Kenali Green Crowdfunding, Belajar dari Trine hingga Bizhare
- Green Crowdfunding tawarkan imbal hasil hingga 18%. Kenali pemain global seperti Trine dan Ecoligo, serta platform lokal Bizhare sebelum mulai investasi.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Di tengah gejolak pasar saham dan ketidakpastian ekonomi global sebuah instrumen investasi alternatif mulai mencuri perhatian investor ritel. Bukan aset kripto maupun saham gorengan yang penuh risiko melainkan Green Crowdfunding atau layanan urun dana yang berfokus pada proyek ramah lingkungan.
Fenomena ini bukan sekadar tren gaya hidup kaum urban yang sadar akan isu perubahan iklim semata. Ini merupakan pergeseran besar dalam alokasi modal di mana investor ritel kini dapat membiayai transisi energi global dengan modal terjangkau setara harga secangkir kopi.
Platform urun dana hijau menawarkan proposisi nilai yang sebelumnya dianggap mustahil bagi pemodal kecil atau ritel. Instrumen ini menjanjikan peluang keuntungan finansial kompetitif sekaligus dampak ekologis nyata menjadikan investasi ini jembatan ideal antara pragmatisme ekonomi dan idealisme menjaga kelestarian bumi.
1. Benchmark Pemain Global
Di kancah global nama-nama seperti Trine asal Swedia dan Ecoligo dari Jerman telah menjadi rujukan utama industri ini. Mereka fokus mendanai proyek energi surya di pasar negara berkembang dengan model bisnis berbasis pinjaman atau crowdinvesting yang transparan bagi investor.
Pemain lain seperti Abundance Investment di Inggris memelopori obligasi daerah untuk infrastruktur hijau dan perumahan sosial ramah lingkungan. Sementara itu Lendahand dari Belanda menyasar segmen UMKM di negara berkembang yang memiliki misi sosial dan lingkungan yang kuat serta terukur dampaknya.
Platform-platform ini menawarkan transparansi metrik dampak yang sangat rinci seperti jumlah emisi karbon yang berhasil dihindari. Keberhasilan Ecoligo masuk ke pasar Asia Tenggara seperti Vietnam menjadi tolok ukur menarik bagi perkembangan ekosistem investasi hijau di kawasan ini di masa depan.
2. Peta Pemain Lokal
Di Indonesia belum banyak platform Securities Crowdfunding yang seratus persen mendedikasikan diri khusus untuk proyek hijau. Namun pemain lokal berizin OJK seperti Bizhare mulai aktif menerbitkan proyek bisnis yang mengarah pada aspek keberlanjutan atau sustainability dalam portofolio investasi mereka.
Bizhare seringkali memfasilitasi pendanaan untuk bisnis franchise F&B maupun sektor pengolahan limbah yang memiliki konsep ramah lingkungan. Langkah ini membuka akses bagi investor ritel domestik untuk mulai mencicipi kue investasi hijau meski ekosistemnya belum sekompleks pasar maju di Eropa.
Tantangan bagi pemain lokal adalah menyeimbangkan antara suplai proyek hijau yang berkualitas dengan permintaan investor yang tinggi. Absennya pemain global yang belum agresif masuk ke pasar Indonesia juga menjadi celah peluang bagi platform lokal untuk mendominasi ceruk pasar potensial ini.
3. Potensi Imbal Hasil Tinggi
Salah satu kesalahpahaman terbesar mengenai investasi hijau adalah anggapan bahwa ini merupakan kegiatan filantropi semata. Data justru menunjukkan sebaliknya bahwa ini adalah bisnis murni dengan kalkulasi risiko dan imbal hasil atau return yang sangat ketat dan menarik secara finansial.
Di pasar Eropa imbal hasil proyek energi surya via crowdfunding berkisar antara 5 hingga 9 persen. Sementara di Indonesia beberapa proyek efisiensi energi yang terdaftar resmi di OJK menawarkan proyeksi dividen tahunan yang jauh lebih menggiurkan di kisaran 12 hingga 18 persen.
Angka tersebut jelas sangat kompetitif jika dibandingkan dengan imbal hasil Surat Berharga Negara ritel yang rata-rata di kisaran 6 persen. Daya tariknya terletak pada aset dasar riil seperti sinar matahari yang tidak terpengaruh inflasi maupun sentimen pasar saham yang sedang lesu.
4. Risiko Likuiditas dan Gagal Bayar
Meski menawarkan potensi keuntungan tinggi investor tetap harus waspada terhadap risiko yang mengintai di balik narasi optimis tersebut. Berbeda dengan saham blue chip yang sangat likuid investasi di SCF umumnya tidak likuid dan dana investor akan terkunci dalam jangka waktu tertentu.
Dana investor biasanya tertahan selama tenor proyek berlangsung yang bisa memakan waktu satu hingga lima tahun lamanya. Pasar sekunder untuk instrumen ini di Indonesia masih dalam tahap embrio sehingga opsi exit atau pencairan dana sebelum jatuh tempo menjadi sangat terbatas.
Selain itu risiko proyek mangkrak atau kegagalan bisnis juga menjadi momok nyata yang harus disadari sejak awal. Investasi ini bukan tabungan yang dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan atau LPS sehingga investor harus siap menanggung risiko kehilangan modal jika proyek gagal.
5. Ancaman Greenwashing
Tantangan terbesar lainnya dalam ekosistem Green Crowdfunding saat ini adalah validasi dampak lingkungan dan risiko greenwashing. Tanpa standar audit yang ketat label "hijau" bisa saja disematkan secara sembarangan oleh penerbit efek hanya sebagai gimmick pemasaran untuk menarik minat investor.
Asimetri informasi seringkali terjadi di mana investor ritel tidak memiliki kapasitas memadai untuk memverifikasi klaim tersebut. Apakah sebuah proyek benar-benar mengurangi emisi karbon secara signifikan atau hanya klaim sepihak tanpa dasar data yang valid menjadi pertanyaan yang sulit dijawab investor awam.
Oleh karena itu investor dituntut untuk lebih kritis dan jeli dalam membedah prospektus bisnis yang ditawarkan. Jangan mudah terbuai oleh label ramah lingkungan semata namun pastikan ada transparansi pelaporan dampak yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan moral.

Alvin Bagaskara
Editor
