalam beberapa hari terakhir. Indeks Nasdaq dan Dow hanya mencatat fluktuasi kecil di bawah 0,35%. Bahkan, indeks S&P 500 pada perdagangan 4 Juni hanya mengalami kenaikan tipis sebesar 0,0074%.

“Volatilitas pasar kripto, terutama untuk aset-aset dengan kapitalisasi besar seperti Bitcoin dan Ethereum, juga cenderung rendah,” kata Fahmi. Ia menambahkan bahwa baik pasar saham AS maupun pasar kripto saat ini berada dalam fase "wait and see", menanti kejelasan lebih lanjut dari data ekonomi serta kebijakan moneter yang akan diambil oleh The Fed.

ETF Bitcoin Masih Dibanjiri Dana, Investor Tetap Percaya Diri

Menariknya, meskipun dinamika global tengah tidak menentu, kepercayaan investor terhadap aset kripto terutama Bitcoin masih tetap tinggi. Setelah Bitcoin mencetak rekor harga tertinggi terbarunya pada 23 Mei lalu, sempat terlihat adanya aksi ambil untung (profit taking). Namun, menurut Fahmi, aksi ini mulai mereda.

“Pada 4 Juni lalu, tepat setelah Trump membuat pernyataan soal Xi Jinping, aliran dana masuk neto ke ETF Bitcoin spot tercatat masih positif sebesar US$87 juta. Meskipun jumlahnya tidak besar, angka ini mengindikasikan bahwa investor AS tetap percaya pada potensi pertumbuhan Bitcoin,” jelas Fahmi.

Baca Juga: Harga Ethereum Melonjak 40 Persen saat Bitcoin Turun, Ini Penyebabnya

Indikator On-Chain Dukung Potensi Kenaikan Harga Bitcoin

Fahmi juga menggarisbawahi pentingnya memperhatikan indikator on-chain seperti MVRV Z-Score yang saat ini berada di kisaran 2,6. Indikator ini menunjukkan bahwa peluang kenaikan harga Bitcoin masih cukup terbuka dalam waktu dekat.

“Jika kenaikan tidak terjadi dalam beberapa minggu ke depan, kemungkinan besar pasar akan memasuki fase sideways seperti yang pernah terjadi pada pertengahan tahun 2019. Saat itu, fase bullish utama baru terjadi sekitar satu tahun setelahnya,” tambah Fahmi. Menurutnya, kecil kemungkinan saat ini merupakan awal dari fase bearish.

Dengan asumsi pasar masuk ke fase konsolidasi atau sideways, tren bullish saat ini justru bisa bertahan lebih lama. Ini memberikan peluang lebih besar bagi investor untuk masuk ke pasar secara bertahap dan memanfaatkan momentum yang ada.

Strategi DCA Jadi Pilihan Menarik di Tengah Ketidakpastian

Untuk para investor muda, terutama mereka yang baru memasuki dunia investasi aset digital, strategi dollar cost averaging (DCA) bisa menjadi pilihan yang cukup aman dan terukur. Strategi ini memungkinkan investor untuk mengakumulasi aset secara berkala dalam nominal yang tetap, terlepas dari fluktuasi harga pasar.

“Dengan strategi DCA, investor tidak perlu khawatir soal timing terbaik masuk ke pasar. Apalagi sekarang sudah banyak platform seperti Reku yang menawarkan fitur investasi otomatis dan diversifikasi melalui fitur ‘Packs’,” kata Fahmi.

Fitur "Packs" memungkinkan investor berinvestasi pada kumpulan aset kripto unggulan dan ETF saham AS dengan performa terbaik hanya dalam satu kali transaksi. Tidak hanya itu, fitur ini juga dilengkapi dengan sistem rebalancing otomatis yang akan menyesuaikan komposisi investasi sesuai dengan kondisi pasar terkini.

Generasi Muda Diimbau Tetap Rasional dan Melek Risiko

Fahmi menegaskan bahwa meskipun tren investasi di kripto kian diminati generasi muda, penting untuk tetap bersikap rasional dan tidak terbawa euforia sesaat. Pemahaman terhadap risiko dan perencanaan keuangan jangka panjang tetap menjadi kunci keberhasilan dalam berinvestasi.

“Situasi geopolitik dan ekonomi makro global bisa berubah sewaktu-waktu. Oleh karena itu, disiplin dalam strategi investasi seperti DCA, diversifikasi portofolio, serta pemanfaatan fitur-fitur pintar dari platform yang terpercaya, akan sangat membantu investor pemula untuk tetap berada di jalur yang benar,” tutup Fahmi.